Edwin kembali dengan ide orisinalnya dalam film Monster Pabrik Rambut (2026). Kini, ia menyabet bintang-bintang muda yang lebih populer dalam Rachel Amanda, Lutesha, Iqbaal Ramadhan, hingga kembali berkolaborasi dengan penyanyi Sal Priadi serta mengorbitkan kreator konten Kev alias Lukman Haqim. Di film ini, ia mengkritik kapitalisme yang meleburkan lembur sebagai kerja keras.
Film ini dibuka dengan kematian ibu dari Putri (Amanda), Ida (Lutesha), dan Bona (Ramadhan) yang tiba-tiba menyeburkan dirinya ke dalam kuali di pabrik rambut. Putri pun menyambangi pabriknya dan diberitahukan bahwa ibunya pekerja keras. Usut punya usut, bos pabrik, Maryati (Didik Nini Thowok), mengungkapkan kepada Putri bahwa ibunya terlilit utang sehingga ia harus terus bekerja lembur untuk mendapatkan uang lebih.
Putri bekerja di pabrik tersebut untuk melunasi utangnya. Lalu, adiknya Ida juga ikut untuk membantu. Namun, yang janggal, mengapa Ida yang merupakan lulusan terbaik kampusnya harus bekerja menjadi buruh pabrik jika ingin melunaskan utang. Padahal, ia bisa kerja di tempat lebih baik agar mendapatkan uang lebih banyak. Pertanyaan ini sebenarnya tidak terjawab dengan absolut, tetapi sedikit terungkap bahwa Ida ingin mencari tahu lebih dalam tentang kematian ibunya.
Lalu, datanglah karakter Bona yang memiliki kemampuan regenerasi, tetapi sedikit terbelakang. Kehadiran Bona misterius dan sepanjang film pun kita takbenar-benar disuguhkan karakterisasi yang baik atau kegunaan karakter ini dalam perkembangan cerita. Kemampuan khususnya menarik dan berperan vital dalam cerita. Namun, karakter Bona sendiri terasa kosong dan koneksinya dengan Putri dan Ida pun hampir tiada.
Untuk film misterius yang ingin mengungkap fakta demi fakta, progresi ceritanya sangat lambat bahkan hampir kosong. Bagian tengah film hanya diisi dengan peristiwa-peristiwa sadis yang hanya menonjolkan ide utama film ini, yaitu kerja berlebihan justru bisa menjadi petaka terhadap diri kita. Jika idenya sudah jelas, kita mungkin bisa menikmati lebih dalam dari ketegangan filmnya. Nyatanya, tempo lambat film ini justru tidak menciptakan apa pun, baik nuansa misterius yang atmosferik maupun kengerian dari dari kerja berlebihan tersebut.
Misterinya pun terasa tidak dijaga dengan baik. Dari awal rasanya kita bisa menebak siapa antagonis utama dalam film ini dan filmnya pun tidak malu-malu menunjukkan keterikatan sang antagonis terhadap makhluk yang mengganggu buruh pabrik. Antagonisnya pun sejalan dengan kritik yang ingin disampaikan Edwin tentang betapa buruh hanya menjadi roda gigi dalam mesin raksasa yang dapat diganti kapan pun.
Sang antagonis diberikan latar belakang cerita tragis saat ia turut andil dalam kematian ibunya. Ia pun hidup sendirian dan makhluk supernatural tersebut menjadi satu-satunya temannya. Hanya saja, di adegan ini emosinya hampir kosong sehingga sulit rasanya kita bisa berempati lebih terhadap antagonis.
Belum lagi, untuk mencapai klimaks rasanya banyak adegan yang kurang untuk menyatukan teka-tekinya. Selain pengungkapan faktanya yang bolong-bolong, tiap karakter rasanya tidak punya koneksi yang kuat. Ada adegan saat Putri tiba-tiba dibercandai oleh Rudi (Priadi) di pabrik, padahal sebelumnya mereka belum pernah berbincang lebih dalam. Ini pun beruntut ke akhiran film saat para buruh tiba-tiba bersatu untuk mengalahkan antagonis tanpa adanya adegan perundingan sebelumnya. Lebih disayangkan lagi mengingat penampilan Amanda dan Lutesha apik, tetapi karakterisasinya tipis.
Sebenarnya, film ini sudah berani mengambil jalan penyampaian yang lebih subtil alih-alih menyuapi penonton terlalu banyak seperti kebanyakan film-film Indonesia. Kritiknya pun jelas dan penggambaran pabrik rambut sebagai untaian yang mengikat buruh untuk terus bekerja non-stop. Idenya kuat dan kita bisa menangkapnya dengan mudah. Sayangnya, kita tidak pernah benar-benar menikmati perjalanannya.

Baca juga: Kabut Berduri (2024) – Kelana di Hutan Kalimantan


















