Review Film Bumi Manusia (2019): Belum Adil dalam Perbuatan

1
366

“Seorang terpelajar harus sudah berbuat adil sejak dalam pikiran, apalagi dalam perbuatan,” seperti itulah dialog Jean Marais terhadap Minke. Dialog ajaib ini juga dipentaskan dengan kamera oleh Hanung Bramantyo dalam Bumi Manusia. Sayangnya, film terbaru Hanung ini belum adil dalam perbuatan.

Alih wahana memang selalu menjadi tantangan tersendiri bagi para pelakunya. Kali ini, pelakunya, yaitu Hanung Bramantyo sebagai sutradara dan Salman Aristo sebagai penulis skenario film Bumi Manusia. Ya, Bumi Manusia berasal dari novel karangan Pramoedya Ananta Toer, yang disebut-sebut sebagai karya sastra terbaik Indonesia.

Selain sang sutradara dan penulis skenario, tentu masih banyak pelaku-pelaku alih wahana Bumi Manusia lainnya. Namun, bisa dibilang Hanung dan Salman merupakan dalangnya. Orang yang bertanggung jawab atas segala perkara dalam film, entah itu baik maupun buruk. Pastinya, mereka berdua sudah bisa dianggap “terpelajar” karena sudah mengenyam pendidikan hingga tingkat tertinggi.

iqbaal ramadhan, mawar de jongh dalam bumi manusia

Ada banyak perkara sulit yang harus dilalui oleh sang penulis skenario serta sang sutradara itu sendiri. Pertama, tentunya beban kualitas yang dimiliki oleh novel karangan Pramoedya (Pram). Pengalihwahanaan novel hebat ke bentuk film tentu memegang beban dari masyarakat, terutama dari para pembaca novelnya, yakni harus sehebat novelnya. Selain itu, novel Bumi Manusia tidak pendek, merangkumnya menjadi film pasti sulit. Bagaimana Salman memangkas novel agar tidak molor durasinya pun sulit. Inilah dua beban utama yang hadir sebelum film tayang.

Produksi film ini pun terlihat sangat berat. Dikabarkan, film Bumi Manusia harus uji tayang hingga 10 kali untuk mendapatkan hasil terbaik. Rasanya, jika terus berkutat pada masalah yang harus dihadapi film tanpa berani eksekusi, hasilnya pun bisa menjadi nol. Film produksi Falcon Pictures ini pun beranikan diri tayang pada tanggal 15 Agustus 2019, berdekatan dengan perayaan hari kemerdekaan Indonesia.

Hal unik sebelum film tayang, yaitu dinyanyikannya lagu “Indonesia Raya” dan mengajak para penonton di bioskop untuk berdiri. Tujuannya film untuk membangun rasa nasionalisme pun terlihat. Hal ini semakin diamini dengan pembukaan film dengan lagu “Ibu Pertiwi” yang dinyanyikan Iwan Fals. Rasa itu semakin melekat ketika film berusaha keras menunjukkan rekonstrusinya akan Indonesia tempo dulu.

Usaha keras film ini dirasa terlalu memaksa sebab penampilan adegan terasa tidak natural. Mulai dari perbincangan Minke (Iqbaal Ramadhan) dan Robert Suurhof (Jerome Kurnia) di kota Surabaya serta perbincangan Minke dengan Annelies Mellema (Mawar de Jongh) di Wonokromo. Kesan tidak ingin buang-buang adegan pun terasa, atau memang akting kurang baik dari para pemerannya membuat adegan tidak dibuat panjang.

Dalam beberapa menit awal, pemotongan adegan yang serbacepat membuat pusing. Belum lagi banyaknya properti film, seperti cat kediaman Mellema yang terlalu silau dengan kontras aneh. Segala kekurangan pada awal film ini diselamatkan oleh kedatangan Annelies. Selain tuntutan untuk mendramatisasi roman antara Minke-Annelies, pusat cerita yang difokuskan oleh film Bumi Manusia memang ada dalam hubungan kedua remaja ini.

sha ine febriyanti, mawar de jongh dalam film bumi manusia

Fokus cerita yang ingin ditampilkan Hanung mulai terlihat, tetapi sutradara ini sepertinya ingin sangat setia kepada novelnya. Kesetiaan ini pun membuat penonton yang sudah membaca novelnya, sulit untuk tidak membandingkan dua karya ini. Alur cerita tidak ada yang terlalu berbeda dalam novel, kecuali pemindahan pertemuan antara Minke dan Sarah (Dorien Verdouw) serta Miriam de la Croix (Salomé van Grunsven). Penyebab adegan ini dipindahkan sepertinya untuk keperluan durasi film. Adegan diringkas, disatukan dengan adegan kembalinya Minke menjadi murid di HBS setelah dikeluarkan.

Selain adegan tersebut, banyak adegan yang dipangkas untuk kepentingan durasi. Hal ini pun berimbas pada minimnya para pemerannya berlakon dan waktu untuk mendramatisasi adegan. Dramatisasi singkat, hal ini ditambal oleh skoring terlalu keras yang justru merusak dialog dan nuansa adegan. Padahal, para pemeran tampil sangat baik. Iqbaal yang melekat dengan sosok Dilan dalam dirinya memang pas untuk perankan Minke. Kedua karakter punya watak yang mirip, pemuda pemikir yang punya ego dan jiwa pemberontak. Selain itu, pemilihan para aktornya pun sangat pas, terutama Mawar de Jongh sebagai Annelies. Bisa dikatakan, hampir tidak ada pemeran Bumi Manusia yang tampil buruk.

Pemangkasan ini juga tidak berlaku adil pada para tokoh-tokoh pendukung. Dimulai dari Jean Marais (Hans de Kraker) yang dalam novelnya disebutkan sebagai sahabat Minke. Dalam film, adegan Minke bersama Jean Marais minim. Otoritas Minke untuk menganggap Jean sebagai sahabatnya sulit diterima sebab karakter ini hadir hanya untuk menggurui Minke sesekali saja. Dalam novelnya, Minke sering bertukar pikiran dengan Jean. Begitu juga Minke yang habiskan waktu banyak untuk bertukar pikiran dengan Nyai Ontosoroh serta Miriam dan Sarah. Alih-alih penopang untuk berlangsungnya cerita, beberapa tokoh tambahan justru hanya jadi pendukung agar cerita tetap berjalan.

Kesetiaan pada novel justru membuat film kebingungan fokus pada pertengahan kisah. Pada awal film, kegemaran menulis Minke ditunjukkan sangat minim. Tiba-tiba, pada pertengahan Minke dituduh cerdas setelah menulis dengan nama Max Tollenaar. Lalu, secara tiba-tiba lagi, Minke jadi banyak menulis pada adegan persidangan. Keseimbangan cerita pun agak kacau.

Lagi-lagi Annelies jadi penyelamat. Tokoh yang memang digambarkan pasif pada bagian akhir film ini membuat adegan akhir sangat hebat. Kepergiannya dari Wonokromo dibuat dengan tempo lambat, perlahan-lahan mencapai puncak hingga mencabik-cabik hati penonton. Satu-satunya adegan yang dikemas sangat baik dan layak disandingkan kualitasnya dengan novel hebatnya.

Secara keseluruhan, menilai Bumi Manusia sebagai film yang mandiri sangat sulit. Hal ini disebabkan oleh penulis skenario dan sutradara yang begitu setia pada novelnya. Bagaimanapun, kerja keras tim produksi film epik ini layak diapresiasi. Terutama para pemerannya yang tampil maksimal.

Baca juga: Review Film Blood Quantum (2019): Pribumi Amerika Melawan Zombi

Penulis: Muhammad Reza Fadillah
Penyunting: Anggino Tambunan