Tanakhir Films Rilis Poster dan Cuplikan Film Dokumenter Semesta (2019)

0
315
film dokumenter semesta

ulasinema.com — Jelang penutupan tahun, (18/12/2019), Nicholas Saputra dan Manda Marahimin selaku produser memperkenalkan poster dan cuplikan film dokumenter Semesta. Dokumenter ini menawarkan isu yang sangat relevan dengan kondisi global, yaitu isu krisis lingkungan. Film yang berada di bawah naungan Tanakhir Films  ini akan memuat kisah-kisah bertema lingkungan yang tersebar di Indonesia.

Karya dokumenter ini menuturkan kisah tujuh sosok inspiratif yang tekun mencegah ancaman kerusakan lingkungan. Sosok-sosok tersebut berasal dari latar belakang sosial, budaya, dan agama yang berbeda. Ketujuhnya tersebar di Jakarta, Yogyakarta, Bali, Kalimantan, Aceh, Flores, dan Papua. Kisah unik dan relevan ini membuat Semesta dinominasikan dalam film dokumenter terbaik Piala Citra 2019.

Nama Nicholas Saputra, produser film ini, telah dikenal sebagai tokoh publik yang juga aktif pada soal-soal kelestarian alam. Ia berharap film Semesta mampu menambah wawasan dan memberikan inspirasi kepada penonton untuk menjaga alam Indonesia dan secara umum alam dunia yang tengah mengalami krisis.

“Apa pun latar belakang agama, budaya, profesi, dan tempat tinggalmu, kita tetap bisa berbuat sesuatu untuk alam Indonesia dan dunia yang sekarang tengah mengalami krisis,” ujar Nicholas.

Film dokumenter Semesta berkisah tentang upaya tujuh orang dengan latar berbeda berupaya menjaga alam dari ancaman perubahan iklim. Semangat mereka didasari nilai budaya, agama, dan kearifan lokal yang memuat nilai kelestarian alam. Karya ini akan mengajak penonton menyusuri beberapa provinsi di Indonesia, mulai dari titik ujung barat, yaitu Desa Pameu, Aceh, hingga menuju bagian ujung timur Indonesia, tepatnya di Kampung Kapatcol, Papua.

Mengenai pertanyaan medium dokumenter yang digunakan, Mandi Marahimin yang juga memproduseri film ini dan pendiri Tanakhir Films bersama Nicholas, menilai medium dokumenter mampu menangkap soal-soal ke-Indonesia-an. Selain itu, ia ingin menghilangkan anggapan umum bahwa film dalam medium dokumenter merupakan suguhan yang membosankan.

“Makanya kami membuat Semesta dengan suguhan berbeda agar orang tidak bosan saat menyaksikannya,” ujar perempuan yang pernah memproduseri Bebas (2019) dan Keluarga Cemara (2019).

Ia menambahkan, film yang akan tayang terbatas di bioskop pada 30 Januari 2020 ini akan memberikan suguhan produksi yang berbeda. Suguhan ini dapat dilihat dari teknik pengambilan gambar, perekaman suara, musik ilustrasi, sampai tahap penyuntingan.

poster film dokumenter semesta

Chairun Nissa dipercayai menjadi sutradara Semesta. Dari segi sinematografi, ada Aditya Ahmad yang film terakhirnya, Kado, menyabet film pendek terbaik di Festival Film Venice. Dari segi penataan musik, ada Indra Perkasa. Dari segi penataan suara, ada Satrio Budiono, Indrasetno Vyatrantra, dan Hasanudin Bugo. Sementara itu, penyuntingan film dipegang oleh Ahsan Andrian yang pernah menyunting film Filosofi Kopi (2015) dan membuahkan Piala Citra.

Semesta merupakan debut film dokumenter panjang Tanakhir Films. Film ini sebelumnya masuk seleksi untuk diputar di Suncine International Environmental Film Festival, ajang gelar film di Barcelona yang dikhususkan untuk film dokumenter bertema lingkungan yang dilaksanakan 6—14 November 2019. Beberapa film panjang nondokumenter yang pernah diproduksi Tanakhir Films adalah Cinta dari Wamena (2013) dan Ada Apa dengan Cinta 2 (2016).

Film dokumenter ini sangat layak ditunggu sebab isu yang dibawa terbilang segar untuk perfilman Indonesia. Film keluaran rumah produksi yang tengah menyiapkan sebuah dokumenter panjang lainnya berjudul My Big Sumba Family ini akan tayang terbatas di bisokop mulai 30 Januari 2020.

Penulis: admin
Penyunting: Anggino Tambunan