Review Film Noktah Merah Perkawinan (2022)

0
56
Review Film Noktah Merah Perkawinan (2022)

Noktah Merah Perkawinan layaknya musik pop yang renyah. Liriknya nyelekit, tetapi nadanya mudah dicerna. Duet Marsha Timothy dan Oka Antara tampil memikat, menciptakan sekat hubungan yang tepat untuk pertengkaran rumah tangga yang hebat.

Lika-liku pernikahan memang jadi bahasan yang atraktif dalam dunia sinema. Salah satu karya terbesar anyar mungkin Marriage Story (2019) karya Noah Baumbach yang begitu masyhur, baik di hadapan kritikus maupun penonton luas. Jauh sebelum itu, Indonesia pun pernah hadirkan sinetron Noktah Merah Perkawinan yang tayang mulai tahun 1996 hingga 1998.

Sabrina Rochelle coba menghidupkan lagi kisah lama Noktah Merah…, kali ini dalam medium film layar lebar. Ada dua tantangan besar yang dihadapi film ini. Pertama, apakah nama dari sinetron lama tersebut bisa menjadi daya tarik pasar pada masa sekarang. Lalu, yang kedua ialah hal baru apa yang dapat ditawarkan dalam kelamnya dunia pernikahan di perfilman.

Tanpa terlalu memusingkan kedua hal ini, tugas Rochelle sebenarnya hanya satu: membuat film berkualitas. Hal ini pun bisa membuat kita lupa akan pertanyaan-pertanyaan di atas. Dalam film keduanya ini pun, rasanya sutradara perempuan ini berhasil mewujudkannya.

Mungkin, kesulitan terbesar sebenarnya ialah memilih dua aktor utama yang tepat dan mengeluarkan akting terbaik mereka. Dalam hal ini, Rochelle juga berhasil. Oka Antara sebagai Gilang dan Marsha Timothy sebagai Ambar tampil brilian. Bahkan dalam jeda-jeda takberbahasa mereka, raut muka serta gerak-gerik tubuh mereka hampir selalu tepat.

Timothy di sini begitu mengalir. Ambar diciptakan memiliki watak yang keras, tetapi dengan sentuhan lembut sang aktris, kita dapat menerima segala prasangka-prasangka serta tindak-tanduk yang mungkin terlihat irasional. Di sini, Timothy seakan menunjukkan akting terbaiknya dengan cakrawala emosi yang begitu luas.

Sementara bagi Antara, peranan ini seakan terlahir untuk dirinya. Memang, ia mungkin menawarkan hal yang sedikit berbeda dari Cok Simbara, pemeran karakter yang sama di sinetronnya. Cara Antara menahan emosi, meluapkan air mata, serta senyuman-senyuman kecilnya, menahbiskan dirinya bahwa ia memang Gilang Priambodo.

Di antara semua kebrilianan akting ini, pujian pun kembali kepada Rochelle sang sutradara serta penulis skenario bersama Titien Wattimena. Dalam menampilkan dua karakter pasutri yang sedang bermasalah, mudah bagi kita untuk menilai mana yang salah dan mana yang benar. Namun, dalam Noktah Merah setiap kali satu karakter bertindak, selalu ada alasan kuat di baliknya. Ambar dan Gilang dibuat sangat berimbang sehingga kita takperlu memusingkan harus memilih siapa.

Dalam segala keruwetan hubungan perkawinan, memang jalan tersulit mungkin harus diambil. Film-film perkawinan yang punya masalah ruwet kerap kali memiliki tendensi harus bercerai, atau menerima satu sama lain dalam cara yang paling pahit. Ada pertanyaan nilai dasar seperti ini, terutama setelah kita melihat situasi sinetron aslinya yang begitu kaos.

Rochelle dan Wattimena takmengambil jalan yang sepertinya sudah pasaran ini. Mereka mengambil akhiran tradisional, yaitu akhiran positif. Akhiran seperti ini kerap terasa klise, tetapi penjabaran sepanjang satu setengah jam yang kuat, serta akting hebat dari Oka Antara pada adegan akhir untuk rujuk, membuat kita menerimanya dengan mudah.

Akhiran positif seperti ini seakan menyiram dahaga kita yang pesimis akan pernikahan modern yang punya tendensi eksplosif hingga cerai jadi jalan terakhir. Sisi ini menjadi hal yang jitu dalam segi penulisan.

Sayangnya, mungkin ada hal yang terasa jauh dari masyarakat Indonesia secara keseluruhan. Seperti yang ditampilkan pada awal cerita, Rochelle punya tugas besar untuk memasarkan filmnya, baik dari sisi nama Noktah Merah Perkawinan yang diadaptasi dari sinetron, maupun dari segi kualitas, dalam hal ini termasuk relasi sosial kepada masyarakat.

Masyarakat menengah ke atas mungkin paham dengan problema “tersier” milik Ambar: permasalahan komunikasi. Bagi masyarakat Indonesia, problem seperti ini mungkin sulit dimengerti mengingat ada beberapa permasalahan fundamental yang serasa lebih mendesak untuk memilih perceraian: semisal masalah finansial maupun perselingkuhan.

Kedua hal di atas jadi permasalahan, tetapi hanya sebagai bahan bakar dari api yang sudah menyala. Pada akhirnya, hal ini bisa jadi poin yang menyudutkan Ambar bagi penonton yang kurang bisa memahami permasalahan perempuan ini secara utuh. Bagaimanapun, tiap kelas sosial punya permasalahannya tersendiri yang ingin dibagi, bukan?

Hadirnya Noktah Merah Perkawinan pun menambah ramai alunan perfilman bagi penikmat dewasa di Indonesia. Duet Timothy dan Antara jadi motor utama, disokong dengan penyutradaraan apik Rochelle dan skenario manisnya bersama Wattimena. Tembakan-tembakan gambarnya yang indah pun bisa menangkap film ini secara utuh, dengan pewarnaan yang jitu untuk menuansai naik-turun emosi di tiap adegannya. Minus sedikit dalam perihal teknis ada pada skoringnya yang agak nge-pop untuk film yang serius.

Infografik Review Film Noktah Merah Perkawinan (2022) oleh ulasinema.

Penulis: Muhammad Reza Fadillah
Penyunting: Anggino Tambunan