Review Film Trinity Traveler (2019): Perjalanan Mencari Kebahagiaan

0
721
Review Film Trinity Traveler (2019): Perjalanan Mencari Kebahagiaan

Film Trinity Traveler merupakan film kedua hasil adaptasi novel The Naked Traveler karya Trinity. Film ini kembali digarap oleh sutradara Rizal Mantovani. Bedanya, produksi film dibuat oleh dua rumah produksi film sekaligus, yakni Starvision Plus dan Tujuh Bintang Sinema. Seakan ingin membenahi kegagalan film sebelumnya, Rizal agaknya menggunakan sentuhan yang berbeda dalam film terbarunya ini.

Sentuhan sinematik di dalam film ini banyak menampilkan keindahan pemandangan dari beberapa destinasi wisata di berbagai negara. Berlatarkan destinasi tiga negara dan enam kota, tentu dapat memanjakan mata para penontonnya. Lokasi syuting yang dipilih cukup selektif, Rizal berusaha menampilkan destinasi wisata yang masih terbilang perawan.

Dewasa ini, tren untuk travelling atau menyalami destinasi-destinasi indah di seluruh belahan dunia memang masih digandrungi, khususnya oleh kawula muda. Layaknya sebuah perjalanan spiritual, travelling menjadi ajang pembuktian atas aktualisasi diri. Terlebih bila dapat menyambangi tempat-tempat eksotis dengan biaya minimalis. Sama halnya dalam film Trinity Traveler, cerita yang diangkat banyak memuat sisi kemandirian dari seorang traveller.

Sinopsis Film Trinity Traveler (2019)

Trinity (Maudy Ayunda) memiliki impian besar sebagai seorang travel blogger. Ia memiliki bucket list mengenai apa dan tempat apa saja yang harus ia penuhi sebelum usia tua. Demi mencapai impian tersebut, ia pun melakukan berbagai cara. Mulai dari mendapatkan diskon biaya perjanalan, mengatur jadwal keberangkatan, hingga berurusan dengan ibu bos (Ayu Dewi) demi mendapatkan izin cuti.

Rintangan dan hadangan pun silih berganti hadir menemani perjalanan Trinity. Dilema untuk memilih antara passion dengan kerjaan menjadi pergulatan dalam hidupnya. Selain itu, desakan kedua orang tuanya (Farhan dan Cut Mini Theo) untuk dapat segera menikah kerap mengganggu kegiatan travelling. Beruntungnya, ia memiliki dua sahabat yakni Yasmin (Rachel Amanda) dan Nina (Anggika Bolsterli) serta sepupunya Ezra (Babe Cabiita) yang menemani dan menghiburnya selama perjalanan.

Keajaiban dan keunikan juga sering ia temui, salah satunya adalah perkenalannya dengan Mr. X (Joseph Kara). Melaluinya, Trinity berkesempatan untuk berkunjung ke negara Maladewa secara cuma-cuma. Perjalanan tersebut justru membawanya menuju pertemuan dengan seorang traveller sekaligus fotografer tampan bernama Paul (Hamish Daud). Berkenalan dengan Paul, justru membawa takdir baru di hidupnya. Perkenalan ini memunculkan sebuah pencarian baru di hidupnya mengenai takdir, cinta, serta kebahagiaan.

Keutuhan Cerita sebagai Film Sekuel

Takbisa dimungkiri bahwa banyak dari penonton setia The Nekad Traveler (film pertama Trinity) yang menunggu dan bertanya-tanya kapan sekuel dari film tersebut muncul. Butuh waku dua tahun untuk menerbitkan sekuel sejak adaptasi film pertamanya rilis. Taksedikit dari penonton yang menaruh harapan besar pada film kedua ini.

Banyak yang menunggu kelanjutan perjalanan traveling Trinity, atau sekadar hubungan cinta antara Trinity dengan Paul. Namun, agaknya ekspektasi yang besar tersebut tidak dapat benar-benar terpenuhi. Pasalnya, sebagai sebuah film sekuel, Trinity Traveler tidak banyak menghadirkan jalan cerita ataupun permasalahan yang berbeda. Lebih tepatnya, film ini hanya sebagai sebuah remake dari film sebelumnya.

Adegan demi adegan yang terdapat dalam film ini sedikitnya juga terdapat dalam film sebelumnya. Seperti pertemuan Trinity dengan Paul, hingga destinasi perjalanan yang sama. Meskipun demikian, sebagai sebuah film stand alone, hal ini justru tidak akan membingungkan bagi mereka yang belum menonton film pertamanya.

Untuk jajaran pemainnya, film ini dibintangi para aktor dan aktris yang cukup mempunyai karakter yang kuat. Sebut saja seperti Babe Cabita yang berperan sebagai Ezra. Kehadiran Babe yang notabene seorang komika turut memberi warna tersendiri. Candaan serta gaya bicara yang khas seorang Babe dipastikan dapat membawa tawa dari penonton yang menyaksikannya.

Selain itu, kehadiran Farhan serta Cut Mini Theo yang berperan sebagai kedua orang tua Trinity sukses menyajikan gambaran orang tua pada umumnya. Problem keluarga yang diangkat seputar pernikahan juga berelasi dengan kehidupan saat ini.

Jikalau ada karakter yang dirasa perlu untuk ditingkatkan justru ada pada chemistry antara Hamish Daud dan Maudy Ayunda. Keduanya memiliki peran yang penting di dalam film tersebut. Peran sebagai pasangan kekasih masih terasa belum natural. Sedikitnya, terdapat beberapa adegan romantis yang kurang mengena di hati penonton, terkesan cringe.

Permasalahan yang Erat dengan Kehidupan Sehari-hari

Permasalahan yang dimuat dalam film ini cukup relevan dalam kehidupan sehari-hari. Permasalahan klasik seperti pencarian jati diri, pergelutan antara pekerjaan dengan pemenuhan passion, serta permasalahan cinta yang berujung pada desakan untuk segera menikah menjadi bumbu manis dalam cerita.

Trinity yang diperankan oleh Maudy Ayunda sukses menggambarkan problem yang sering dialami oleh para traveller. Penonton seakan diajak untuk melihat lebih dalam dunia travelling. Bukan hanya sisi menyenangkan saja, melainkan kesulitan serta perjuangan dari seorang traveller juga dihadirkan dalam film ini.

Penyajian konflik dan penyelesaiannya terasa komplet. Andai ada hal yang menjadi kekurangan, mungkin terletak dalam tempo dan garis besar cerita. Kendati film ini menyajikan tema yang menarik, penyampaian adegan disajikan dengan tempo yang sangat cepat. Hal ini tergambar dari cepatnya sebuah permasalahan serta penyelesaiannya terjadi. Sebab-akibat yang mendasari permasalahan tersebut sangat terasa kurang disampaikan. Rizal seakan ingin memfokuskan bukan pada drama dalam film, melainkan pada destinasi sebagai pondasi suatu adegan.

Film Trinity Traveler dapat menjadi rekomendasi menarik untuk menonton film di akhir pekan. Sebuah alternatif di tengah maraknya film horror yang tengah tayang belakangan ini. Terutama apabila Anda menonton bersama keluarga ataupun bersama orang yang dicinta. Keindahan destinasi wisata yang terdapat dalam film tentu dapat memberikan kesan menarik tersendiri. Apabila Anda merupakan pegiat travelling atau suka dengan dunia fotografi, agaknya sayang jika film satu ini terlewat begitu saja.

Penulis: Karomaen
Penyunting: Anggino Tambunan