27 Steps of May (2018): Memahami May Secara Penuh

0
350
27 Steps of May (2018) Memahami May Secara Penuh

27 Steps of May serupa jembatan kita untuk menghayati May secara penuh. Kita dituntun langsung oleh May pada detail kekerasan seksual yang dialaminya pada masa silam. Kita pun ikut terjebak dalam “ruangan” yang tak terjamah oleh tatapan orang lain.

Kamar May merupakan alam pikir May. Ruang bertarung antara ia dan pikirannya: tetap melanjut hidup atau mengakhiri hidup. Sepanjang film, di dalam rumah May tidak banyak dialog terdengar. Bahkan, May dan ayahnya terbiasa untuk menutup rapat bibir dan mengerti maksud satu sama lain melalui gerak tubuh. Seolah persoalan masa lalu ditutup rapat-rapat keduanya meskipun belum seutuhnya terlupa.

Kejadian masa lalu pun terus menghantui Ayah May. Segala marah, dendam, kecewa, dan sedih yang bertumpuk di pundaknya sebagai seorang ayah dicurahkannya pada arena tarung bebas. Ia tidak memiliki  tempat mengadu dan takseseorang pun yang mampu meredam amuknya, Ibu May tidak ada. Tempat ia mencurahkan beban hanya kepada kurir kerajinan boneka yang saban hari datang ke rumahnya.Tokoh kurir tersebut menjadi respresentatif masyarakat umum yang menilai keluarga May.

May dan ayahnya tiap hari memermak boneka perempuan dengan pakaian hasil jahit sendiri, pernak-pernik boneka, dan mengemasnya ke etalase. Adegan tersebut menunjukkan bahwa keduanya, May dan ayahnya, punya presepsi yang sama: dalam masyarakat, perempuan ialah objek yang mesti dihias, dikemas, dan tidak boleh ada kekurangan. Nilai ideal perempuan yang terkontruksi secara sosial budaya terus tertanam dalam pikiran keduanya. Pilihan pekerjaan tersebut yang disematkan penggarap naskah pada tokoh merupakan metafora yang mengena.

Opera-Snapshot_2019-04-29_082115_www.27stepsofmay.com_-971x414

Upaya keluar dari konflik pelik psikis ditampilkan beragam dan berseling. Kurir, tokoh pendukung yang memberi hela napas pada penonton sebab mampu memancing tawa, menawarkan cara klenik untuk mengatasi masalah May. Berkali-kali kurir mengundang orang “pintar” ke rumah May. Adegan tersebut  menyiratkan  bahwa May dianggap masyarakat sebagai orang yang sakit karena makhluk-makhluk gaib. Soal ini merupakan realitas yang bisa kita tangkap sehari-hari.

Cara lain keluar dari konfilk ditunjukkan dengan mengalihkan masa lalu dengan aktivitas yang menyibukkan alih-alih menghadapinya. Ayah May membiasakan May dengan rutinitas memermak boneka dan berolahraga.  Namun, cara tersebut tidaklah menyelesaikan persoalan. Hal tersebut justru menutup semua dialog deras yang mesti diucapkan May. Sejuta takut, marah, kesal, dan sedih tidak meledak semestinya.

Dalam 27 Steps of May, Konflik tidak diresolusikan dengan adegan ke psikolog atau psikiater, tetapi ditandai dengan kemunculan lubang kecil di ruang May yang membantunya menatap dunia luar. Film yang bersifat surealis ini menunjukkan ada proses yang panjang untuk penyintas memandang sebuah jalan keluar dari “ruangan”: berbaur dengan kehidupan masyarakat. Butuh waktu untuk memberanikan diri “mengintip” dunia luar.

sg

Lambat laun lubang di dinding kamar May mulai membesar. Dikisahkan, May dapat melihat pesulap yang menarik hatinya. Kehadiran pesulap dipahami sebagai tokoh ayah yang ideal nan lembut hati. Ayah yang mampu dipercaya oleh May dalam bercerita. Sedikit demi sedikit, May mulai menceritakan masa lalunya: adegan kronologis pemerkosaan dengan rinci kepada sang pesulap. Sang pesulap mampu menampung semua persolan yang dihadapi May. Sang pesulap adalah oposisi dari sang ayah yang sangat kasar dan penuh dendam.

Adegan May mengisahkan ulang masa lalunya dan coba mengartikulasikan pikirannya kepada ayahnya merupakan adegan yang paling emosional sebab mampu menyentuh kemanusian kita. May mati-matian bersusah payah meyakinkan diri bahwa tidak ada yang salah terhadap dirinya dan masa lalunya. Juga tidak ada yang hilang dari dirinya.

27 Steps of May tidak menawarkan penegakan benar atau salah. Dunia May meyadarkan kita untuk memahami manusia secara lebih luas. Film ini semacam jembatan kita dalam memahami penyintas.

Baca juga: Shazam! (2019): Film Natal Salah Tanggal Tayang

Penulis : Anggino Tambunan
Penyunting : Muhammad Reza Fadillah