Review Film Broker (2022): Sajian Beda Koreeda

0
13
Review Film Broker (2022): Sajian Beda Koreeda
Review Film Broker (2022): Sajian Beda Koreeda

Hatam di Jepang, lalu usai berkelana ke Prancis, Hirokazu Koreeda, mencoba tantangan baru di Korea Selatan dalam Broker (2022). Bersama aktor kawakan, Song Kang-ho, sutradara asal Jepang ini masih menggunakan unsur realisme kuat khasnya. Namun, sepertinya, ia agak kesulitan mencampurkannya dengan komedi khas drakor.

Broker di satu sisi sangat Koreeda. Ia kembali menggunakan banyak karakter yang peranannya seperti keluarga. Lalu, suasana yang dihasilkannya sangatlah hangat, luwes, dan begitu hidup. Kepiawaiannya dalam menyelipkan momen-momen sentimental yang tanpa paksaan membuat penonton berempati.

Hal yang lebih “Koreeda” lagi dalam film ini ialah adanya unsur kriminalitas dalam dunia super-realitas yang ia bangun. Kehangatan dan kelembutan dari para karakternya, walaupun para pelaku kriminal, memiliki sifat-sifat yang sangat baik. Dalam Broker ini Koreeda memang seperti memberi kacamata baru dari sudut pandang para pelaku kriminal perdagangan manusia ini.

Mungkin, kacamata yang diberikan Koreeda sangat semu. Semua orang bisa berlaku superbaik walaupun melakukan kejahatan yang sebenarnya begitu keji. Walaupun penonton bisa berempati tanpa paksaan, tetapi terasa ada paksaan juga dari pembentukan karakternya. Perlahan-lahan, Koreeda memberikan pembenaran atas tindakan-tindakan kriminal dari para karakternya.

Frasa super-realitas pun makin menjadi kenyataan palsu kala para pelaku kriminal seakan menjadi seorang santo. Perbuatan dan sifat mereka terlihat seperti orang yang punya kebaikan tanpa cela. Bahkan, So-young (Lee Ji-eun/IU), yang melakukan pembunuhan dan hendak menjual anaknya sendiri, berkali-kali diberikan kesempatan oleh Koreeda untuk membenarkan perbuatannya.

Memang, layaknya Shoplifters (2018), Koreeda baru menghukum karakternya pada akhir film. Hal inilah yang seakan membalikan cerita kembali ke realitas walaupun seperti terlalu bertumpuk di akhir. Bagaimanapun, dengan narasi dan sudut pandang yang dibangun, sulit bagi kita menghakimi So-young, Dong-soo (Gang Dong-won), dan Sang-hyeon (Song Kang-ho) sebagai orang jahat.

Yang perlu diingat, Koreeda sang master super-realitas Jepang memang sedang menjelajah. Kedatangannya di Busan membuat ia beradaptasi dengan sinema Korea Selatan. Nuansa film dibuat sangat santai dan penuh canda-tawa. Beberapa momen pun dibuat sangat sentimental dan benar-benar kuat, layaknya adegan di bianglala dan mematikan lampu di hotel.

Unsur-unsurnya lebih banyak berhasil, tetapi dalam penjelajahan dan percobaan, pasti ada juga kegagalan. Kita memang bisa menerima kesemuan perjalanan Sang-hyeon karena sinema takmelulu harus berlarut dalam lautan kesedihan. Broker memang hadir untuk menghangatkan jiwa kita dari realitas yang begitu dingin, yang kerap dijadikan latar belakang film-film Koreeda.

Semua karakter memang begitu padu. Semuanya juga diberikan latar belakang kuat dengan momen-momen sentimentalnya masing-masing. Namun, beragam kesulitan yang dihadapi, lalu cara mereka menerimanya dengan baik-baik memang terasa takrealistis. Mungkin, ini salah satu cara Koreanisasi Koreeda untuk filmnya ini. Bagi penggemar Koreeda, hal ini agak sulit diterima.

Upaya Koreanisasinya juga didukung oleh kehadiran Song Kang-ho yang begitu luwes dalam menyupiri keluarga semunya. Kehadirannya seakan menjadi rantai yang menghubungkan para pemain lainnya. Bisa dibilang, dialah jiwa utama dari film ini.

Selain itu, perbedaan yang dibawa oleh Koreeda dalam film ini ialah ajakan agar penonton menghakimi para karakternya setelah diberikan “kesaksian” mereka masing-masing. Unsur ini membuat kita diingatkan oleh film-film Asghar Farhadi walaupun nuansanya berbeda 180 derajat.

Penyesuaian atau penjelajahan di atas mungkin bisa diampuni selama esensi filmnya masih terasa. Sayangnya, ada usaha berlebihan untuk mendramatisasi film lewat skoring yang terlalu dramatis. Koreeda yang biasanya tanpa paksaan menjebak penonton untuk berempati dengan karakter-karakternya justru malah terlalu memaksa dengan hadirnya skoring yang takpenting ini.

Mungkin, kita boleh sedikit melupakan hadirnya unsur-unsur kekurangan ini. Ada kalanya kita datang ke sinema untuk merasakan kehangatan yang dihadirkan oleh keluarga semu yang dipersatukan oleh Woo-sung, si bayi. Dua jam bersama Broker merupakan sebuah fasad yang menyembunyikan realitas keji di belakangnya.

Baca juga: Start Up (2019) – Sebuah Komedi Satire

Penulis: Muhammad Reza Fadillah
Penyunting: Anggino Tambunan