Usai menggebrak dunia horor dengan Barbarian (2022), Zach Cregger kembali dengan film Weapons (2025). Walaupun produksinya sempat terhalang satu dan lain hal, ide gilanya sempat diperebutkan banyak studio film. Kini setelah rilis, kita pun paham alasan beberapa studio, dan bahkan Jordan Peele, sangat menginginkannya.
Kegaduhan di Balik Produksi Filmnya
Kegaduhan akan film Weapons (2025), takhanya berasal dari produksinya saja, tetapi dari perebutan hak tayangnya. Pertama, dalam pembuatannya, Cregger tertunda karena adanya mogok penulis di Hollywood. Hal ini pun menunda produksi film mereka. Disebabkan produksinya yang tertunda, film ini yang tadinya akan dibintangi oleh Pedro Pascal justru batal. Sebab, di saat yang bersamaan, Pascal juga akan membintangi film The Fantastic Four: First Steps (2025). Cregger pun mengungkapkan bahwa hal ini membuat ia merombak jajaran pemeran untuk Weapons.
Setelah itu, ketika skenarionya sudah diajukan, beberapa studio film pun berebut. Salah satu sineas yang dikabarkan getol untuk memproduksi film ini ialah Jordan Peele yang ingin memproduksinya di bawah studionya, Monkeypaw Productions, dan akan didistribusikan oleh Universal Pictures. Namun, karena Peele dan Cregger memiliki manajer yang sama, Peter Principato, Universal takut adanya konflik kepentingan. Hal ini membuat Peele mundur dari perusahaan manajer artis tersebut.
Akhirnya, New Line Cinema lah yang mendapatkan hak untuk produksi film ini. Cregger memilih New Line karena studio film ini lebih terbiasa memproduksi dan memasarkan film-film horor. Padahal, tawaran dana dari New Line dikatakan hanya sebesar 5 juta dolar AS, lebih kecil dari tawaran Universal sebesar 7 juta dolar AS. Kabarnya, bahkan Netflix memberikan tawaran lebih besar, tetapi karena penayangan di bioskopnya takekstensif, Cregger takmemilihnya.
Fragmentasi Misteri
Weapons dibuka dengan narator anak kecil yang menceritakan bahwa di kotanya pernah ada kehilangan besar yang ditutup-tutupi oleh pemerintah setempat. Kehilangan itu terjadi pada satu sekolah, tepatnya satu kelas sekolah dasar. Sebanyak 17 anak-anak keluar dari rumahnya pada pukul 02:17 dini hari dan lenyap ditelan kegelapan. Keesokan harinya, hanya ada dua orang tersisa di kelas itu, yakni wali kelas mereka, Justine (Julia Garner), dan satu murid tersisa, Alex (Cary Christopher).
Setelah menyuapi kita dengan narasi ini, Cregger memberikan fragmen-fragmen cerita dari sudut pandang karakter-karakternya. Pertama, kita disuguhkan dengan kisah Justine yang dianggap wali murid yang kehilangan anaknya menjadi dalang utama. Ia pun dirundung dan diserang perasaan bersalah, padahal ia taktahu apa-apa. Justine pun mulai mencari jawaban ke Alex yang ia duga menyembunyikan sesuatu.
Lalu, cerita berlanjut ke Archer (Josh Brolin), orangtua dari Matthew (Luke Speakman) yang menyerang Justine. Salah satu adegan menarik dalam kisah Archer ialah mimpinya yang mengejar Matthew ke kegelapan, lalu justru kembali ke rumahnya. Di atas rumahnya tersebut, terdapat senapan dan tulisan 2:17. Dari sini kita menebak bahwa film ini secara tersirat menggambarkan tentang penembakan di sekolah yang kerap terjadi di Amerika Serikat.
Bagaimanapun, fragmen demi fragmen dari sudut pandang karakternya mengungkap hal yang berbeda. Seperti diungkapkan Cregger, mungkin film ini tidak terfokus ke satu peristiwa spesifik saja. Cregger mengatakan bahwa film ini dibuat setelah ia kehilangan teman terdekatnya. Karakter-karakter di sini pun hidup untuk menampilkan cara mereka bereaksi terhadap kehilangan tersebut.
Cregger pun mengungkap jalan cerita ini dengan perlahan agar penonton tetap terikat dengan ceritanya. Setiap langkah pengungkapannya sangat takterduga dan hal ini membuat Weapons sangat menarik. Bahkan, karakter-karakter yang dipakai untuk menjadi sudut pandang cerita dan mengungkapkan misteri selanjutnya pun juga takterduga.
Sebenarnya, untaian benangnya sudah dapat ditebak dari awal. Semua misterinya makin jelas saat fragmen terakhir, yakni sudut pandang Alex ditampilkan. Walaupun kita sudah menebak bahwa Alex punya semua misterinya, tetap saja ada detail-detail kecil mengejutkan yang mengungkap ceritanya.
Apalagi, performa Christopher sebagai Alex dan Amy Madigan sebagai Gladys, tante Alex, sangat brilian. Alex memberikan nuansa anak-anak pendiam seperti Dalton di Insidious (2010) atau Owen di Let Me In (2010). Sementara itu, sulit rasanya mendeskripsikan karakter Gladys. Penampilannya sangat mencolok dan karakter sumringahnya menciptakan kengerian. Ia seperti badut perempuan tua yang menakutkan dan rahasia yang disimpannya sangat berbanding terbalik dengan penampilannya.
2025 Jadi Puncak Horor Film-Film Berbahasa Inggris
Film Weapons (2025) pun menandai betapa kita telah disuguhkan film-film horor fantastis berbahasa Inggris tahun ini. Film-film ini dimulai dari Sinners karya Ryan Coogler, Bring Her Back dari Philippou bersaudara, hingga 28 Years Later, saga zombi saat Danny Boyle balik menyutradarai. Film-film ini unggul bukan karena mengikuti pakem yang ada, tetapi membuka lembaran baru dalam bercerita dan membahas isu sosial terkini. Begitu juga dengan Weapons, Cregger mengungkap ceritanya layaknya Magnolia (1998), satu per satu dari sudut pandang berbeda, lalu diledakkan di akhir cerita.
Sebab gaya berceritanya tersebut, Weapons bisa menjadi film horor unik yang akan membuat kita ketagihan untuk menontonnya berkali-kali. Namun, mungkin kekurangan film yang membahas segala sudut pandang ialah mengulang-ngulang adegan yang sama. Selain itu, walau misterinya terungkap dan adegan akhirnya epik, film ini kurang mencapai titik emosional tertinggi karena tempo pengadeganannya agak membingungkan.

Baca juga: Review Film 28 Years Later – Bergaya, Minimalis, tetapi Megah
Penulis: Muhammad Reza Fadillah
Penyunting: Farhan Iskandarsyah
















