Review Film No Time to Die (2021)

0
180

James Bond yang diperankan oleh Daniel Craig telah banyak memberikan perubahan dari para pendahulunya. Bahkan dalam No Time to Die, sutradara Cary Joji Fukunaga lebih menantang. Kisahnya lebih sentimental dan membuat sosoknya terikat, sehingga pergerakannya pun lebih terukur.

Setelah lima film sebagai 007/James Bond, Craig akhirnya menyudahi perjalanannya menjadi agen rahasia MI6 ini. Sejak Casino Royale (2006), kita melihat banyak hal baru dari Bond yang ia perankan dari para pendahulunya. Hal tersebut dimulai dari sosoknya yang lusuh saat bertarung, nuansa film yang lebih kelam dan cerdik sehingga melahirkan kesan film yang jauh lebih serius.

Melihat Bond-nya Craig harus ditatap dalam satu paket, lima film dalam satu saga yang bukan hanya penuh aksi, tetapi trik-trik cerdik yang membuatnya semakin menarik dan unik. Karakter-karakternya pun diberikan kontinuitas dan perpisahan yang pas dalam No Time to Die ini.

Selain beberapa anggota MI6 seperti M (Ralph Fiennes), Q (Ben Whishaw), dan Eve (Naomie Harris), karakter pendukung seperti Felix (Jeffrey Wright), dan Madeleine (Léa Seydoux) juga diberikan porsi yang pas untuk perpisahan bagi mereka juga.

Tentunya, perpisahan termanis diberikan kepada Bond yang diperankan oleh Craig. Takhanya diberikan cerita spionase pelik yang lahirkan kekerasan saja, unsur drama justru membuat film ini jauh lebih lembut dibandingkan film-film 007 yang dibintangi Craig juga. Bond kali ini memiliki ikatan yang jauh lebih dalam dengan beberapa karakternya, taklagi sefleksibel sebelumnya dalam beraksi.

Dengan adanya ikatan, bukan hanya penyelesaian misi dan menyelamatkan dunia semata yang menjadi taruhan Bond. Namun, lahir juga unsur untuk melindungi orang-orang terdekat, apalagi adanya permainan cinta yang membuat Bond jauh lebih sentimental. Bond bukan lagi sosok yang bisa seks sana-sini tanpa ada konsekuensi.

Mungkin hal ini sudah hadir dalam Casino Royale saat Vesper yang diperankan Eva Green begitu memikat dan mengikat Bond-nya Craig. Namun, kehadiran Madeleine yang bisa menawarkan jalan keluar dari hiruk-pikuk kehidupan Bond membuatnya begitu berbeda. Ditambah lagi, adanya kejutan dari Madeleine yang membuat Bond jauh lebih terikat, bukan hanya cintanya saja.

Beberapa film Bond sebelumnya saja sudah panjang dan rumit dengan adanya aksi dan spionase sehingga perlu pembuatan latar belakang yang jitu dan pengupasan masalah yang memakan waktu. Dengan hadirnya unsur drama yang mendalam, waktunya pun begitu molor, mencapai 2 jam 43 menit.

Bagian awal yang menceritakan latar belakang terasa agak terlalu cepat untuk membuatnya drama. Namun, begitu aksi sudah masuk dan konflik semakin nyata, kepiawaian Fukunaga dalam mengikat kita hampir selama tiga jam membuat film tak terasa lama dan membosankan.

Selalu ada trik menarik yang membuat kita terpikat, terutama adegan aksi di tangga di markas Lyutsifer Safin yang dibuat layaknya long take yang membuat ketegangannya semakin nyata. Rami Malek sebagai Safin sang musuh utama pun mengeluarkan aura kuat, mungkin hanya kalah dari Javier Bardem sebagai Silva di Skyfall (2012).

Akhirannya pun begitu emosional. Bond bukan lagi seorang pahlawan yang taktersentuh, ia terasa lebih manusiawi. Maaf Sean Connery atau para aktor yang sebelumnya memerankan Bond, mungkin hanya Craig yang bisa menjadi Bond yang seperti ini. Skenario yang ditulis Phoebe Waller-Bridge dkk. memang sangat dipersiapkan untuk memberikan emosi yang kuat.

Mungkin ada beberapa kalimat yang terdengar terlalu murahan dan taksesuai dengan karakter Bond. Permasalahan penyebaran virus yang dibuat juga sedikit dipertanyakan, sedikit noda tersebut membuat No Time to Die sedikit inferior dibanding Casino Royale dan Skyfall. Namun, bagi yang menunggu satu setengah tahun untuk film ini, dan enam tahun dari film terakhirnya, Spectre (2015), penantiannya terbayar dengan manis.

Baca juga: School of Rock (2003): Belajar Menjadi Seorang Guru dari Anak Band

Penulis: Muhammad Reza Fadillah
Penyunting: Farhan Iskandarsyah