Review Film No Hard Feelings (2023): Duet Komedi Tanpa Kemistri

0
181
Review Film No Hard Feelings (2023): Duet Komedi Tanpa Kemistri

Jennifer Lawrence mungkin takasing dengan genre komedi, tetapi pada No Hard Feelings, untuk pertama kalinya, ia harus benar-benar “melucu”. Dalam film terbaru Gene Stupnitsky ini, ia berduet dengan aktor muda, Andrew Barth Feldman. Sayang, kemistri keduanya takterjalin dengan baik.

No Hard Feelings mengisahkan seorang perempuan berusia 32 tahun, Maddie (Lawrence) yang terancam kehilangan rumahnya setelah mobilnya disita. Hal ini pun menjadi masalah sebab Maddie menggunakan mobilnya untuk kerja sampingan sebagai pengendara daring. Alhasil, ia pun kehilangan mata pencarian yang dapat menyelamatkan rumahnya dari sitaan institusi pajak.

Ia pun menerima kabar bahwa ada pasutri kaya yang siap menghadiahkan mobil kepada siapa pun dengan satu syarat: mengajak anak mereka yang berusia 19 tahun untuk berkencan dan berhubungan seks. Maddie pun menerima tawaran tersebut tanpa sepengetahuan si anak remaja, Percy (Feldman). Percy diajak keluar dari “cangkangnya” sehingga ia perlahan cinta kepada Maddie. Sementara itu, Maddie merasakan adanya hubungan pertemanan nyata dengan Percy walau hubungan awal mereka hanyalah konstruksi semata.

Dengan plot tersebut, kisah yang ditawarkan Gene Stupnitsky dan John Phillips ini memang bukan hal baru. Bagaimanapun, yang membuatnya segar mungkin karena makin minimnya film-film komedi konvensional yang naif seperti ini di tengah rumitnya situasi sosial-politik modern. Perbedaan sosial antara milenial dan Gen Z pun sempat dikomedikan dengan tepat.

Bagaimanapun, kekuatan utama film ini seharusnya ada di duet Lawrence dan Feldman sebagai dua pemeran utama. Lawrence memang takasing dengan komedi, ia besar di sana lewat Silver Linings Playbook (2012), lanjut ke American Hustle (2013) dan terakhir, Don’t Look Up (2021). Bagaimanapun, ini pertama kali Lawrence tampil dalam komedi yang memaksanya untuk menjadi jenaka, tanpa embel-embel karakter yang bipolar atau tema filmnya yang satir.

Sebagai “dagangan” terbesar dalam film ini, Lawrence berusaha keras untuk melucu. Layaknya di Silver Linings, ada masa-masanya ketika akting eksplosifnya keluar demi mengundang tawa. Ia pun tampil total dengan tampil tanpa busana dalam adegan panjang. Sayang, totalitasnya ini terasa takseirama dengan filmnya. Selain Stupnitsky yang takbisa mengendalikan aktris sekaliber Lawrence, sang aktris sendiri seperti berusaha terlalu keras hingga takseirama dengan filmnya.

Usaha keras Lawrence terasa asing di tengah aktor-aktor lainnya yang tampil seadanya. Parahnya lagi, kemistri yang dibangun dengan Feldman pun terasa lemah. Afeksi Maddie ke Feldman terasa taknyata karena dalam beberapa adegan sebab Lawrence terkesan kaku. Sebaliknya, Percy yang naif dengan pas diperankan dengan Feldman walaupun usahanya bangun kemistri dengan Maddie selalu gagal.

Perbedaan usia memang jadi penghalang terbesar kemistri mereka. Koneksi Percy dan Maddie pun gagal ditampilkan dengan baik oleh Feldman dan Lawrence. Bagaimanapun, No Hard Feelings rasanya menyadari hal ini. Dalam nuansa filmnya yang naif, film ini takmencoba untuk berklise, berandai-andai terlalu jauh, dan akhirnya kembali ke realitas.

No Hard Feelings memang formulaik. Film ini kembali menampilkan situasi konyol yang langka dari realitas dan beberapa kali menjual erotisme. Stupnitsky dan Phillips bisa saja membuat karakternya lebih kompleks dengan cerita yang berbelit-belit untuk membuat filmnya lebih baik. Namun, mereka takmelakukannya meski hal ini mungkin jadi angin segar bagi film genre komedi Amerika Serikat. Walaupun hasilnya jauh dari maksimal, film ini bisa mengembalikan lagi era-era film komedi ringan yang bisa dinikmati pada akhir pekan.

Infografik Review Film No Hard Feelings (2023): Duet Komedi Tanpa Kemistri

Baca juga:

Penulis: Muhammad Reza Fadillah
Penyunting: Anggino Tambunan