Review Film Nope (2022): Peele Menahan-nahan

0
51
Review Film Nope (2022): Jordan Peele Menahan-nahan

Jordan Peele membuka lembaran baru dalam dunia penuh teror melalui karya terbarunya, Nope. Masih dalam kekacauan yang perlahan mencapai level kegilaan, kali ini Peele bermain dengan makhluk ekstraterestrial. Sedikit berbeda dari Get Out (2017) dan Us (2019), Nope punterasa lebih menyenangkan dan memberi hiburan yang seru.

Belum puas dengan kisah horor gila yang ditampilkan dalam dua film sebelumnya, Peele rasanya masih punya kotak kegilaan lainnya yang ia simpan. Kali ini, ia bermain dengan sesuatu yang ekstraterestrial, fenomena yang belum terungkap kebenarannya hingga sekarang. Latarnya pun di tempat sepi sehingga kewarasan karakter-karakternya dalam melihat serta menyingkap kejanggalan akan dipertanyakan.

Setidaknya kegilaan ini juga muncul dalam Get Out dan Us, tetapi batas kenyataan dalam Nope rasanya dimainkan dalam alam yang lebih blur. Dari sisi-sisi alam yang kering dan kosong, tembakan-tembakan Hoyte van Hoytema jadi modal andalan. Kamera IMAX-nya tampilkan visual yang indah nan apik. Rasanya, sajian visual film ini merupakan yang terbaik dari Peele.

Daripada kegilaan, mungkin ide yang ditawarkan oleh Peele merupakan keisengan atau mungkin keputusasaan karakternya untuk keluar dari kesulitan finansial. Merasionalkan hal di luar nalar dan melakukan hal gila dengan taruhan nyawa pun menjadi jawaban dari kesulitan OJ Haywood (Daniel Kaluuya) dan Emerald Haywood (Keke Palmer).

Peele pun kembali menawarkan absurditas dalam ide segarnya. Selain gerak-gerik pemainnya yang agak komikal seperti film-film sebelumnya, ada ide baru yang takkonvensional mengenai alien dalam film ini. Mulai dari bentuk takterduganya, naluri hewani dari makhluk aneh tersebut, hingga cara makhluk ini mencerna makanannya yang ditampilkan dalam cara yang menjijikan.

Mengenai kejijikan, rasanya ada unsur yang ditahan-tahan oleh Peele di sini. Memperlihatkan alien mencerna manusia memang sangat mengganggu, tetapi ia taksepenuhnya menunjukkan sisi tersebut. Terlihat dalam beberapa adegan yang bisa menjadi sangat-sangat menjijikan, Peele memilih untuk takmenampilkannya. Terornya pun muncul dari suara sehingga penonton diminta untuk lebih menggunakan imajinasinya untuk memvisualkannya.

Dari poin ini pun terlihat hal yang ingin dicapai oleh Peele dalam Nope ini. Nuansa filmnya yang lebih segar akhirnya pun bertransformasi layaknya blockbuster. Adegan klimaks diatur lebih seperti film tegangan alih-alih horor. Sepertiga akhirnya pun dirangkai dengan rencana besar yang terlihat ingin memberi kepuasan kepada penonton.

Visualisasi dalam adegan tersebut tetap membuat kita gelisah dan terus was-was untuk diajak melihat ke atas. Van Hoytema terlihat sangat menikmati fase-fase akhir ini dalam setiap tembakan indahnya. Di antara semuanya, visualisasi paling indah mungkin tampil dari efek visual dalam transformasi terakhir monster/alien yang dipanggil sebagai “Jean Jacket” dalam film ini.

Seiring dengan berkembangnya film, kita pasti makin bertanya-tanya, apa yang coba direpresentasikan Jean Jacket dalam film ini. Para manusia mencoba untuk menjadi yang pertama untuk menangkap wujud alien ini walaupun makhluk ini bersifat karnivora. Di tengah segala aksi akhirnya yang seru dan megah dalam aspek visual maupun tata suara, Peele membuat kita penasaran dengan metafora di balik Jean Jacket.

Kebingungan di atas pun dapat mempertebal Nope ini, tanpa kita perlu bisa menangkap maksudnya atau tidak. Di samping itu, dari ide-ide segar yang ia tawarkan, rasanya, ini film Peele yang takperlu terlalu ruwet untuk kita simak. Visual mahacantik, penataan suara apik, serta terdapat makna yang bisa dibolak-balik, Nope merupakan salah satu penawaran terbaik dari dunia sinema pada musim panas ini.

Infografik Review Film Nope (2022): Peele Menahan-nahan oleh ulasinema

Baca juga: Us (2019) – Mendobrak Stereotipe dan Kasta Sosial

Penulis: Muhammad Reza Fadillah
Penyunting: Anggino Tambunan