Review Serial Spider-Noir (2026): Eksplorasi Menarik

0
5
Review Serial Spider-Noir (2026): Eksplorasi Menarik

Semesta Spider-Man dari seri film animasinya, Spider-Verse, meluas dengan dirilisnya serial Spider-Noir (2026). Serial ini berkisah tentang salah satu manusia laba-laba dari Spider-Verse bernama Ben Reilly (Nicholas Cage) yang keluar dari pensiunnya sebagai adiwira bernama The Spider. Serial ini rilis sebanyak delapan episode di Prime Video.

Ekspansi dari waralaba Spider-Man oleh Sony terus dilakukan agar mereka bisa memanfaatkan hak cipta sekaligus menjaganya agar tidak hangus. Walaupun dari sisi film utama Spider-Man hampir selalu berhasil, kegagalan memalukan justru lahir dari penghidupan para musuh atau deuteragonisnya. Morbius (2022), Madame Web (2024), hingga Kraven the Hunter (2024) lahir tanpa basis cerita yang solid sehingga hasilnya menjadi konyol. Trilogi Venom juga termasuk projek gagal dalam sisi kualitas, tetapi cukup sukses secara finansial.

Kegagalannya mungkin terlalu memaksakan para antagonis ini menjadi protagonis. Walau dengan latar belakang cerita lebih banyak, kompleksitasnya selalu konyol. Empati penonton pun sulit untuk ditarik. Semuanya pun kembali ke dasar bahwa basis ceritanya memang lemah.

Hanya saja, Sony berhasil membuat salah satu seri film pahlawan super terbaik dalam Spider-Verse. Kami pun mengakui bahwa Spider-Man into the Spider-Verse (2018) dan Spider-Man Across the Spider-Verse (2023) merupakan salah satu film adiwira terbaik. Melebarkan dari kesuksesan seri film ini, mereka mengembangkan serial Spider-Noir, salah satu karakter yang hadir di Spider-Verse.

Hadirnya berbagai macam tipe Spider-Man dalam Spider-Verse memang menarik dan karakter Spider-Noir mungkin yang paling menarik karena ia berbeda dari para manusia laba-laba lainnya. Apalagi, pengisi suara karakter ini ialah Nicholas Cage. Cage pun meneruskan peranannya sebagai pengisi suara dari animasi lalu memanifestasikannya ke film aksi nyata dalam serial Spider-Noir (2026).

Sang manusia laba-laba kali ini bernama Ben Reilly, seorang detektif swasta yang hidup di New York pada tahun 1930-an. Ben mengungkapkan bahwa ia sudah pensiun lima tahun menjadi adiwira alter-ego-nya yang bernama The Spider. Hal ini disebabkan kematian kekasihnya, Ruby. Trauma dan depresi pun menjadi corak yang lebih dewasa dari kisahnya.

Dalam menjalani profesinya sebagai detektif, Ben terlibat dengan mafia bernama Silvermane (Brendan Gleeson) yang menjadi pemimpin kriminal New York. Di sana, ia kepincut dengan Cat Hardy (Li Jun Li), penyanyi cantik yang bekerja di bawah Silvermane. Keadaan menjadi kompleks karena Silvermane merekrut beberapa orang dengan kekuatan spesial, mulai dari Flint Marko (Jack Huston) si Manusia Pasir, Lonnie Lincoln (Abraham Popoola) si Manusia Batu, dan Dirk Leyden (Andrew Lewis Caldwell) si Manusia Listrik. Ben pun dipaksa untuk menjadi The Spider walau ia sebenarnya enggan.

Dalam hal-hal esensial, Spider-Noir banyak memiliki sisi positif. Pertama, karakter Ben yang terlihat cuek, tetapi peduli dengan latar belakang trauma berat serta depresif sesuai dengan Cage. Apalagi, di sini Cage banyak melontarkan candaan-candaan canggung yang menjadi khasnya. Selain pemilihan Cage yang tepat, kehadiran Gleeson sebagai antagonis utama di sini pun memberi kesan mewah terhadap serial ini. Gleeson tampil apik, kebengisan dan kedinginannya sempurna buat peran ini.

Dasar ceritanya pun eksploratif. Mengambil latar tahun 30-an dengan tema noir tentunya sangat jauh dari film-film adiwira yang kerap terkesan futuristik. Layaknya film-film noir, fokus utamanya pada penyelidikan atau perlawanan terhadap kriminalitas dengan tokoh utama yang kompleks. Jadi, jangan mengharapkan aksi besar bak film-film adiwira lainnya, sebab keberlangsungan filmnya terletak pada penemuan investigasi dan drama kriminal. 

Untuk tampilan noir yang lebih imersif, serial ini bahkan menghadirkan pilihan untuk menonton dengan warna hitam-putih. Untuk menghadirkan kontras hitam-putih yang lebih mencolok, pewarnaan set dan desain kostum pun dibuat dengan saturasi yang tinggi. Sayangnya, jika memilih menonton dengan warna, pewarnaannya menjadi terlalu mencolok dan kurang sesuai dengan nuansanya yang sedikit depresif dan kelam.

Dari segi cerita, kompleksitasnya sudah terasa cukup dan melihat Cage mengarungi New York dengan karakternya aktingnya saja sudah sangat menarik. Mungkin, ada beberapa plot yang bisa digali lebih dalam dan penyampaiannya bisa lebih menarik. Selain itu, di beberapa bagian tokoh Silvermane dengan mudah dikelabui oleh Ben yang sebenarnya terasa takterlalu cerdas juga. Rasanya, bakal lebih menarik jika lebih banyak adu kepintaran keduanya sehingga drama kriminalnya lebih menarik.

Keseluruhan, Spider-Noir layak disaksikan karena eksplorasi ceritanya terhadap dunia adiwira yang makin monoton. Kompleksitasnya cukup menarik untuk membuka tabir pahlawan super, tetapi banyak pengantarannya yang kurang maksimal. Banyak hal dari segi cerita yang terkesan ditahan-tahan. Serial Spider-Noir (2026) ini pun perlu gebrakan lebih jika ingin berlanjut ke musim berikutnya.

Baca juga: Review Film Spider-Man: Across the Spider-Verse (2023)