Review Film Cats (2019): Penuh Riuh Hampa Cerita

0
214

Dibekali dengan perangkat teknologi mutakhir, Cats (2019) berhasil memvisualkan negerikhayalan berisi para kucing dengan serba-serbinya. Seni tari dan suara pun menambah kemewahan Cats. Namun sayang, film ini terasa hampa dalam hal kedalaman cerita. Cerita yang ditawarkan terasa sederhana dan dikemas secara klise.

Film ini dibuka dengan adegan bayangan sesorang wanita membuang sebuah karung berisi kucing di jalanan London, Inggris. Bayangan tersebut menghilang, dunia kucing pun mulai tersingkap. Beberapa kucing berwajah Robbie Fairchild, Laurie Davidson, Daniela Norman, Mette Towley, dan lainnya tampil serupa kucing memulai nyanyian sambil menyambut kedatangan kucing asing, Victoria (Francesca Hayward), di kawasan Kucing Jellicle. Kemudian, kucing berwajah Taylor Swift, Jenifer Hudson, dan Judi Dench juga muncul di adegan selanjutnya.

Film yang diadaptasi dari teater broadway berjudul sama garapan Andrew Lyoyd Webber ini terasa berusaha setia dengan medium asal-muasalnya. Hal ini terlihat dari tokoh-tokohnya, pilihan lagu, dan minimnya latar yang digunakan. Dengan dialih wahana ke medium film, Cats menjadi film yang sangat fantastis, tetapi terasa terlalu ramai riuh dan tidak menawarkan kisah yang pelik.

Para Cats sedang menyembah berhala.

Alih-alih membuat kisah yang dalam dan merefleksikan isu terkini, Cats justru hanya asyik dengan koreografi dan tembangnya. Sebagian besar cerita fokus pada perkenalan tiap tokoh kucing dengan sifatnya. Dalam mengenalkan satu tokoh, satu lagu digunakan. Hal ini terasa menghabiskan waktu. Di sisi lain, hal tersebut semacam usaha menebalkan bahwa film ini merupakan film fabel: kisah hewan yang memiliki karakter seperti manusia yang bisa berbicara dan memiliki karakter jahat, baik, licik, mudah menyerah, dan sifat lainnya.

Rumitan kisah yang ditawarkan, yaitu  adanya sebuah kompetisi untuk para kucing di kawasan Kucing Jellicle yang berhadiah terlahir kembali seperti diinginkan, semacam reinkarnasi. Seluruh kucing di kawasan tersebut berusaha dengan segala kemampuannya untuk mendapat hadiah tersebut. Kompetisi bakat pun dimulai. Kemudian, jalan cerita terasa sangat klise: kucing yang lemah dimudahkan jalannya, kucing yang licik akan kena batunya.

Kisah berdurasi 110 menit yang dapat ditonton oleh semua umur ini dikabarkan lemah di penjualan Box Office dan sejauh ini hanya mendapat skor film di bawah 4 di laman IMDb dan Metacritic. Hal ini mungkin lantaran tawaran cerita yang terlalu sederhana. Rasanya penulis skenario bisa mengembangkan Cats menjadi cerita yang relevan dengan situasi terkini dan berani menerobos keaslian cerita, bahkan membongkar habis cerita asli.

Para Cats lagi jogets.

Selain itu, film ini juga terasa sangat riuh. Ibarat peluru simpanan yang dikeluarkan saat bagian puncak, adegan puncak dalam film ini terasa muncul di beberapa adegan. Akibatnya, terlalu banyak keriuhan membuat penonton takmenemukan naik-turunnya sensasi. Bahkan, beberapa orang mungkin akan merasa jemu di beberapa bagian film.

Terlepas dari minimnya rumitan dan bahan refleksi di film garapan Tom Hooper, sutradara yang menukangi Les Misérables (2012), Cats berhasil menghibur dengan segala kecakapan teknik visual dan tata suara yang baik. Imajinasi kucing berupa manusia terlunasi meskipun meninggalkan berbagai kesan beragam bagi penonton. Beberapa lagu juga berhasil mengajak penonton untuk berkaraoke, antara lain lagu “Mr. Mistoffelees” dan lagu “Memory” yang dibawakan Jenifer Hudson.

Secara umum, film ini layak ditonton dan menjadi film akhir tahun yang menghibur, terutama buat anak-anak. Cats mampu mewujudkan dunia kucing dengan segala keajaibannya di dalamnya. Tarian dan nyanyian setiap tokoh dapat menyihir penonton meskipun aspek cerita dalam film ini terasa tidak terlalu utama dan terasa sangat klise. Meriah, tetapi tidak memberi ruang refleksi.

Infografis film Cats (2019) garapan Tom Hooper

Penulis: Anggino Tambunan
Penyunting: Muhammad Reza Fadillah