Border (2018): Menembus Dinding Curiga

0
347
Border (2018): Menembus Dinding Curiga

Pintu kedatangan tak melulu menjelma pelukan hangat bagi pendatang. Isu antipendatang pun makin mengokohkan tembok sentimen dan curiga antarmanusia. Melalui film drama fantasi asal Swedia, Border (2018), Ali Abbasi mampu menangkap soal yang relevan ini ke dalam sinema.

MV5BNzM1ZmE0ODUtNGRlOC00ZjNhLWIyMzEtZDJhOTI0OTNhZjIwXkEyXkFqcGdeQXVyNTc3NzQ5NDU@._V1_

Film ini berpusat pada tokoh Tina, petugas bea cukai yang secara fisik digambarkan buruk rupa. Jika bukan karena kecakapan dalam “mengendus” kejahatan di pintu kedatangan, ia barangkali tidak akan punya peranan di masyarakat. Bahkan, ia juga dicitrakan sebagai pribadi yang kesepian. Sebab begitu kesepian, Tina “bercakap-cakap” dengan satwa liar dari hutan dekat rumahnya.

Sebenarnya, Tina memiliki orang terdekat: ayah yang lupa ingatan dan teman serumah, Roland, yang sibuk mengurusi anjing-anjing. Namun, keduanya tidak menggenapkannya sebagai manusia. Tindak laku keduanya kepada Tina sungguh metaforis: ia tak diingat dan diasingkan. Jalan mengupas identitas Tina jadi alur yang akan diikuti penonton. Kedatangan Vore, pria yang berperawakan serupa dengan Tina membuka kisah.

Asal-muasal Vore mulai terkuak. Persuaan keduanya mengagetkan Tina: ia mendapat jawaban atas diskriminasi yang diterima sejak kecil. Ia serasa hidup untuk kedua kalinya, tetapi kali ini sebagai troll. Luapan rasa atas pertemuan entitas yang sama menenggelamkan keduanya, Tina dan Vore, dalam danau kebahagian. Adegan tersebut sangat emosional dan sentimental.

border

Menjadi Tina
Ali membuat bangsa troll dalam kisah ini sebagai metafora pendatang. Di Swedia, isu antipendatang berembus kuat, mulai dari kedatangan imigran hingga isu populis pada pemilu Swedia: antiimigran. Film ini dapat mengupas sisi tak terlihat si pendatang, baik yang sudah menetap dan yang ingin menetap.

Tina hanya satu dari banyak kasus diskriminasi terhadap pendatang. Kasus serupa bisa ditemukan di belahan dunia lainnya. Di Amerika dan Venezuela, tembok perbatasan ingin ditutup tanpa celah. Olehnya, Tina adalah representatif pendatang yang setiap hari mengalami tekanan sosial dan mental. Menjadi Tina merupakan usaha memahami manusia.

Saat menonton, penonton dapat memahami bahwa Tina merasa rendah. Sebab frustrasi dengan kehidupan sosial, Tina kembali pada alam yang mencitai siapa saja, termasuk dirinya. Kemampuan Tina berbicara dengan hewan tidak mengherankan meskipun sejak awal kita mengerti kisah ini dibawakan secara fantasi. Ali mengabari kita tentang alam yang tak membeda-bedakan.

MV5BNTk5YzdmZjYtNDkxNy00OGM0LWI0YjgtNjU4ZWM2NGQwOWUzXkEyXkFqcGdeQXVyNTc5OTMwOTQ@._V1_

Barangkali adegan kembali kepada alam merupakan semangat romantisisme untuk kembali kepada cinta yang purba: ledakkan cinta kepada sesama manusia dengan kecurigaan dan sentimen yang minimal. Mungkin juga, melalui Border (2018), Ali sedang mengajak kita untuk nostalgia ke masa lampau yang dianggap indah.

Dalam film ini, Tina pun tidak punya tempat untuk mengadu. Keberadaan Roland bagi Tina terasa hanya formalitas tanpa substansi hubungan antarmanusia, lebih-lebih hubungan profesionalitas Tina dengan koleganya saat menjadi petugas bea cukai. Praktis, tidak ada sistem pendukung untuk Tina dalam merayakan dan menyumpahi kehidupan. Alhasil, ia rentan depresi.

Semangat membenci yang berbeda, uniknya, ditunjukkan juga terjadi pada Tina. Vore dan Tina mengusir Roland dari rumah. Roland dianggap berniat buruk. Sentimen dan curiga Tina lambat laun menderas kepada Roland. Secara tersirat, adegan ini menunjukkan potensi membenci ada pada semua orang, mulai dari alasan ekonomi, politik, berbeda fisik, hingga tak beralasan, absurd!

Dalam mengatasinya, siasat terakhir yang ditunjukkan dalam film ini dalam menghalau kebencian terhadap entitas yang lain, yaitu  empati. Tina tak sampai hati mencelakakan manusia sebab ia telah menghayati sebagai manusia. Barangkali kita mesti kembali menjadi manusia yang mencintai sesama, tidak menjadikan yang lain troll.

Baca juga: A Separation (2011): Teka-Teki Adil

Penulis : Anggino Tambunan
Penyunting : Muhammad Reza Fadillah
Sumber Gambar : IMDb.com