Review Film Top Gun: Maverick (2022): Meledak di Udara

0
21
Review Film Top Gun: Maverick (2022) - Meledak di Udara

36 tahun setelah film pertamanya, Top Gun: Maverick bukan hanya menawarkan nostalgia. Film yang disutradarai Joseph Kosinski ini membuat film pendahulunya terkesan konyol dan hanya main-main saja. Selama dua jam, kepalan tangan takbisa meregang karena ketegangan film yang hebat.

Mengeluarkan sekuel yang jauh sekali tanggal rilisnya dari film orisinilnya mungkin akan terdengar sangat konyol. Perkaranya, target pasar akan mengerucut pada orang-orang yang tahu film lamanya dan ada banyak hal yang perlu ditawarkan kepada para penonton baru mereka. Setidaknya, dengan makin mudahnya akses ke film klasik, permasalahan ini jadi jauh terkikis.

Langkah berani ini mungkin dapat kita lihat dalam Blade Runner 2049 (2017) yang menjadi lanjutan film Blade Runner (1982). Usaha Denis Villeneuve gagal dari segi komersil, tetapi mendapat pujian, baik dari kritikus maupun penontonnya. Hasil dari Blade Runner 2049 dapat menjadi pedang bermata dua dalam usaha membuat sekuel film yang memiliki jarak berdekade-dekade.

Bagaimanapun, antusiasme dari Jerry Buckheinmer dan Tom Cruise membuat proyek ini terlaksana walau menghadapi banyak rintangan. Sebagai penikmat film, kita hanya bisa bersyukur dengan hadirnya Top Gun: Maverick. Kehadirannya akan benar-benar mendorong batas aksi dari pertarungan pesawat di udara.

Dalam film ini, dikisahkan, Maverick (Cruise) dipanggil kembali ke Top Gun untuk melatih para lulusan mereka dalam menghadapi misi yang mustahil. Cruise dan misi mustahil rasanya sudah biasa, tetapi bukan Cruise namanya jika takingin mendorong batasan-batasan film aksi mencapai level gila.

Perancangan konflik untuk misinya pun dibuat dengan detail menarik yang membutuhkan pengetahuan hebat mengenai pertempuran dengan jet. Latihannya pun dibuat terstruktur, walau sangat teknis mengenai pertempuran udara, tetapi mudah dipahami dan takbertele-tele.

Takseperti Top Gun, pendahulunya, yang justru aksi pesawatnya terkesan menjadi selingan saja, fokus utama Maverick benar-benar kepada misi tersebut. Latihannya pun dibuat begitu intens dan kita dipaksa duduk terpaku melihat menawannya aksi-aksi pertempuran jet. Yang lebih menguatkan kita di tempat duduk ialah penataan suara yang luar biasa, membuat tempat duduk kita serasa ada gravitasi dan membuat kita merasakan tekanan berada dalam kecepatan supersonik.

Akan lebih mudah jika pertarungan di udara tersebut cukup diwakilkan dengan CGI saja, tetapi bukan film Tom Cruise rasanya jika aksi tersebut takterkesan organik. Di tengah film-film aksi pahlawan super yang berpusat pada efek visual, Joseph Kosinski berusaha membuat film ini seorganik mungkin. Keaslian visual dalam Maverick membuat intensitasnya ke penonton begitu nyata.

Dengan banyak ruang untuk memainkan teknologi baru, wajar saja jika aksi dalam Maverick jauh mengungguli pendahulunya. Walaupun begitu, film ini begitu kuat dalam menghormati film pertamanya. Landasan konflik moral dalam film ini dibangun dari peristiwa yang terjadi pada film pertamanya, yaitu kematian Goose.

Maverick masih dihantui perasaan bersalah terhadap kematian mantan rekannya tersebut, terlebih karena hadirnya sosok yang membuat perasaannya makin campur aduk. Di tengah intensitas latihan menghadapi misi, konflik-konflik yang dihadapi Maverick begitu humanis dan tidak seperti selingan belaka. Penyelesaiannya pun apik, takterlalu dramatis, tetapi cukup mengoyak perasaan kita.

Penghormatan Top Gun: Maverick takhanya terhadap film pertamanya saja. Secara keseluruhan, film ini seakan menghadirkan kembali film-film aksi layaknya tahun ’80-an atau ’90-an. Banyak ruang untuk bercanda-canda dan bermain-main santai. Ada juga kisah roman klasik yang dihadirkan Maverick dengan Penny (Jennifer Connelly).

Dalam segi ini, yang paling menarik ialah hadirnya skoring serta lagu-lagu klasik yang ditebar dengan pas di film ini. Nuansa ’80-an jadi kunci utama membangun unsur nostalgia sekaligus klasik. Lorne Balfe mendapatkan kredit terbesar dalam hal musik, tetapi sokongan dari Hans Zimmer, Lady Gaga, dan Harold Faltermeyer yang juga menulis skoring film pertama takbisa diabaikan.

Top Gun: Maverick mungkin sangat terikat dengan film pertamanya sehingga akan sulit untuk dinikmati penonton liar. Namun, eksplosivitas aksi di udara yang begitu organik dalam film ini harus dilihat dan didengar bagi penikmat film. Cruise pun lagi-lagi membuktikan bahwa ia mungkin aktor laga terbaik sepanjang masa.

Infografik Review Film Top Gun: Maverick (2022): Meledak di Udara

Baca juga: Review Film The Unbearable Weight of Massive Talent (2022)

Penulis: Muhammad Reza Fadillah
Penyunting: Anggino Tambunan