Sebagai penulis skenario, sutradara, sekaligus pemeran utama dalam Sorry, Baby (2025), Eva Victor berhasil menyuguhkan kisah perempuan penyintas kekerasan seksual dalam film debutnya. Berperan sebagai dosen yang semasa kuliah mengalami pelecehan oleh mantan dosen pembimbingnya, Victor berhasil mengemas kisah gelap nan emosional dengan balutan canda sebagai pemecah suasana.
Agnes (Victor), perempuan muda pertengahan usia kepala tiga, mendapatkan kunjungan dari sahabat lamanya Lydie (Naomi Ackie). Kedatangan Lydie sebagai mantan teman serumah saat menempuh pendidikan magister Sastra Inggris membawanya pada ingatan kelam tiga tahun silam. Agnes gamang dan bimbang dengan masa depan pekerjaannya yang mengharuskan ia duduk satu kantor dengan pelaku perbuatan kotor.
Cerita berputar pada masa tiga tahun silam saat mereka kuliah dan menemui seorang dosen, Preston Decker (Louis Cancelmi). Nampak jelas bahwa Decker memberi perhatian lebih kepada Agnes dengan mengajaknya memeriksa tesis di rumah sang dosen. Kejadian yang takdikehendaki Agnes pun terjadi. Ia pulang dengan dengan berang.
Sedari mula, penonton disuguhkan dengan pandangan gelap dan gelombang perasaan Agnes sebagai seorang penyintas pelecehan seksual. Bersama sahabatnya, Lydie, keduanya berjanji untuk tidak mati, setidaknya itulah pinta Lydie kepada Agnes. Bagi Agnes, mati dan bunuh diri bukanlah pilihan yang ada saat ini, sebab apa yang terjadi adalah hal yang sudah terlewati.
Candaan Sebagai Mekanisme Penghiburan Diri
Terlihat jelas bahwa Victor memasang pakem cerita gelap yang dikombinasikan dengan candaan-candaan yang sama gelapnya. Kontradiksi antara sosok Agnes yang kelam, tetapi cerdas; dengan Lydie yang terang dan positif, menciptakan fluktuasi koneksi di mana keduanya saling menyesuaikan energi satu sama lain.
Bagaimanapun, sebagai seorang penyintas, Agnes tetap melalui masa-masa sulit yang terefleksi dalam tindakan dan perkataannya. Sebagai sahabat, Lydie hadir menawarkan simpati dan afeksi atas segala kata dan canda gelap yang Agnes lontarkan. Lydie tak menghakimi, sebab ia takpernah tahu seberat apa beban yang Agnes hadapi.
Berbagai candaan yang Agnes lontarkan, menumbuhsuburkan lara dan sesak dalam dada. Tawa terasa perih, rasa prihatin terlampau jernih. Kita tahu, ia sedang tidak baik-baik saja.
Dalam film ini, candaan digambarkan sebagai bentuk mekanisme penghiburan diri karakter utama yang canggung dalam mengatasi kesedihannya. Victor dengan terus terang menggambarkan proses yang dilalui oleh seorang penyintas kekerasan seksual; saat kebingungan adalah perasaan utama yang kerap menghampiri mereka, seperti halnya yang dialami Agnes.
Tidak Menyudutkan Satu Gender
Resolusi yang dihadirkan dalam film ini terasa indah. Agnes berkali-kali mengatakan bahwa ia tidak ingin pelaku pelecehan terhadapnya masuk penjara. Ia hanya ingin pelaku sadar dan menghentikan perbuatannya agar tidak ada lagi Agnes-Agnes lainnya. Sebagai sosok yang cerdas, pun secara emosional, Agnes berhasil mengelola amarahnya menjadi satu kebijaksanaan.
Victor tidak berusaha menabuh genderang perang antargender. Ia justru menghidupkan karakter-karakter lelaki lainnya yang membantu Agnes menghadapi masalahnya. Kehadiran Gavin (Lucas Hedges) yang selalu lembut dan membantunya untuk berhubungan kembali dengan lelaki, hingga Pete (John Carroll Lynch) yang memberinya roti lapis enak dan wejangan berharga saat Agnes mengalami ledakan emosi terburuknya.
Dari sini sangat terasa bahwa Victor mengonstruksi skenarionya dengan sangat cermat dan penuh sensitivitas. Rasa terima kasih nampaknya perlu kita haturkan kepada Barry Jenkins (Moonlight, 2016), produser film ini, yang meyakinkan Victor untuk menyutradarai film ini. Agnes sangat terasa hidup sebab Victor jugalah yang memerankan karakter ini. Sorry, Baby (2025) mungkin bukan film melangit yang memberi kesan spektakuler setelah menontonnya. Namun, film ini hidup dari kesederhanaan, kejernihan, dan ketulusan sehingga menjadi surat cinta yang indah untuk para penyintas.

Baca juga: Never Rarely Sometimes Always (2020) – Kepemilikan Tubuh dan Kekerasan Seksual
Penulis: Muhammad Reza Fadillah, Dea Adhista
Penyunting: Farhan Iskandarsyah


















