The Call (2020): Dering Teror Lintas Dimensi

0
145
The Call (2020): Dering Teror Lintas Dimensi

Tragedi di masa lalu mudah melekat kuat dalam benak manusia, terlebih jika itu berkaitan dengan hidup-mati orang terdekat. Memori tersebut takjarang kembali membangkitkan lara dan sesal yang mungkin sudah lama tertidur. Bila masih menyangkal kenyataan, sebagian orang melarikan diri dalam khayal masa lalu yang ideal. Dalam film The Call (2020), Lee Chung-hyun menciptakan kengerian dari masa lalu yang terus-menerus meneror manusia dalam lintas waktu dan dimensi.

Kisah film ini dibuka dengan perjalanan pulang seorang gadis yatim, Kim Seo-yeon, menuju kampung halamannya untuk menjenguk ibunya yang sakit. Setibanya di rumah sang ibu, Seo-yeon langsung mencari telepon nirkabel berwarna hitam dan memakainya untuk melacak posisi ponselnya yang belum lama tertinggal di kereta. Langkah ini takmenuai hasil dan malah membawa Seo-yeon ke peristiwa aneh: ia ditelpon wanita takdikenal yang mengaku taktahan disiksa ibunya sendiri.

Usai menggeledah barang-barang di rumah ibunya dan bertanya ke orang terdekat, Seo-yeon sukses menyingkap identitas wanita misterius yang menghubunginya. Ia adalah Oh Young-sook, gadis muda yang lebih dulu menghuni rumah ibu Seo-yeon pada tahun 1999 atau dua puluh tahun silam dari masa Seo-yeon sekarang. Komunikasi ajaib lintas waktu antara Seo-yeon dan Young-sook dikisahkan terjadi lantaran keduanya memakai telepon nirkabel warna hitam yang sama.

Lalu, hubungan dua gadis yang sama-sama berusia 28 tahun ini bertambah erat seiring meningkatnya intensitas waktu mengobrol. Kedekatan Seo-yeon dan Young-sook ternyata menuntun keduanya ke lembaran takdir baru. Lewat sambungan telepon, mereka mulai bersekongkol untuk menghalangi kejadian buruk dalam hidup masing-masing.

Young-sook berniat menyelamatkan nyawa ayah Seo-yeon dari peristiwa kebakaran di tahun 1999, sementara Seo-yeon coba membantu Young-sook agar lepas dari kekejaman ibu tirinya. Dua rencana ini takdisangka-sangka mengubah alur kehidupan dan hubungan mereka secara drastis. Seo-yeon dan Young-sook juga dihadapkan pada konsekuensi menakutkan usai mencurangi takdir masing-masing.

Angan Manusia untuk Bebas dari Nestapa

The Call (2020): Dering Teror Lintas Dimensi

Film The Call (2020) menampilkan upaya manusia dalam menemukan kebahagiaan tanpa cela. Para tokoh digambarkan menyangkal kenyataan pahit dan gelap dalam kehidupan masing-masing. Seo-yeon masih dibayangi kematian tragis sang ayah 20 tahun silam, sedangkan Young-sook merasa kebebasannya direnggut oleh ibu tirinya sendiri.

Saat bersinggungan lewat telepon, kedua tokoh melihat harapan untuk memulai hidup baru yang ideal. Telepon tersebut lalu mengabulkan mimpi yang selalu mereka bisikkan dalam hati. Seo-yeon mendapatkan kembali ayahnya, Young-sook nikmati hidup bebas tanpa cengkeraman ibu tirinya. Semuanya terasa indah hingga suatu ketika mimpi-mimpi semu ini berbalik meminta bayaran.

Seo-yeon yang tengah berbahagia karena keluarganya kembali utuh tiba-tiba dihadapkan pada realita baru, pamannya, Seong-ho, lenyap tanpa jejak. Setelah dilakukan penyelidikan, Seong-ho ternyata tewas dua puluh tahun silam usai dibunuh Young-sook yang baru terbebas dari siksaan ibu tirinya. Hal ini lantas merusak pertemanan Seo-yeon dan Young-sook.

Melalui rangkaian adegan tersebut, sutradara Lee Chung-hyun seolah-olah menyiratkan pesan bahwa hidup tanpa nestapa adalah hal yang takmungkin dicapai manusia. Setiap orang hanya mampu memaknai arti kebahagiaan sejati usai merasakan duka. Hidup Seo-yeon dan Young-sook justru nampak dipenuhi kekalutan saat mereka menjalani mimpi semu tanpa jerat kemalangan. Penyebabnya taklain karena mereka enggan memetik pelajaran dari sejarah kelam kehidupan masing-masing.

Di samping itu, The Call juga memuat pesan terkait penerimaan diri (self acceptance). Seo-yeon terus dilanda trauma lantaran belum memaafkan kesalahan dirinya di masa lalu. Penolakan tersebut meninggalkan luka pada batinnya. Ia baru menyadari makna penerimaan diri usai melihat kasih sayang yang dicurahkan ibunya tanpa henti. Kemalangan di masa dahulu, pada akhirnya, mengingatkan Seo-yeon bahwa dirinya dilimpahi cinta yang tulus dari orang-orang sekitar.

Penonjolan Karakter yang Ditampilkan Secara Humanis

The Call (2020) Penonjolan Karakter yang Ditampilkan Secara Humanis

Lee Chung-hyun tidak meramu naskah The Call (2020) murni dari ide dan imajinasinya sendiri. Kisah The Call sejatinya diangkat dari film Inggris-Puerto Rico tahun 2011 karya Matthew Parkhill berjudul The Caller. Meski demikian, Lee memperbarui sejumlah aspek agar filmnya terasa segar dan relevan bagi penonton.

Contoh elemen yang ditambahkan Lee Chung-Yun pada The Call adalah penonjolan tokoh Yoong-sook. Dalam film aslinya, The Caller, rupa penelpon misterius takpernah dimunculkan hingga cerita berakhir. Parkhill diketahui hanya menghadirkan suara sang penelpon di sepanjang film.

Sementara itu, The Call menampilkan Yoong-sook sebagai penelpon secara gamblang. Tokoh ini digambarkan sebagai perempuan psikopat yang taksegan berbuat ekstrem kepada siapa pun yang menghalangi jalannya. Lee sang sutradara mengaku tertarik menciptakan karakter wanita yang kuat layaknya tokoh-tokoh film Kill Bill garapan Quentin Tarantino.

“Aku mengagumi kisah tentang karakter wanita tak stabil yang mengacaukan tatanan dunia,” ujar Lee kepada The Korea Herald dalam sebuah sesi wawancara via Google Meet, dikutip dari The Jakarta Post (3/12/2020).

Penokohan Yoong-sook yang menonjol terasa memengaruhi cara pandang penonton dan ketegangan konflik cerita. Penonton seolah-olah diberi kesempatan menilai sosok Yoong-sook secara utuh. Kita dapat merasakan kepiluan kisahnya sebagai anak tiri yang teraniaya maupun sebagai sosok pembunuh keji. Perjuangan Seon-Yeon untuk “merebut” masa depannya juga terasa sulit karena dirinya berhadapan dengan karakter berkemauan kuat seperti Yoong-sook.

Keintiman Dunia Ibu-Anak Ala Lee Chung-hyun

The Call (2020): Dering Teror Lintas Dimensi

Hal unik lainnya yang disematkan Lee pada film The Call (2020) adalah keintiman dunia ibu-anak. Ia menyajikan hal tersebut lewat tokoh ibu tiri Yoong-sook yang diketahui takada di film aslinya. Karakter ini dimunculkan sebagai dukun modern yang mampu membaca masa depan. Menurut Lee, tokoh tersebut sangat cocok dengan elemen fantasi film The Call berupa perjalanan waktu.

Sosok ibu tiri Yoong-sook secara tak langsung menguatkan potret kontras kehidupan Yoong-sook dengan Seo-yeon. Meski sama-sama dibesarkan orang tua tunggal, keduanya dididik dengan cara yang amat berbeda. Yoong-sook mengalami masa muda yang berat lantaran kerap disiksa oleh sang ibu, sedangkan Seo-yeon dibesarkan dengan penuh kelembutan dan kasih sayang. 

Sifat antisosial Yoong-sook turut dibentuk oleh sikap intimidatif dan protektif ibu tirinya. Lantaran sering terisolasi di rumahnya, Yoong-sook sulit menaruh simpati dan memahami kondisi orang lain. Pembunuhan yang ia lakukan memperlihatkan nuraninya telah menghitam dan mati. Sementara itu, kehidupan Seo-yeon terbilang normal karena dirinya tumbuh dalam dekapan cinta sang ibu.

Pengontrasan dua latar kehidupan ini memuat pesan bahwa dunia ibu dan anak sangatlah dekat. Kepribadian dan cara pandang anak terhadap dunia amat dipengaruhi oleh cara didik para orang tua. Di dalam film The Call, sikap dan perlakuan ibu digambarkan memengaruhi takdir serta keputusan anak dalam menentukan jalan hidupnya.

The Call (2020) pada akhirnya takhanya menjual keunikan konsep teror lintas waktu. Film ini memuat kisah pergulatan manusia untuk menerima diri dan lepas dari masa lalu. Lewat The Call, Lee juga menyorot kekuatan setiap ibu yang mampu mengubah dunia anak selama-lamanya.

Infografik The Call (2020): Dering Teror Lintas Dimensi
Infografik Film The Call (2020)

Baca juga Review Film Start-Up (2019): Sebuah Komedi Satire

Penulis: Farhan Iskandarsyah

Penyunting: Anggino Tambunan