Review Film Backrooms (2026): Ekspansi Matang dari Sineas Pendatang

0
12
Review Film Backrooms (2026): Ekspansi Matang dari Sineas Pendatang oleh ulasinema

Berasal dari gambar simpel yang dilanjutkan dengan forum internet, Backrooms (2026) menemui produk finalnya menjadi film fitur. Tiada yang menduga akan seperti apa ekspansi cerita yang ditulis Will Soodik dan sang sutradara sendiri, Kane Parsons. Lebih takdisangka lagi bahwa film ini diproduksi oleh A24 dengan menyabet aktris Norwegia yang kondang di dunia festival, Renate Reinsve.

Dari gambar ruangan kosong yang membuat bulu kuduk merinding hingga kehadiran makhluk yang mengerikan dari forum internet, proyek Backrooms menjadi salah satu anomali dunia sinema terbesar tahun ini. Sutradaranya pun menarik, seorang pembuat konten YouTube remaja, Parsons, yang berhasil menggandeng A24. Dengan menggunakan nama Chiwetel Ejiofor dan Reinsve sebagai dua karakter utama, Backrooms pun menjadi sorotan menarik di dunia sinema.

Saat klip sorotan utama tayang, kita bisa mendapatkan gambaran bahwa film ini akan dikembangkan dengan tema horor psikologis. Hal ini terlihat dari karakter Clark (Ejiofor) yang sedang konsultasi ke Mary (Reinsve). Dari sini rasanya kita bisa menangkap bahwa backrooms mungkin alam sadar kita dan kali ini kita berada di alam sadar Clark sebagai karakter utama.

Adegan pertama film ini mengilaskan tentang beberapa ilmuwan yang sedang meneliti backrooms. Lalu, kengerian terjadi dan darah bercucuran. Setelahnya, film ini takterburu-buru untuk kembali ke ruangan aneh yang membuat kita merasakan disorientasi tersebut.

Sepertiga utama film seterusnya kita tidak langsung dimasukkan ke backrooms. Ekspansi cerita dari Soodik dan Parsons terlihat matang di sini. Ia mendalamkan karakter dengan mengenalkan trauma yang dialami kedua karakter utama saat Clark bercerita tentang pengalaman emosionalnya kepada Mary justru memercikkan kenangan masa lalu kelam bagi sang psikolog. Beberapa gambar pun ditembak dengan sinematik yang terstruktur saat kekosongan dan kesunyian memicu perasaan hampa yang menggelisahkan.

Perasaan seperti inilah yang hadir ketika kita melihat gambar backrooms untuk pertama kalinya. Lalu, perasaan ini akan muncul dan menjadi substansi untuk kengerian yang dihadirkan dalam backrooms itu tersebut. Saat Clark pertama kali memasuki backrooms pun ia mengeksplorasinya dengan penuh kehati-hatian yang dicampur rasa kebingungan sekaligus penasaran.

Kengerian sesungguhnya dari backrooms mulai terasa saat Clark mengajak dua karyawannya, Bobby (Finn Bennett) dan Kat (Lukita Maxwell) untuk merekam backrooms. Di sana mereka mendapatkan teror dari makhluk takdikenal. Cerita pun berpindah fokus ke Mary setelah ini yang tersadar bahwa Clark telah hilang berhari-hari dan ia takdapat dihubungi.

Di sini terasa kekurangan film. Dalam sesi terapi mereka, tiada hubungan kuat yang sebenarnya terbangun antara Clark dan Mary yang lebih dari terapis dan kliennya. Film ini mencoba memicu koneksi mereka dari cerita berapi-api Clark saat kembali dari backrooms dan menceritakannya ke Mary dan mencoba untuk membuatnya penasaran. Bagaimanapun, ikatannya kurang terasa kuat. Selain dari itu, alasan Mary untuk mencari Clark dan menuju backrooms coba diperkuat dengan ikatan trauma dari mereka yang mencari eskapisme.

Sesampainya Mary di backrooms, kita pun jadi mengetahui apa sebenarnya yang coba direpresentasikan dari ruangan absurd tersebut. Konsepnya menarik: menurut Clark, backrooms menangkap memori para manusia yang terperangkap di dalamnya dan terus berekspansi seiring pelaku mengingat. Wujudnya pun takseratus persen sama, sebab memori kita bisa galat dan dari sosok absurd yang ditampilkan, refleksi ingatan kita pun bercampur dengan emosi yang hadir di sana.

Dari klip-klip pendeknya di YouTube, kita mungkin bisa mengenal horor seperti apa yang diinginkan Parsons. Film ini pun senuansa, membangun kengerian atmosferik tanpa kejutan-kejutan murah. Dengan menjaga tensi seperti ini rasanya penonton bisa lebih fokus dan menikmati daripada terus-menerus mengagetkan. Adegan kejar-kejaran terakhir pun menjadi pentas mendebarkan yang memanjakan adrenalin.

Dengan ekspektasi tinggi dan pemasaran masif, Backrooms menjadi film horor yang efektif. Pada usianya yang belia, Parsons terasa sangat dewasa dalam mengemas filmnya dan jelas tentang visi yang ia sampaikan walau semuanya terasa subtil. Dari ide simpel menjadi film konstruktif dengan nuansa atmosferik utuh, film Backrooms (2026) menambah jajaran horor Amerika yang makin kaya.

Infografik Review Film Backrooms (2026): Ekspansi Matang dari Sineas Pendatang

Baca juga: Review Film Sentimental Value (2025) – Citra Drama Sensasional