Review Film Monkey Man (2024): Percampuran John Wick dan The Raid

0
16
Review Film Monkey Man (2024): Percampuran John Wick dan The Raid

Dev Patel debut menjadi sutradara dalam film laga, Monkey Man (2024). Dengan gaya necis, tetapi beringas dan kelam, kita seperti disuguhkan oleh percampuran antara film John Wick (2014) dan The Raid (2011). Percampuran itu pun disuntikkan oleh cerita yang mengandung problematika masyarakat India.

Patel yang juga pemeran utama memerankan tokoh Kid/Monkey Man. Pada beberapa hari, Kid menjadi pegulat figuran yang hanya jadi sasak tinju sang jagoan ring. Sementara pada hari-hari lainnya, ia bekerja di dapur klab malam dengan tujuan membalaskan dendam polisi dan politikus yang menyebabkan kematian ibunya.

Dengan pemunculan suasana yang gelap terus-menerus dan asosiasi khas atas genre laga film ini, apalagi fokus kepada balas dendam, mudah saja bagi kita untuk mengingat jalan kisahnya seperti John Wick. Bagaimanapun, latar tempatnya taksenecis kota New York saat kita melihat pertarungan di klab-klab malam elite atau kejar-kejaran di gedung pencakar langit yang berkelas. Dalam Monkey Man, kita akan menjumpai perumahan-perumahan kumuh di India walau ada beberapa tempat klab malam yang elit. Latar seperti ini mengingatkan kita kepada The Raid, ditambah lagi dengan pertarungan yang lebih banyak menggunakan tangan kosong.

Patel sebenarnya punya visi yang cukup konkret untuk film perdananya ini. Belum lagi jalan ceritanya menarik: Ibu sang tokoh utama dibunuh karena menolak penggusuran dari pemerintah. Tokoh utama ini pun coba membalaskan dendam sampai ke akarnya, yaitu dari pimpinan polisi pembunuh ibunya hingga politikus serta pemimpin agama pretensius yang mencampurkan keyakinan demi kepentingan politik.

Perlu diingat bahwa keyakinan jadi faktor utama penting dalam film ini sebagaimana kebudayaan India yang mayoritas menganut Hindu. Alter ego Kid sebagai Monkey Man di ring gulat pun terinspirasi dari kisah Hanuman yang diceritakan oleh ibunya. Ia pun menemukan jati dirinya usai diselamatkan penjaga kuil Hindu Ardanariswara dan mendapatkan siraman spiritual. Monkey Man yang menebar ancaman terhadap pemerintahan pun perlahan menjadi simbol perlawanan.

Patel yang menulis skenario ini bersama Paul Angunawela dan John Collee memang menulis naskah solid yang kompleksitas dan multidimensional. Dari gaya penyutradaraannya, Patel pun terlihat memiliki banyak referensi film. Karakternya yang punya latar belakang pegulat hingga jadi petarung andal layaknya John Wick cukup masuk akal. Sayangnya, dalam latihan dan pencarian jati dirinya, hal ini terasa kurang solid karena Patel takbenar-benar mengonkretkan tekad bulatnya. Di samping itu, karakter utamanya terlihat biasa dan agak terkesan klise. Adegan krusial yang kurang solid ini cukup fatal.

Beralih ke aksi-aksinya, adegan-adegan pertarungan tangan kosong beringasnya memang mengingatkan kita kepada The Raid. Cukup menghibur, tetapi takterlalu mencolok mata juga. Pertarungan menariknya kadang menggunakan tembakan gambar yang super-cepat dan super-dekat ala film-film laga Hollywood untuk menambah efek ketegangan. Namun, untuk film yang banyak memberikan gambar gelap dan penuh dengan laga, adegan-adegannya menjadi kurang tertangkap dengan baik. Padahal, dalam adegan-adegan yang lebih stagnan, tangkapan sinematografiknya cukup apik, apalagi Sharone Meir sebagai sinematografer cukup berani untuk mengambil gambar-gambar miring.

Walhasil, Monkey Man mungkin  film aksi yang punya penulisan apik dengan karakter serta latar belakang cerita yang menarik. Sayangnya, bagi film aksi, Patel masih harus banyak belajar dalam membangun tensi dan menampilkan laganya dalam bentuk yang konkret. Idenya menarik, tetapi beberapa eksekusinya meleset sehingga keseluruhan filmnya kurang paripurna.

Baca juga: Review Film Furiosa (2024) – A Mad Max Saga

Penulis: Muhammad Reza Fadillah
Penyunting: Anggino Tambunan