Review Film Hokum (2026): Mencekam Tanpa Henti

0
1
Review Film Hokum (2026): Mencekam Tanpa Henti

Usai kesuksesan Oddity (2024) yang cerdas dan penuh simbol, Damian McCarthy kembali dengan film horornya, Hokum. Menggaet Adam Scott sebagai pemeran utama yang selalu penasaran, tetapi punya latar belakang kelam merupakan pilihan tepat. Film ini hampir takmemberi napas dengan gempuran teror, tetapi misterinya memikat.

Film ini dibuka dengan prolog unik saat seorang paruh baya berjalan di tengah gurun pasir bersama seorang anak kecil. Kita pun mengetahui kalau mereka sedang mencari harta karun, tetapi hampir gagal karena botol petunjuknya takbisa dibuka. Orang paruh baya itu pun ingin menghancurkannya, tetapi satu-satunya jalan ialah dengan memecahkan botol menggunakan kepala anak kecil tersebut karena itu satu-satunya benda keras di sekitar mereka.

Adegan silih berganti dengan karakter utama kita, Ohm Bauman (Scott) yang rupanya sedang menulis adegan di atas untuk novelnya berjudul Conquistador. Di malam hari dan ruangan temaram, Ohm takhentinya menulis dan selalu disela dengan meneguk segelas wiski. Beberapa kali ia terdistraksi dengan suara di rumahnya yang sedang hujan dan film ini pun menyambut dengan kejutan pertama untuk menegaskan bahwa ini film horor.

Kebingungan dengan akhiran novelnya, Ohm melihat ke arah abu orangtuanya dan memerhatikan foto ibunya yang berdiri di pohon besar di tengah hutan. Ia pun memutuskan untuk mengunjungi tempat itu yang rupanya ada di Irlandia, jauh dari rumahnya di Amerika. Pertama, ia mengunjungi sebuah hotel tua di tengah hutan yang rupanya tempat ibu dan ayahnya dulu berbulan madu.

Di hotel tersebut, kita banyak bertemu karakter aneh. Dengan latar seperti ini pun rasanya film ini menggunakan resep yang cukup formulaik di dalam film horor. Ohm pun menanyakan petugas hotel tentang kamar bulan madu dan pohon tempat ibunya foto. Seorang pria tua bernama Cob (Brendan Conroy) bahwa kamar bulan madu tersebut takbisa diakses dan diisi oleh penyihir tua. Usai cekcok dengan Ohm, Cob dengan sombongnya mengatakan bahwa ia pemilik penginapan.

McCarthy rasanya banyak sekali memainkan elemen misteri dalam film ini dari awal cerita. Bahkan, karakter utama langsung mengalami guncangan hebat pada sepertiga awal film yang membuat kita terkejut. Adegan yang kerap menjadi akhiran film seperti itu sangat berani sebagai pembuka film dan justru menjadi katalis untuk mengungkap misteri demi misteri.

Makin kita disuguhkan dengan karakter-karakter di sini, makin banyak juga misteri yang disuguhkan. Banyaknya misteri ini pun mengikat kita dengan rasa penasaran walau terus digempur dengan teror tiada henti. Sekuen saat Ohm terjebak di dalam kamar bulan madu pun sangat apik. Misteri perlahan terkupas, tetapi teror tiada habisnya. McCarthy pun menulisnya dengan cerdas di sini. Cara ia menjaga ketegangan dengan menyelipkan plot terlihat piawai.

Sayangnya, mungkin sulit membuat kita tetap fokus kepada cerita dan visualnya bagi orang-orang yang takterlalu menyukai kejutan seram tiada henti. Memang, film ini menjadi sangat menyeramkan dengan cara pintar, tetapi agar kita fokus dengan ceritanya dengan banyaknya subplot menarik yang disuguhkan, mungkin perlu menonton kedua kalinya untuk menyiapkan diri dengan kejutan sekaligus menikmatinya lebih.

Usai beberapa misteri karakter pendukung terkuak, kita pun kembali kepada problem karakter utama kita, Ohm. Tersimpan misteri yang sangat kelam dalam dirinya yang membuat karakternya menjadi sangat negatif dan menyebalkan. Terjebaknya Ohm di kamar bulan madu sendirian pun menjadi ruang buatnya berkontemplasi dan menerima kesalahannya sendiri. Adegan ia bertemu dengan hantu ibunya pun menjadi dramatis dan menyentuh, walau berada di tengah klimaks yang gemuruh.

Pemilihan Scott pun terasa tepat karena karakternya di sini mirip dengan karakter “aslinya” dalam serial Severance (2022). Hanya saja, di sini Scott tampil lebih depresif sebagai Ohm dan ia harus melunturkan sisi komedinya walaupun beberapa kali kata-kata pedas ciri khasnya keluar. Film ini pun bisa menjadi gerbang pembuka baginya untuk tampil di film-film dengan peranan lebih menantang.

Pujian terbesar pun perlu diberikan kepada McCarthy. Hokum mungkin taksekompleks Oddity, tetapi jelas film ini lebih menghibur. Penulisannya matang dan misterinya pun mudah dicerna walau takmengusik betapa menariknya misteri itu. Cara ia menjaga ketegangan di sekuen kamar bulan madu akan menjadi sesuatu yang klasik di dunia horor. Walaupun latarnya klasik, tetapi resolusinya pun menjadi psikologis saat kita mengetahui sisi kelam dari karakter utama.

Baca juga: Review Film Weapons (2025) – Fragmentasi Misteri