Di tengah kualitas film di bioskop barat yang sedang haus akan magnum opus, Paul Thomas Anderson langsung menjawabnya. PTA kini mengadaptasi novel Vineland (1990) karya Thomas Pynchon dalam film terbarunya, One Battle After Another (2025). Leonardo DiCaprio, Sean Penn, dan pendatang baru, Chase Infiniti, jadi bintang utama.
Enam belas tahun silam, Ghetto Pat (DiCaprio) dan Perfidia Beverly Hills (Teyana Taylor), bersuka cita meledakkan infrastruktur bersama kelompok revolusioner bernama French 75. Dalam salah satu aksinya, Perfidia bertemu Kolonel Steven J. Lockjaw (Penn) dan keduanya menjalin hubungan tanpa sepengetahuan Pat. Perfidia pun hamil dan melahirkan Charlene (Infiniti) yang membuat Pat terus mengurusnya. Hal ini membuat Perfidia cemburu dan meninggalkan keluarganya untuk kembali beraksi bersama French 75.
Perfidia yang takterkendali emosinya membunuh satpam saat merampok bank. Beberapa anggotanya pun tertangkap, termasuk Perfidia. Saat ditahan di rumah sakit, Perfidia bertemu Lockjaw dan memohon bantuan untuk dilepaskan. Lockjaw pun memberi syarat, yaitu memberi tahu semua anggota French 75 dan hidup mencintainya.
Perfidia pun setuju dan beberapa anggota French 75 ditangkap dan beberapa dibunuh oleh Lockjaw. Beruntung, Pat dan Charlene berhasil pergi dan mereka menggunakan identitas baru dalam Bob dan Willa. Sementara itu, Perfidia kabur dari rumah yang telah disediakan Lockjaw.
Maju ke masa kini, Lockjaw diajak bergabung dengan kelompok supremasi kulit putih elit, Christmas Adventurer. Ia berbohong ketika mengatakan bahwa ia takpernah berhubungan seksual dengan kulit hitam. Lockjaw pun memburu Charlene, yang kini menggunakan nama Wila, karena dugaan bahwa ia anak kandungnya bersama Perfidia.
Usai membuat film-film yang lebih serius dan kelam dari There Will Be Blood (2007) hingga Phantom Thread (2017), Anderson kini seperti kembali ke film-film awalnya yang banyak mengandung komedi kelam dalam Licorice Pizza (2021) bersama One Battle After Another ini. Sejak awal film, banyak diselipkan adegan-adegan konyol dari Lockjaw, Perfidia, dan Pat. Selain itu, ini pun jadi film penuh aksi pertama yang dibuat oleh Anderson.
Taylor sebagai Perfidia yang menjadi bintang utama di sepertiga awal film benar-benar bersinar. Di tengah nama-nama besar dalam DiCaprio dan Penn, ia berhasil mendominasi dengan karakter perempuan alfanya yang kejam, tajam, erotik, dan penuh nafsu. Adegan-adegannya pada bagian awal cerita pun sangat meriah, penuh ledakan dan tembakan yang sangat berbeda dari film-film Anderson sebelumnya.
Kepergian Taylor pada sisa film mungkin menghilangkan sebagian dari kekuatan utama film ini. Namun, di sinilah justru bagian Anderson unjuk gigi. Fokus cerita terbagi ke dalam tiga karakter utama, yakni Bob, Wila, dan Lockjaw. Cerita pun terasa kacau saat karakter-karakternya terasa seperti improvisasi seiring durasi berjalan. Inilah kelihaian sang sineas dalam bercerita, kekacauan seperti ini terasa natural, tetapi hal natural seperti ini distrukturisasi dengan baik oleh PTA sehingga penonton takmelihat progresi cerita yang kaku.
Jika ada penampilan terbaik di sini, Penn pantas mendapatkannya. Lockjaw menjadi sosok yang brutal dan nirempati. Namun, di balik sosok kejam, selalu ada kerusakan dalam segi psikis dalam dirinya. Hal inilah yang sejak awal dieksploitasi oleh PTA. Sementara itu, Bob yang diperankan DiCaprio merupakan kebalikannya, berantakan, tetapi punya rasa empati besar.
Saat Lockjaw menjadi nyawa cerita yang brutal, Bob memberikan unsur komedi yang benar-benar berbanding terbalik. Banyak dialog panjang DiCaprio yang mengundang tawa. Gelagatnya yang sangat cemas karena pengaruh narkoba dan cara bicaranya yang asal membuat cerita selalu menarik dan eskalasinya jadi berbelit.
Selama dua jam pertama pun kita diberikan suguhan Amerika yang sesungguhnya. Suguhan dimulai dari perkara politis dalam pemerintahan rasis dan imigran gelap yang memicu tindak anarkis, hingga hal-hal yang humanis seperti Perfidia yang baby blues atau solidaritas antara sesama pendatang latin. Setelah cerita semasif ini, sempat ada keraguan akan akhiran cerita yang taksebanding dengan skala filmnya.
Bagaimanapun, meragukan PTA mungkin menjadi kekeliruan besar. Cerita menjadi jauh lebih seru, menegangkan, dan penuh aksi di sepertiga terakhir. Adegan akhir pun memiliki multilapisan: takhanya Lockjaw, Bob, dan Wila yang berperan penting, karakter-karakter lain pun menjalankan misi masing-masing yang membuatnya lebih kompleks. Tiada lanjutan yang bisa ditebak dan setiap adegannya memberikan kejutan masing-masing.
Usai klimaks yang fantastis, kita pun masih disuguhkan dengan epilog yang serasi dengan akhiran para karakternya. Antagonis mendapat jatah yang memuaskan dan protagonis mendapatkan akhiran yang menyentuh. Anderson pun bak pesulap: di akhiran cerita yang sangat gila dan brutal ini, One Battle After Another ditutup dengan sangat manis.
Walaupun film ini berdasarkan kisah yang sangat berantakan, Anda bisa melihat betapa sempurnanya Anderson merakitnya. Setiap perpindahan adegan digabungkan dengan skoring dan musik yang tepat. Candaan, aksi, kegilaan, kebrutalan, hingga adegan menyentuh, semua dicampurkan hampir tanpa cela. Inilah sang master dalam level tertingginya, One Battle After Another (2025) menjadi karya epik dari Paul Thomas Anderson.

Baca juga: Review Film The Long Walk (2025) – Bincang Cekam Hidup-Mati
Penulis: Muhammad Reza Fadillah
Penyunting: Farhan Iskandarsyah


















