10 Film Terbaik 2023

0
65

Tahun 2023 menjadi tahun yang meriah untuk dunia sinema. Kala film-film pahlawan super mulai surut, film-film unggulan menjawabnya dengan dahsyat. Bukan hanya nama-nama lama seperti Martin Scorsese dan Christopher Nolan yang berkibar, sineas-sineas baru juga memberikan raungannya. Ini dia 10 film terbaik rilisan 2023 versi ulasinema.

10. Anatomie d’une Chute / “Anatomy of a Fall”

Dengan kamera yang menghasilkan gambar berbulir serupa handycam amatir, Justine Triet menyodorkan penceritaan yang tidak amatir sama sekali. Lain dengan drama kriminal yang terlalu tergesa-gesa dalam mempertajam adegan-adegannya, film ini terkesan santai dan justru lebih realistis: saat tokoh utamanya mengaku berbohong kala ia jadi tersangka utama kematian suaminya, masihkah kita berempati kepadanya? Pada akhirnya, penulisan skenario yang brilian dan hasil akhir film ini yang apik sangat layak menangi Palme d’Or 2023 silam.

9. Poor Things

Poor Things (2023) karya Yorgos Lanthimos

Dengan menggerakkan pion sempurnanya dalam diri Emma Stone, Yorgos Lanthimos menciptakan kisah Frankenstein/Pinokionya dalam Poor Things. Karakter utama, Bella, menggambarkan evolusi sempurna perempuan dalam kerangkeng patriarki. Kala pertanyaan-pertanyaan filosofis dalam film ini menjengkelkan, hal yang takbisa dimungkiri ialah citranya yang paripurna: pewarnaan yang berani dan memikat, kegilaan kostum dan latar klasik nan steampunk, hingga komposisi yang tiada cela. Film ini karya termasyhur Lanthimos.

8. 君たちはどう生きるか / “The Boy and the Heron”

The Boy and the Heron (2023) karya Hayao Miyazaki

Hayao Miyazaki memulai proyek ini usai tarik-ulur dengan masa pensiunnya dan tanpa lampu hijau dari Ghibli. Mungkin ini jalan terbaik agar ia bisa lebih leluasa berkarya dalam The Boy and the Heron yang mungkin jadi film terkompleksnya. Bermain dengan ruang, waktu, dan ketuhanan yang ditambah dunia realis-fantastis ciri khasnya, inilah karya termatang dari sineas yang telah mempertajam kemampuannya selama setengah abad.

7. Spider-Man: Across the Spider-Verse

Spider-Man: Across the Spider-Verse (2023) karya Joaquim Dos Santos, Justin K. Thompson, dan Kemp Powers

Di balik kontroversi di belakang layar, sekuel dari Into the Spider-Verse ini menciptakan tontonan yang lebih besar, lebih ramai, dan lebih meledak-ledak dari film pertamanya. Duet Lord & Miller menuntut kesempurnaan, terutama dalam detail animasi pop-art yang mencengangkan. Takbisa dimungkiri, dalam durasi 140 menit tersebut, kita benar-benar terperangkap dalam alunan seni multisemesta dengan iringan musik yang mendekap kita dengan decak kagum.

6. Oppenheimer

Salah satu fenomena terbesar sinema 2023 bersama dengan Barbie, Oppenheimer menjawabnya dengan kualitas yang fenomenal. Ambisi terbesar Christopher Nolan ini berbuah ledakan spektakuler: efek visual praktikalnya mempesona dengan tangkapan gambar yang membuat jantung berdebar. Adegan-adegan dirancangnya dengan piawai. Walau dialognya kadang terkesan terburu-buru, tetapi efek super-was-was film ini hampir tiada tara, terutama aktor utama Cillian Murphy yang sukses menularkan kegelisahan tersebut sepanjang tiga jam yang mendebarkan.

5. All of Us Strangers

All of Us Strangers (2023) karya Jonathan Glazer

Dibanding para “pesaingnya” dalam daftar ini, film karya Andrew Haigh ini berada di bawah radar, tetapi dari segi kualitas film ini bisa bersaing. Dalam karya adaptasi dari novel Jepang berjudul Strangers ini, Haigh memblurkan garis realitas dan halusinasi dan mengajak kita mengawang dalam duka masa lalu karakter utamanya. Adegan-adegannya dibangun begitu intim dengan duet apik dari Andrew Scott dan Paul Mescal yang seperti tahu betul cara meromantisasi kesedihan.

4. The Zone of Interest

The Zone of Interest (2023) karya Jonathan Glazer

Keleluasaan memalsukan grafik membuat para pembuat film horor menjelajahi adegan kekerasan, tetapi ini takdilakukan oleh Jonathan Glazer di film ini. Dalam film teror Auschwitz-nya, sang sineas justru menampilkan keluarga Nazi yang sangat normal, bahkan terlalu normal, layaknya hidup di utopianya sendiri di samping benteng tempat pembantaian. Dengan visual halaman belakang yang indah dan keluarga yang makmur, Glazer menghidupkan teror dari suara-suara pembantaian di rumput tetangga yang memberikan perasaan kontradiktif yang menjijikan.

3. Killers of the Flower Moon

Killers of the Flower Moon karya Martin Scorsese

Ketika seorang master sinema mendapatkan materi yang dahsyat, diajak berkelana tiga setengah jam pun akan kita sanggupi. Inilah yang ditawarkan Martin Scorsese dalam Killers of the Flower Moon: sebuah sejarah kelam yang menyuburkan negeri Paman Sam. Dengan sudut pandang tersangka pembantaian suku Osage, Scorsese menyerang kita dengan pertanyaan: haruskah kita berempati kepada tokoh utama?

Dalam durasi panjangnya, rasanya film ini jadi rangkaian kisah terbaik yang pernah diceritakan sang sineas; dibantu dengan skenario apik dari Eric Roth. Walau dalam sudut pandang tersangka, Scorsese bisa memilin film dengan gaya investigatif yang menarik dan bermacam-macam tembakan gambar yang memikat dari Rodrigo Prieto. “Trinitas” pemeran utamanya  (Leonardo DiCaprio, Lily Gladstone, dan Robert De Niro) pun punya peranan menarik masing-masing dan tampil brilian.

2. Past Lives

Past Lives (2023) karya Celine Song

Saat master-master sinema lama perlahan melantunkan swan song-nya pada 2020-an ini, master-master baru terlahir. Tahun lalu, kami menilai Aftersun, karya debut Charlotte Wells, sebagai film terbaik tahun 2022. Kini, Celine Song, dengan karya debutnya, Past Lives, menempati peringkat kedua daftar kami.

Layaknya Aftersun, Past Lives menanam runyamnya hidup yang sangat dekat dengan kita. Romantismenya dibangun dari dialog-dialog sederhana dan gestur karakternya yang menyulut emosi kita dari fantasi yang terpendam. Mungkin, inilah yang sedikit dilupakan sineas-sineas masa kini dengan cerita fantastisnya: mereka lupa menjadi dekat dengan penonton dapat mencungkil emosi yang lebih dalam. Kita ingin merasakan suara-suara kehidupan dan Song dalam film ini melantunkan andai-andainya dengan jernih.

1. Budi Pekerti

Budi Pekerti (2023) karya Wregas Bhanuteja

Apakah menjadi Indonesia dalam sinema modern itu harus terbelit dengan teror-teror hantu, mengulang kisah lama, atau mengadaptasi kisah-kisah dan norma luar? Rasanya, Wregas Bhanuteja dalam Budi Pekerti menjawab pertanyaan itu. Kisahnya film ini tentang guru asal Yogyakarta yang dirundung di media sosial karena salah satu adegan hidup ketika ia keluar dari norma sehari-harinya. Peristiwa film ini pun terasa sangat relevan, tragedi modern yang bisa terjadi, bahkan di keluarga tradisional.

Layaknya Penyalin Cahaya, Bhanuteja menjabarkan kisah ini dengan gaya investigatif. Dari karya keduanya ini kita bisa lihat kehebatannya dalam membangun tempo, baik itu untuk mempercepat untuk membangun ketegangan atau memperlambat untuk menciptakan keintiman. Para karakternya dibuat dengan konkret dan punya misi masing-masing untuk menghadapi masalahnya. Dalam arahan hebat Wregas, para aktornya pun tampil brilian, terutama Sha Ine Febriyanti yang layak mendapatkan sanjungan terbesar untuk aktingnya dalam film ini. Budi Pekerti merupakan karya definitif sinema Indonesia.

Baca juga: 10 Film Terbaik 2022

Penulis: Muhammad Reza Fadillah
Penyunting: Anggino Tambunan