Wregas Bhanuteja mengadopsi budaya kesurupan Ebeg dan Jaranan dalam Para Perasuk (2026). Taksemata membahas budaya tersebut, film ini pun dilengkapi dengan lingkup sosial yang luas dalam konflik agraria dan lingkup lebih personal dalam krisis seperempat abad karakter utamanya.
Sebagai rakyat metropolitan yang sering mengedepankan fakta sains dan logika, kita kerap memberikan penilaian keras terhadap fenomena kesurupan yang di luar nalar. Kita pun mencoba menalarkan fenomena ini dengan gangguan psikis. Bahkan, kesurupan massal yang telah menjadi tradisi masyarakat dalam Ebeg di Banyumas dianggap kolot dan palsu. Dalam Para Perasuk, Bhanuteja pun mencoba memahaminya dari sudut pandang pelaku yang ia sebut sebagai “perasuk”.
Di film ini, kita masuk ke Desa Latas saat seorang perasuk muda, Bayu (Angga Yunanda), dipilih mengikuti ujian untuk masuk ke sanggar terbesar yang dimiliki oleh Asri (Anggun). Untuk menjadi perasuk yang hebat, Bayu harus bisa fokus dalam menciptakan dunia untuk pelamun. Sayangnya, saat ia bermain slompret dan merasuk, ia kerap terdistraksi: mulai dari rumahnya yang ingin dijual ayahnya, Agus (Indra Birowo) ke PT Wanaria, hingga hubungan asmaranya dengan Laksmi (Maudy Ayunda).
Tema kerasukan sebagai seni tradisi pun sebenarnya hanya tabir saja. Ada konflik besar yang dibawa Bhanuteja di dalam film ini, yaitu konflik agraria dan krisis seperempat abad dalam sosok Bayu. Hanya saja, Bhanuteja memainkan tema perasuk ini dengan sangat menarik. Tiap pesta sambetan dan latihannya dimainkan bak orkestra dengan alunan musik kencang yang menggabungkan seni tradisional dan modern. Para pelamun, orang yang kerasukan dalam film ini, menari dengan koreografi yang absurd, tetapi terstruktur sehingga menghadirkan tarian unik nan keos.
Sementara itu, hal menarik lainnya ialah pencitraan saat para pelamun memasuki dunia rasuk. Visualisasinya bak iklan dengan tembakan jarak dekat yang menggiur serta saturasi tinggi. Permainan visual ini pun kerap berganti dengan jenaka saat Bayu kehilangan fokus dan memikirkan hal-hal lain. Dengan tema yang liar, ini pertama kalinya Bhanuteja berkomedi dalam filmnya dan pengantarannya cukup sukses.
Hal yang pasti dari setengah awal film ialah sisi teknis yang menawan, mulai dari visualisasi hingga penyuaraan. Sayang saja, dalam segi cerita, bagian awal ini cukup datar. Walau sudah disodorkan dengan banyak konflik, takbanyak perkembangan yang membuat kita terpukau.
Rasanya untuk segi dramatisasi, Bhanuteja menyimpannya pada bagian akhir film. Awal konflik mulai masuk saat Laksmi bercerita mengenai masa lalunya yang kelam sehingga ia enggan menggunakan alas kaki. Namun, jalan cerita mulai menarik saat Bayu keras kepala dan mengorbankan semuanya demi mendapatkan roh level atas, yaitu roh lintah.
Di sini cerita pun makin terasa kelam, bahkan tiba-tiba kelam saat Bayu alami nasib tragis sekaligus perbuatannya demi menyerupai lintah. Belum lagi saat Laksmi bersimbah darah dan Bayu harus meminta bantuan temannya, Pawit (Chicco Kurniawan), untuk menenangkan Laksmi. Walau pembangunan menuju kekelamannya agak mendadak, eksekusi di bagian ini sangat apik.
Barulah kebrilianan tiba pada adegan akhir film saat warga Latas yang sedang pesta sambat diganggu oleh pihak keamanan Wanaria. Adegan ini seakan menjadi metafora tentang rakyat kecil yang enggan ditindas oleh perusahaan besar yang semena-mena. Kita pun bisa menafsirkannya juga sebagai kebertahanan masyarakat desa yang tetap gotong-royong mempertahankan tradisi saat modernisasi datang memaksa.
Berbicara Bhanuteja yang membuka kariernya dengan dua film brilian dalam Penyalin Cahaya (2021) dan Budi Pekerti (2023) membuat ekspektasi terhadap Para Perasuk (2026) ini sangatlah tinggi. Film ini mungkin belum bisa disandingkan dengan dua karya sang sineas sebelumnya. Akting karakter utamanya takterlalu memukau dan Bhanuteja seperti berkutat dengan terlalu banyak konflik sementara pada bagian utama film terlihat terlalu keasyikan memamerkan artistik.
Walaupun begitu, ide liar seperti ini benar-benar patut diapresiasi. Akhirannya dahsyatnya menjadi pembuktian kembali betapa Indonesia sedang menyaksikan kebangkitan salah satu sineas terunik dalam diri Wregas Bhanuteja. Para Perasuk (2026) memiliki ide liar, tetapi familiar dalam konfliknya sehingga terasa sangat relevan. Film ini mungkin karya terlemah Wregas, tetapi yang lemah seperti ini saja sudah sangat bagus di mata sinema Indonesia.

Baca juga: Review Film Budi Pekerti (2023) – Karya Masyhur Bhanuteja


















