Shazam! (2019): Film Natal Salah Tanggal Tayang

0
319
Shazam! (2019): Film Natal Salah Tanggal Tayang

Saat publik sedang marak-maraknya menanti akhiran dari fase keempat Marvel Cinematic Universe, yaitu Avengers: Endgame, pesaingnya, DC Extended Universe justru mengeluarkan film pahlawan super terbaru. Pahlawan super itu bernama Shazam yang awalnya di komik diperkenalkan sebagai Captain Marvel. Film Shazam! pun harus tampil di tengah-tengah dua “badai” MCU.

Captain Marvel Sebelum Shazam!
Hampir satu abad lalu, perusahaan komik yang bernama Fawcett Comics membuat pahlawan super bernama Captain Marvel. Pada tahun 1940-an, ketenaran Captain Marvel bahkan melebihi pahlawan super unggulan DC Comics, yakni Superman. Menganggap Captain Marvel terlalu mirip dengan Superman, DC pun menggugat Fawcett dengan tuduhan penjiplakan. DC ternyata kalah dan Fawcett memegang hak cipta Captain Marvel.

Shazam_No_01_1973
Edisi pertama Shazam! di DC Comics. Masih menggunakan nama Captain Marvel.

Bagaimanapun, usai Perang Dunia II, penjualan komik Captain Marvel menurun drastis. Fawcett pun pada akhirnya menjual hak cipta nama Captain Marvel kepada DC pada tahun 1972. Sayangnya, nama “Marvel” sudah tak asing, nama perusahaan komik yang menjadi saingan berat DC. Bahkan, Marvel Comics sudah ciptakan nama pahlawannya yang bernama Captain Marvel juga. DC pun menamai komiknya Shazam!—kata ajaib yang digunakan Captain Marvel mereka untuk berubah wujud. Namun, mereka masih menggunakan nama Captain Marvel sebagai tokoh mereka.

Walau terus menggunakan nama karakter Captain Marvel, nama Shazam! tetap terpampang di sampul komik. Akhirnya, pada tahun 2012 DC menghapus nama Captain Marvel dan menggantinya dengan Shazam!. Uniknya, film Shazam! keluaran DC Extended Universe memiliki jadwal tayang yang berdekatan dengan Captain Marvel produksi Marvel Cinematic Universe.

MV5BOGE5ZWUyODctMmVhYy00MmUxLTg5N2MtMjcyNjE5NDExOTZjXkEyXkFqcGdeQXVyNDQxNjcxNQ@@._V1_

Film Shazam! di Tengah Badai Marvel
Film Shazam! berkisah tentang seorang anak balita bernama Billy Batson yang kehilangan ibunya. Ia terus mencari ibunya dan tak pernah berhasil. Tertangkap polisi, Billy dibawa ke sepasang orang tua asuh yang memiliki lima anak asuh lainnya. Ketika salah satu saudara angkatnya, Freddy, ditindas teman sekolahnya, Billy awalnya tak ingin peduli. Namun, ia tak tega dan justru menolong Freddy. Billy kabur, naik kereta bawah tanah dan tiba-tiba bertemu penyihir tua. Penyihir tua itu memaksa Billy untuk mewariskan sihirnya. Dengan mengucapkan “Shazam!” tiba-tiba Billy berubah menjadi orang dewasa yang memiliki setelan pahlawan super.

Dari sana, Anda pasti sudah bisa menerka bahwa film ini sangat kuat elemen kekeluargaannya. Mengambil tema keluarga dan menetapkan latar waktu sekitar Natal, Shazam! merupakan film Natal yang salah tanggal tayang. Penderitaan tanggal tayang film ini ditambah lagi dengan pesaingnya, Captain Marvel yang rilis duluan. Apalagi, film ini harus bersaing dengan akhiran fase keempat MCU, yaitu Avengers: Endgame yang sangat dinanti.

Bisa dimengerti jika film ini tak tampil pada Natal tahun lalu, sebab DCEU telah merilis Aquaman pada bulan Desember 2018. Sementara itu, tanggal rilis Shazam! pada bulan April mungkin agar tak tertinggal jauh dengan Captain Marvel. Jika berandai-andai, film ini bisa lebih kuat jika tayang Natal.

Di tengah badai MCU serta beberapa film menarik lainnya yang tayang sebelum dan sesudah Shazam! (Us, Hellboy, Pet Sematary, dll.) film ini untungnya punya kekuatan unik. Jarang ada film pahlawan super yang fokusnya pada keluarga. Daripada menyembunyikan identitas untuk melindungi keluarga, sang pahlawan justru meminta bantuan keluarga untuk hadapi musuhnya. Belum lagi keluarganya bukan keluarga kandung, melainkan keluarga satu orang tua angkat.

Efektif dan Efisien
Sutradara David F. Sanberg terlihat agak kesulitan membuka film ini. Masih ingin menggunakan suasana gelap film DCEU, tetapi memperbanyak unsur komedi dalam takaran yang tepat. Suasana film memang agak berubah ketika tokoh Billy pertama tampil. Namun, dengan langit gelap Philadelphia pada masa Natal, suasananya lumayan terjaga. Baju Shazam! yang berwarna merah terang bahkan terlihat menarik, tak norak. Visual Shazam! secara keseluruhan pas, tak ada sentuhan efek berlebihan yang bisa memperburuk tampilan film.

fid5220_ftrid20941

Performa Zachary Levi sebagai Shazam! benar-benar mengangkat film ini. Kelakarnya sebagai anak muda yang tiba-tiba jadi pahlawan super memang sangat pantas. Apalagi, suasana film sangat bergantung pada performa Levi. Penonton yang pada awalnya bingung akan pembuka film yang gelap, jadi tahu ke arah mana film ini akan berlayar. Candaannya efisien, tak berlebihan.

Selain itu, pertarungan akhir film ini juga efektif dan tak terlalu fiktif. Walaupun memiliki kekuatan yang hampir serupa dengan Superman, nyatanya pertarungan dibuat lebih cerdas dan terfokus. Anda pasti ingat bagaimana pertarungan akhir Superman melawan General Zod di Man of Steel (2013) yang seperti ingin tampil bombastis saja dengan hancurkan seluruh gedung-gedung.

Mungkin, yang paling disayangkan dalam film ini, yaitu kurang kuatnya adegan dramatis. Skoring serta penyuntingan suara dan film yang biasa saja tak banyak mendukung kekuatan adegan dalam film. Namun, sebagai film perkenalan, sekali lagi Shazam! memang efektif dan efisien.

Baca juga: Pirates of Caribbean: Dead Man Tell No Tales (2017) — Jack Sparrow Semakin Tertatih-Tatih

Sumber Gambar: IMDb.com
Penulis: Muhammad Reza Fadillah
Penyunting: Anggino Tambunan