Review Film Star Wars: Episode IX – The Rise of Skywalker (2019)

0
236

Star Wars: The Rise of Skywalker masuk pasar dengan berbagai rintangan. Rintangan ini dimulai dari gonta-ganti sutradara, hingga ditinggalkan fans karena The Last Jedi dianggap mengecewakan. Dengan kesulitan seperti ini, akankah film terakhir dari saga baru Star Wars ini sukses?

Problematika Pra-Produksi

Saat trilogi terbaru Star Wars diumumkan beberapa tahun lalu ketiga film ini akan disutradarai oleh tiga orang yang berbeda, sama seperti trilogi pertamanya. Dimulai dari Episode VII disutradarai J.J. Abrams yang sukses mendaur ulang Star Trek. Episode VIII disutradarai Rian Johnson yang sukses membesut Looper. Episode IX akan disutradarai oleh Colin Trevorrow, sutradara yang pada saat itu hasilkan film unik Safety Not Guaranteed (2012) dan dipercaya tangani proyek baru Jurassic Park.

Abrams membuka Episode VII – The Force Awakens dengan baik, walau dengan catatan ceritanya begitu serupa dengan Episode IV, film pertama Star Wars dari George Lucas. Fans sedikit ragu, dengan trauma trilogi Episode I–III yang menodai keagungan trilogi pertama Star Wars (Episode IV–VI). Lalu, masalah besar terjadi pada Episode VIII The Last Jedi.

The Last Jedi yang dibesut oleh Rian Johnson tersebut mengacak-ngacak pakem film Star Wars yang telah dikenal dan dicintai fans. Ia juga agak mengabaikan pembangunan The Force Awakens dan yang paling parah, yaitu mengacak-acak karakter Luke Skywalker. Fans membencinya, menganggap perubahan drastis Luke pada Episode VIII sangat janggal. Namun, banyak juga yang memuji Rian Johnson karena mengambil jalan riskan dan menciptakan film yang unik dalam The Last Jedi.

Mundur sedikit sebelum The Last Jedi dirilis, Episode IX sempat kehilangan sutradara. Colin Trevorrow tidak sejalan dengan petinggi Disney. Ia pun mengundurkan diri. J.J. Abrams pun ditunjuk kembali menyutradarai film penutup saga ini. Abrams tidak punya banyak waktu untuk merampungkan skenario yang absolut. Sebab, kurang dari setahun ia ditunjuk menutup saga ini, syuting film sudah dimulai. Belum lagi meninggalnya Carrie Fisher yang disebut miliki peran vital dalam Episode IX.

Maju hingga dua pekan lalu, Abrams diwawancara mendalam oleh New York Times perihal Episode IX yang diberi judul The Rise of Skywalker. Singkat kata, Abrams seperti kurang “sreg”dengan penutup saga terbaru Star Wars ini. Ia ungkapkan sedikit rasa kecewanya terhadap The Last Jedi yang dibesut Johnson karena mengabaikan apa yang telah dibangunnya di The Force Awakens. Bagaimanapun, Abrams sebut tindakan Johnson dibutuhkan untuk membuat film penutupnya menarik.

AWAS BOCORAN!!!

Abrams Kesulitan Ikuti The Last Jedi?

Melihat The Rise of Skywalker seperti sebuah rangkuman saja, film yang terus bergerak ke sana-sini tanpa emosi yang memadai. Film ini punya masalah besar dalam memainkan tempo ceritanya, atau menentukan fokus cerita, atau memaksimalkan setiap adegannya. Tidak ada jawaban yang sahih, karena selepas menyaksikan film ini, penonton masih bingung apa saja yang terjadi dalam ceritanya.

The Rise of Skywalker terlihat berupaya keras mengeluarkan segala kartu As-nya. Dimulai dari menyatukan tiga tokoh protagonis utama Rey (Daisy Ridley), Finn (John Boyega) dan Poe Dameron (Oscar Isaac). Lalu, mengembalikan beberapa karakter dari film lama seperti Lando Calrissian (Billy Dee Williams), bahkan sampai menghidupkan kembali Han Solo (Harrison Ford) dan… Emperor Palpatine (Ian McDiarmid). Hingga membuat beberapa karakter antagonis (sebut saja Kylo Ren yang diperankan Adam Driver) menjadi baik.

Bayangkan sebuah film seperti layaknya dek kartu Remi. Kartu As diciptakan untuk mengungguli kartu-kartu lain, selain Joker. Hal ini membuat kemunculan kartu As ditunggu-tunggu. Namun, jika seluruh dek berisi kartu As, atau jumlahnya dilipatgandakan, permainan pun menjadi tidak menarik. Seperti inilah The Rise of Skywalker, memperbanyak kartu As tanpa terlalu memedulikan kartu-kartu bernilai rendah yang membuat permainan, atau dalam konteks film ini menarik.

Terlihat sekali dalam The Rise of Skywalker, Abrams mengambil jalan tengah. Ia sepertinya kesulitan mengikuti kekacauan The Last Jedi yang dibuat Johnson, tetapi harus tetap melanjutkannya. Selain itu, ia juga berkeinginan untuk membuat Episode IX ini dicintai fans.

Rey, Finn dan Poe Dameron berpelukaaaannnn

Untuk mengikuti jalan riskan Johnson, Abrams memasukkan banyak unsur mistis dan spiritual yang agak minim di film-film Star Wars sebelumnya. Ia menebalkan latar belakang Sith yang penuh dengan hal-hal mistis dan spiritual tersebut. Lalu, ia coba memainkan keprotagonisan dan antagonisan karakter-karakter dalam film ini, tidak hanya Kylo. Hal-hal riskan seperti ini patut dipuji.

Sayangnya, Abrams masih menggunakan cara yang serupa dengan The Force Awakens-nya, yaitu meniru jalan cerita dari trilogi pertama. Saat The Force Awakens agak menjiplak dengan A New Hope, The Rise of Skywalker agaknya meniru Return of the Jedi. Pengubahan Kylo menjadi baik pun seakan menjiplak kisah Vader dahulu, sehingga sulit memuji sisi ini.

Tulisan ini pun dapat ditutup lewat kutipan dari Abrams dalam wawancara yang sama dengan New York Times: “Saya tidak pernah mahir dalam akhiran. Saya kira saya tidak mahir dalam apa pun, tetapi saya tahu caranya memulai sebuah kisah. Mengakhiri kisah itu sulit.”

Infografis Star Wars Episode IX - The Rise of Skywalker

Penulis: Muhammad Reza Fadillah
Penyunting: Anggino Tambunan