A Rainy Day in New York (2019): Mencipta Romantis

0
699
Analisis A Rainy Day in New York oleh ulasinema

Lain pengarang lain pula cara mengekspresikan luapan rasa, termasuk menciptakan suasana romantis. Usaha tersebut kita dapati pada karya terbaru Woody Allen. Dalam A Rainy Day in New York sineas ini punya caranya tersendiri untuk berekspresi. Citra romantis dan guyuran hujan kota berpenduduk 8 jutaan menjadi pilihan Woody untuk menuturkan kisah romansa film ini.

Ada cerita unik soal Woody dan kota New York. Woody yang takpernah datang ke malam Oscar meski menjadi nomine beberapa kali tiba-tiba hadir pada malam Oscar 2002 untuk memperkenalkan “Love Letter to New York in the Movies” semacam usaha memulihkan mental dari tragedi teror 2001 di Amerika. Karena cintanya ke New York, ia datang malam itu—mungkin untuk malam itu saja.

New York dan sineas auteur ini merupakan hal yang identik. Banyak film Woody berlatar di New York, antara lain Annie Hall (1977) dan Manhattan (1979). Misalnya, dalam Annie Hall, adegan Alvy (Woody Allen) dan Annie (Diana Keaton) duduk berdua di bangku dengan latar Queensboro Bridge hingga kini terasa sangat ikonis.

Berbeda dengan film lawasnya, A Rainy Day in New York Woody menampilkan kota tersebut dalam situasi kekinian meski tokoh-tokoh di dalamnya tidak banyak gunakan ponsel pintar. Meski begitu, Central Park tetap menjadi pilih latar yang dikemas romantis oleh Woody. Pengujung kisah berada di taman umum yang memiliki luas 3,41 KM2  ini ditambah suasana buatan berupa rintik hujan.

Timothee Chalamet dan Elle Fanning dalam A Rainy Day in New York (2019)

Selain kota New York, beberapa kali kita mendapati latar hujan di film-film Woody. Woody kerap meminta bantuan latar hujan untuk mendramatisasi nuansa romantis. Gil (Owen Wilson), tokoh utama di Midninght in Paris (2011), sangat mencintai hujan. Ia rela basah di jalanan Paris. Hal ini berbeda dengan kekasihnya, Inez (Rachel McAdams) yang menghindari hujan.

Dalam Match Point (2005), Woody menciptakan adegan ciuman dan luapan hasrat antara Chris (Jonathan Rhys Meyers) dan kekasih gelapnya, Nola (Scarlett Johansson) di bawah guyuran hujan. Begitu pula adegan sekilas di Stardust Memories (1980), tokoh utama syuting di bawah hujan buatan dengan adegan berciuman. Secara tersirat, hujan memang menjadi pilihan Woody mencipta suasana romantik.

New York dan Hujan

Dalam A Rainy Day in New York, Woody masih menunjukkan nuansa romantis dengan kembali ke alam dan masa lalu. Woody menciptakan tokoh utama serupa dirinya yang sangat jadul: menyukai musik jazz, permainan kartu, dan selera yang takkekinian. Gatsby (Timothée Chalamet) sama sekali tidak terganggu dengan musim hujan di Manhattan. Di sisi lain, kekasihnya, Ashleigh (Elle Faning) sebal dengan hujan.

Dikisahkan, saat menemani Ashleigh mewawancarai seorang sutradara film ternama di Manhattan untuk kebutuhan koran kampus, Gatsby taksengaja bertemu dengan perempuan lain. Gatsby bertemu dengan Chan Tyrell (Selena Gomez), adik kekasihnya dulu. Berbeda dengan Ashleigh, Chan rela basah di bawah guyuran hujan. Hal ini mengingatkan kita pada adegan di Midnight in Paris. Gil bertemu dengan Gabrielle (Léa Seydoux), penjaga toko benda nostalgia di Paris yang juga menyukai hujan. Keduanya menutup Midnight in Paris.

A Rainy Day in New York masih bernuansa romantisisme. Semua emosi terluap secara spontan tanpa dikira-kira seperti ketika Gatsby dan Chan bertemu dan saling menyalakan hasrat satu sama lain secara tatap mata. Setelah pertemuan taksengaja di sebuah lokasi syuting, keduanya asyik mengobrol dan mengunjungi museum seni di Manhattan. Sesekali kedunya saling menggoda.

Timothee Chalamet dalam A Rainy Day in New York (2019)

Selain itu, film ini juga menampilkan semangat romantisme, kembali kepada alam selepas terasing pada era modernisasi. Hujan merupakan siklus alam yang purba sehingga keduanya menyambut basah dengan senang hati. Meski secara teori sains hujan bisa dijelaskan dan merupakan hal yang umum, hujan memabukkan keduanya dalam nuansa romantis. Mereka terasa menyatu dengan alam.

Dalam film ini, kemajuan yang bersifat materialistis bukan hal utama. Hal tersebut dapat dilihat dalam adegan Gatsby takmerasa bahagia setelah memenangi judi kartu. Ia juga takmemberi hadiah-hadiah mewah untuk kekasihnya. Padahal, hal ini mungkin umum dalam dunia perfilman ketika seorang kekasih memberikan hadiah mewah kepada kekasihnya, seperti yang ada di Crazy Rich Asian (2018). Gemerlap pesta dan kemewahan menyulut rasa romantis.

Gatsby jauh dari gemerlap Crazy Rich Asian. Secara garis besar hubungan Gatsby dan Ashleigh digambarkan serupa Gil dan Inez di Midnight in Paris. Ada adegan metafora yang sangat menarik digambarkan Woody. Saat Gatsby dan Ashleigh ingin meninggalkan New York, Gatsby ternyata kerasan dan membiarkan Ashleigh pulang. Ashleigh dihadapkan dua pilihan meminta penjelasan Gatsby di bawah langit mendung dan tetap tinggal di New York atau melanjutkan perjalanan pulang ke Yardley. “Could you hurry? I think it’s starting to rain,” ucapnya ke pengemudi.

Secara umum, film yang dibuka dengan lagu “I Got Lucky in The Rain” ini menggunakan New York dan hujan sebagai latar romantis untuk cinta Gatsby, Ashleigh, Chan, dan beberapa tokoh di dalamnya. Dengan hujan, luapan terasa rasa begitu spontan dan alami. Akhiran film pun ditutup dengan adegan romantis berlatar rintik hujan.

Infografik A Rainy Days in New York (2019) karya Woody Allen.

Penulis: Anggino Tambunan
Penyunting: Muhammad Reza Fadillah