Review Film The Furious (2025): Adrenalin Penuh, Aksi Tingkat Tinggi

0
1
Review Film The Furious (2025): Adrenalin Penuh, Aksi Tingkat Tinggi

Sejak The Raid: Redemption (2011) hadir meningkatkan level film laga, empat belas tahun kemudian film The Furious (2025) hadir untuk mencapai level tertinggi tersebut. Pertarungan jarak dekat jadi sajian utama dalam film besutan Kenji Tanigaki ini. Aktor multinasional pun hadir membawa gaya bertarung masing-masing yang unik, saat salah satu bintang utamanya kebanggaan Indonesia, Joe Taslim.

Gara-gara The Raid karya Gareth Evans, film-film laga pun mulai mengubah gaya bertarung mereka. Seni bela diri dari Asia pun terbukti sangat menarik di kamera, kini dengan level dan kecepatan lebih tinggi sejak Bruce Lee memperkenalkannya ke Hollywood melalui Enter the Dragon (1973). Kamera modern pun bisa menangkap kecepatan yang lebih tinggi dengan teknik manipulasi yang bisa membuatnya jauh lebih menarik. Mencakapkan level yang diciptakan The Raid empat belas tahun lalu, The Furious kini hadir dengan level yang hampir setara.

The Furious bercerita tentang seorang ayah bisu bernama Wang Wei (Xie Miao) yang tinggal di Tailan. Putrinya yang tinggal di Cina, Rainy (Yang Enyou), sedang berkunjung. Namun, saat sedang kabur dari ayahnya, Rainy ditipu dan diculik. Dari sini, adegan laga sangat menarik disajikan. Xie tampil beringas dan penuh determinasi tinggi untuk menyelamatkan Rainy. Rentetan kejar-kejaran dan adu jotos di truk sampah langsung menaikkan adrenalin kita. Sayangnya, ia dijegal oleh Ho (Brian Le), seorang pengawal berbadan besar dengan kekuatan dahsyat dan temannya Donkey Head (Winai Wiangyangkung). Selain pertarungannya yang menarik, adegan lari Xie penuh amarah sangat memikat. Sedikit kekurangan mungkin ada efek visual yang kurang rapi di beberapa bagian dalam adegan ini.

Dari adegan awal film sebenarnya kita langsung disuguhkan dengan aksi pertarungan jarak menarik dari Matia (Jeeja Yanin), seorang jurnalis perempuan yang nekat menyelamatkan anak-anak yang diculik. Ia pun akhirnya takluk oleh Tak (Yayan Ruhiyan) atas perintah bosnya, Paklung (Joey Iwanaga). Sebenarnya menarik dari awal kita disuguhkan protagonis perempuan di dunia laga yang sangat maskulin, sayang takbanyak keberlanjutan lagi dari karakter perempuan yang berlaga.

Hilangnya Matia pun menggerakkan suaminya, Navin (Joe Taslim) untuk mencarinya. Ia pun bersandiwara menjadi pembeli dari bos perdagangan manusia, Mr. Song (Sahajak Boonthanakit). Navin yang bersama Donkey Head diikuti oleh Wei ke sebuah klub malam. Saat Navin sedang bernegosiasi dengan Mr. Song di ruang privat, Wei justru mengobrak-abrik klub malam yang membuat Navin dicurigai. Lagi dan lagi kita pun diberikan adegan aksi luar biasa dari dua sisi. Di sini, saatnya Taslim pamer kehebatan bertarung dengan gaya karakternya yang songong.

Bagaimanapun, Xie lagi-lagi menjadi pusat perhatian. Ia melawan puluhan orang di klub malam. Lalu, paling memikat saat pertarungan di dalam ring muay thai. Setiap pukulan ke musuh yang ia layangkan sangat memuaskan, apalagi saat ia mengeluarkan palu untuk menghancurkan tulang dan tengkorak musuhnya. Wei pun akhirnya bertemu dengan Navin di dapur dalam adegan yang serupa dengan akhiran The Raid 2 (2014), tetapi dalam ruang yang jauh lebih kecil. Koreografinya menarik, sayangnya agak aneh keduanya tidak melayangkan serangan mematikan seperti pertarungan mereka sebelumnya. Kita pun sadar keduanya merupakan protagonis sehingga bisa menebak akhirnya keduanya akan bekerja sama.

Selanjutnya, kedua protagonis kita pun berhasil menemui Mr. Song di sebuah pabrik tua. Di sana, mereka kembali dihadang oleh Ho. Pertarungan tiga karakter tingkat tinggi pecah saat dua protagonis menghadapi satu antagonis yang hampir takbisa mati, mengingatkan kita kepada adegan puncak The Raid: Redemption (2011) lagi. Pertarungannya dahsyat dan masing-masing karakter punya gaya bertarung yang cukup berbeda. Wei dengan gaya beringasnya dan berkali-kali berguling di lantai untuk bertahan sekaligus menjatuhkan lawan. Navin lebih responsif, mengukur gerakan lawan terlebih dulu baru menyerang balik. Sementara yang paling unik mungkin Ho yang menyerupai Gorila, tetapi gaya bungkuk awalnya mengingatkan kita kepada aba-aba The Beast dari Kung Fu Hustle (2004).

Saat koreografi pertarungan tiga arah saja sudah luar biasa, film ini mencapai klimaks saat tersajinya pertarungan lima arah dari Wei, Navin, Tak, Paklung yang tiba-tiba kembali dicampuri oleh Ho. Dalam klimaks ini, Anda benar-benar takkan diberikan nafas sedikit pun. Paklung hadir dengan gaya bertarung beringas bak Wei, tetapi sosok tingginya membuat jangkauannya lebih jauh. Mungkin, sedikit disayangkan sosok Tak yang diperankan Ruhiyan memberikan dimensi lebih dalam pertarungan jarak dekatnya. Namun, adegan terakhir dengan Taslim bakal sangat menghibur Anda. Pertarungan puncak ini mengambil sekitar dua puluh menit, sedikit terlalu panjang, tetapi sangat menyenangkan dan takmembosankan.

Rasanya, laga demi laga dalam film ini sekali lagi menantang batas tinggi yang diciptakan The Raid dan menyegarkan lagi dunia perfilman laga di Asia yang mulai sedikit surut. Beberapa plotnya pun menghadirkan kisah kejutan, terutama antagonisnya yang lumayan berlapis dan membahas perdagangan manusia di Asia Tenggara menjadi bahasan menarik. Selain itu, takbanyak hal baru dan menarik yang ditawarkan: kehilangan perempuan menjadi penggerak protagonis yang terluka, kepolisian yang korup diselamatkan oleh sosok baik, hingga protagonisnya yang tergolong cukup lempeng.

Plot yang sederhana mungkin cukup buat film yang berat fokusnya ke adegan laga sehingga kita takperlu duduk dua setengah jam lebih untuk plot dan subplot yang lemah dan takpenting. Plot di sini pun terasa cukup dan adegan dramatisnya efektif. Pada akhirnya, kita datang menyaksikan film The Furious (2025) untuk memicu adrenalin dan Tanigaki beserta para pemerannya takhanya berhasil mengantarkannya, tetapi menghidangkannya di level tertinggi.

Infografik Review Film The Furious (2025): Adrenalin Penuh, Aksi Tingkat Tinggi

Baca juga: Review Film Pengepungan di Bukit Duri (2025) – Terbaik dari Anwar