Review Film 1917 (2019): Sam Mendes Ajak Gerak Tanpa Henti

0
62

Sineas Sam Mendes mengajak kita untuk merasakan bagaimana tegangnya berada dalam perang.  Dalam 1917, Mendes coba mengimitasi rasanya menjadi seorang prajurit di tengah-tengah panasnya Perang Dunia I. Untuk membuatnya menjadi begitu nyata, pergerakan kamera dibuat terus mengikuti pemain utama dan terkesan tanpa potongan.

1917 berkisah tentang dua orang kopral muda bernama Blake (Dean-Charles Chapman) dan Schofield (George MacKay). Di tengah parit perang Inggris, saat sedang menghadapi Jerman, mereka ditugaskan oleh Jenderal Erinmore (Colin Firth) untuk mengantarkan pesan. Pasalnya, pesan ini harus diantar dengan menerobos No Man’s Land (tanah lapang di daerah peperangan yang dapat dengan mudah dilihat musuh).

Selain harus melewati No Man’s Land, mereka bahkan ditugaskan untuk terus menyusup terus ke daerah pertahanan lawan. Bahkan, sampai ke garis depan tempat pasukan Inggris lainnya akan menyerbu Jerman. Pesan ini berisi bahwa Jerman menjebak Inggris jika penyerbuan itu terjadi. Dengan iming-iming kakaknya ada di sana, Blake tidak berpikir dua kali.

Tembakan Panjang Tanpa Henti

Adegan tembakan panjang tanpa henti dalam film 1917 (2019)
Adegan tembakan panjang tanpa henti dalam film 1917 (2019)

Mendes memulai film dengan begitu kencang. Teknik tembakan panjang tanpa henti dimulai dan memang hampir tanpa henti. Hal ini benar-benar menarik penonton, bagaimana sulitnya menerapkan teknik tersebut membuat kita sebagai penonton sangat terpukau. Setiap gerakan pasti diukur dengan sangat baik jika tidak bisa dibilang sempurna.

Dalam wawancaranya dengan IMDb, Mendes menjelaskan alasannya menggunakan teknik tembakan panjang tanpa henti. Menurutnya, realisasi dalam sebuah film begitu penting. Bagaimana kita merasakan ketegangan dalam perang, bagaimana setiap hembusan nafas begitu berarti, sebuah pernyataan yang begitu puitis dari Mendes.

Memang benar, 1917 merupakan pengalaman sinematik hebat yang mungkin tidak ingin Anda lewatkan. Tembakan panjang Roger Deakins membuat kita terpacu sejak awal. Bagaimana setiap pemain seperti hidup dan berlaku, imitasinya memang hebat. Belum lagi skoring penuh debar yang ditebar oleh Thomas Newman.

Yang dilakukan sinematografer Roger Deakins bukan hanya mengikuti pergerakan Blake dan Schofield saja. Dengan bantuan set produksi apik dari Dennis Gassner, banyak tembakan-tembakan indah yang artinya pergerakan kamera ini tidak sembarangan. Atas segala teknik yang diciptakan, tim yang dipimpin Mendes untuk 1917 ini luar biasa.

Segala yang terjadi dalam film 1917 (2019) dipusatkan kepada Schofield (George Mackay).
Segala yang terjadi dalam film 1917 (2019) dipusatkan kepada Schofield (George Mackay).

Pengalaman sinematik seperti ini layaknya menggabungkan unsur-unsur hebat dari film Alfonso Cuarón, Children of Men (2006) dan film Christopher Nolan, Dunkirk (2017). Ada hela napas cepat yang terdengar yang membuat jantung berdebar-debar; ada juga rasa gelisah yang dibangun lewat teknik tembakan panjang tanpa henti.

Perjudian Mendes

Mendes nampaknya sedikit mengikuti perjudian yang dilakukan Nolan. Ia menggunakan aktor utama yang tidak terlalu terkenal untuk menampilkan realitas yang lebih. Segala yang terjadi dalam film dipusatkan kepada MacKay sebagai Schofield. Ada sisi saat MacKay mampu menunjukkan rasa gelisah prajurit muda di tengah perang yang mirip dengan Fionn Whitehead dalam Dunkirk. Di sisi lain, tugas MacKay mungkin hanya berlari-lari saja.

Ada tiga momen dramatis yang menjadi ajang unjuk gigi bagi MacKay. Pertama, saat ia harus menemani Blake pada akhir hayatnya. Kedua, pada saat ia memberikan susu ke Ibu dan bayinya. Ketiga, saat ia harus menemui kakak Blake (Richard Madden) untuk sampaikan berita duka kematian adiknya. Hanya pada momen terakhir ini yang rasanya begitu menyentuh.

Rasa gelisah dalam perang justru dapat ditunjukkan dengan baik oleh Chapman, sayang karakternya tidak bertahan hingga akhir film. Selain itu, beberapa kali kita merasa tembakan panjang tersebut agak memaksa. Untuk mengimitasi peristiwa agar begitu nyata dalam sinema, ada beragam cara. Teknik tembakan panjang ini begitu efektif ketika adegan ramai, tetapi dalam adegan yang sunyi saat mengedepankan unsur dramatis, terasa kurang efektif.

Dengan maraknya sineas yang ambisius memakai teknik tembakan panjang dan berhasil, Mendes membuat kita melihat lagi seberapa efektifnya teknik ini. 1917 menunjukkan kepada kita ada hal yang perlu dilihat serta ada hal yang perlu disimpan saja agar rasa dan fokus film terjaga. Untuk imitasi kekacauan perang dan bubuhan kemanusiaannya, tunduk kepala untuk Mendes, salut! 1917 merupakan film ambisius yang patut dikenang.

Sajian infografik film 1917 (2019) khusus dari ulasinema.

Baca juga: Daftar Lengkap Nominasi Oscar 2020

Penulis: Muhammad Reza Fadillah
Penyunting: Anggino Tambunan