Decision to Leave (2022): Dendam, Pendam, Padam

0
51
Decision to Leave (2022): Dendam, Pendam, Padam

Frasa yang kerap dikaitkan dengan karya-karya Park Chan-wook ialah “dendam kesumat”. Digambarkan bahwa dendam yang terpelihara sekian masa dapat membentuk tokoh sentral dalam film-filmnya memiliki hasrat hidup yang menyala-nyala. Kini, lewat karya terbarunya, Decision to Leave (2022), Park rupanya menghadirkan kisah yang segar dibanding film-film lawasnya.

Pada karya teranyarnya, Park menggaet Park Hae-il sebagai Hae-jun—seorang detektif yang telah beristri—dan Tang Wei sebagai Seo-rae—istri korban kasus kematian misterius yang ditangani Hae-jun. Pengusutan kasus yang detail membuat kebenaran mulai tampak benderang. Di sisi lain, hubungan intens Hae-jun dan Seo-rai pangkal siksa dan bahagia bagi keduanya; serupa sergap laron pada lentera yang membuatnya hangus terbakar.

Trilogi Vengeance

Pada film yang terpilih menjadi wakil Korea Selatan pada ajang Oscar ini, Park Chan-wook menempatkan pusat kisah pada tokoh utama detektif. Artinya, seseorang yang patut objektif dalam menaksir kasus kematian sehingga ia taklarut dalam ombak emosi. Hal ini tentu berbeda apabila kita menyaksikan film trilogi ikonik Park Chan-wook: “Vengeance”—Sympathy for Mr. Vengeance (2002), Oldboy (2003), dan Lady Vengeance (2005). Ketiganya memuat sudut pandang yang serupa: upaya balas dendam tokoh atas pedih luka yang takterpahami orang lain.

Pada Sympathy For Mr. Vengeance, kita mendapati Ryu (Shin Ha-kyun)—seorang Tuli—nekat menculik gadis cilik dari keluarga berkecukupan. Dibantu kekasihnya, ia punya misi: membeli ginjal baru untuk kakak perempuannya yang kerap menjerit lara. Adegan bunuh-membunuh silih berganti. Utang nyawa patut dibayar nyawa. Selain itu,  ide memaafkan pembunuh dianggap kemunafikan. Alhasil, rasa simpati mesti diusir jauh-jauh.

Sementara itu, pada Oldboy, Oh Dae-su (Choi Min-sik)—yang telah berkeluarga—diculik dan disekap dalam ruang misterius selama bertahun-tahun, tanpa mengetahui kesalahan apa yang ia lakukan dan siapa dalangnya. Alhasil, ia tidak lagi mampu memandang wajah istri dan anak perempuannya. Usut punya usut, segenap dendam seseorang dari masa lalu tiba padanya. Serupa Sympathy For Mr. Vengeance, tuntasnya dendam mestilah dilalui dengan peristiwa setimpal atau literal, salah satunya, lancangnya perkataan pangkal tanggalnya lidah.

Pada Lady Vengeance, Lee Young-ae—ibu beranak satu— punya misi balas dendam pada pria yang “menjebaknya” dan menjebloskannya ke penjara. Keadaan yang menyebabkan ia berpisah dengan anak perempuannya. Lalu, ia negasikan nilai welas asih pada dirinya; ia tancapkan citra bahwa dirinya adalah iblis yang kejam. Film ini agak berbeda dengan dua film sebelumnya. Dalam aksinya, ia bersekongkol dengan korban lain dan seorang detektif untuk menuntut balas dendam “versi mereka”. Pada film ini, dendam ditampilkan tidak sebagai hal yang personal, tetapi juga sosial. Luka bersama yang mesti terbayar.

Pada ketiga film, sudah tentu, segenap norma dan aturan hukum dilarang ikut campur. Salah satunya, Lee Young-ea menganggap bahwa penegakan hukum tidak menyingkap kebenaran. Bahkan, meski mampu memecahkan kasus dan menangkap “pelaku” sebenarnya usai bebas dari penjara, ia dan korban lainnya bermufakat untuk menempuh aksi “main hakim sendiri”. Jalur hukum takmemahami lara mereka.

Dari The Handmaiden ke Decision to Leave

Pada The Handmaiden (2016), Park Chan-wook coba mengeksplorasi kisah roman. Dengan latar unsur budaya yang menarik, film ini memuat intrik di balik intrik antara Putri Hideko, pelayan putri, dan Pangeran Fujiwara. Dalam pengisahan, disajikan beberapa sudut pandang tokoh.

Pada adegan aksi pelayan putri menyelamatkan sang putri, kisah mengalami arus balik. Hasrat dan cinta mulai menggenapi sang putri dan si pelayan. Selain itu, digambarkan bahwa benci yang terpendam bertahun-tahun dapat dipadamkan cinta. Cinta ialah obat rasa benci yang teramat.

Selang beberapa tahun kemudian, 2022, Park Chan-wook hadir dengan karya terbaru: Decision to Leave. Aspek roman muncul lebih tebal pada film ini. Dengan latar pengusutan kasus kematian misterius, detektif Hae-jun menaruh rasa penasaran yang taktertampung pada Seo-rae, istri korban yang sebenarnya berpeluang dijadikan tersangka.

Dengan kosakata bahasa Korea yang terbatas dan gerak-gerik yang takterduga, Hae-jun terbetot sosok Seo-rae  alih-alih menguak kasus. Ia larut dalam rasa penasaran yang menggebu. Di tengah pengusutan dan interogasi yang intens, gayung bersambut. Seo-rae mulai menyelidiki sang detektif. Keduanya saling menyelidiki.

Berbeda dengan kondisi cinta pada The Handmaiden yang menerabas struktur sosial, pada film ini, seorang detektif dan terduga pelaku—sekaligus istri korban—saling membangun hubungan yang mendebarkan dan menyiksa. Hubungan yang serbasalah, tetapi dapat serbabenar juga.

 “Kala kaumengatakan kaumencintaiku, cintamu sudah berakhir. Kala cintamu berakhir, cintaku dimulai.”

Decision to Leave (2022): Dendam, Pendam, Padam

Dendam yang Lain

Seiring keraguan yang kian membesar dan sikap yang ambigu, jalinan tersebut melahirkan tindakan-tindakan irasional. Salah satunya, adegan Hae-jun yang menguji rasa penasarannya kepada Seo-rae dengan berdiri di ujung jurang dan melihat aksi yang dilakukan perempuan tersebut: mendorongnya ke jurang atau mendekapnya.

Selanjutnya, kenyataan terus mengoyak meraka. Cinta yang mulanya menggerakkan kedunya justru seketika menjelma benci takterperi. Seo-rae ambil inisiatif untuk menghilang dan berharap dirinya hidup sebagai misteri yang takberkesudahan bagi Hae-jun. Kondisi ini membuat pria ini terjaga di waktu malam dengan siksa hebat.

Melalui film ini, Park Chan-wook dapat menunjukkan dendam dan cinta bukanlah hal yang terpisah dan jarak jauhnya. Keduanya saling menyebabkan satu sama lain. Cinta berakhir dengan dendam; dendam berakhir dengan cinta. Energi cinta dan dendam menjebak manusia dalam kondisi irasional, mungkin hakikatnya.

Infografik Decision to Leave (2022): Dendam, Pendam, Padam oleh ulasinema

Baca juga: The Boy with Moving Image – Absurditas dalam Usaha Memahami

Penulis: Anggino Tambunan
Penyunting: Muhammad Reza Fadillah