Hampir dua dekade Joko Anwar bermain di ranah film cerita seru dan horor gelap yang berbanding jauh dengan karya perdananya, Janji Joni (2005). Kini, dalam Ghost in the Cell (2026), sang sineas mencampurkan dua-tiga elemen tersebut dalam karya yang gila. Ia pun takmalu-malu mengkritik pemerintahan Indonesia dalam film ini.
Tentunya, jika Anda mengharapkan Ghost in the Cell punya nuansa mirip Janji Joni, Anda akan kecewa besar. Dua dekade telah membuat Anwar membentuk gaya khasnya dengan gambar dan nuansa yang gelap seperti Kala (2007) dan Pintu Terlarang (2009) yang menjadi karya definitifnya. Bedanya, kali ini Anwar lebih luwes dalam melontarkan candaan baik dari dialog maupun koreografinya.
Film ini dibuka dengan kisah seorang jurnalis bernama Dimas (Endy Arfian) yang diduga membunuh bosnya karena kekesalan artikelnya ditegur. Ia pun dipenjara di Labuhan Angsana, sebuah penjara yang memiliki banyak lapisan, mulai dari koruptor di Sektor C hingga para pembunuh dan perampok di Sektor K.
Penjara ini dipimpin oleh kepala lapas yang korup dan sipir yang gemar menganiaya narapidananya. Para narapidananya pun memiliki geng-geng atau kelompok tersendiri. Dalam film ini, film ini menyorot kelompok Anggoro (Abimana Aryasatya), Irfan (Danang Suryonegoro), Pendi (Lukman Sardi), Six (Yoga Pratama), dan Wildan (Mike Lucock). Anggoro yang bak pemimpin di sini kerap menolong napi lain, walau itu sering membuatnya dalam masalah dengan kepala sipir, Jefry (Bront Palarae).
Walau dimulai dengan adegan kematian brutal, nuansa komedi mulai dimainkan ketika memasuki penjara. Pertukaran dialog antara kelompok Anggoro yang memiliki latar belakang sangat berbeda mudah mengundang tawa. Lalu, mulailah masuk kebrutalan lagi saat ada adegan pembunuhan dan masuknya aura mistis.
Jika mengikuti film-film Anwar, salah satu elemen menarik ialah cara ia membangun tensi seram hingga penampilan pengaget berupa setan. Di film ini, pembangunan tensi serupa pun bisa dilihat dalam adegan kematian karakter pertama karena makhluk takkasat mata. Saat kita sudah terbiasa dengan pengaget pada film-film Anwar sebelumnya, ia pun takmemberikannya.
Keputusan ini dirasa tepat, apalagi tema utama film ini bukan untuk pengaget atau menakutkan. Apalagi, dengan banyaknya hal implisit yang ingin disodorkan Anwar di Ghost in the Cell, bisa jadi pengaget justru merusak fokus penonton: hal yang kerap terjadi di film-film horor Indonesia. Walaupun adegan-adegan kematiannya terkesan agak lama bagi film dengan tempo cepat, film ini banyak mengandalkan artistik yang menjijikan, terutama saat para mayatnya disusun sedemikian rupa untuk terlihat indah.
Puncaknya paling pecahnya film ini mungkin ada saat adegan kelahi antara Anggoro dan Bimo (Morgan Oey). Anwar terlihat sangat terpengaruh dengan film-film komedi-aksi Boboho dari Taiwan. Ia dengan cerdas menyelipkan banyak adegan pelipur lara tanpa terkesan memaksa berkomedi. Terlihat sekali kemampuan Anwar dalam melepaskan candaan-candaan ringan.
Bagaimanapun, dalam menyampaikan candaan satir untuk mengkritik pemerintah, dialog-dialog pemerannya terlihat terburu-buru sehingga belibet. Dialog-dialog kritik satir ini pun terasa seperti disumpal untuk membangun unsur ekstrinsik yang sangat ingin dibangun Anwar di sini, yaitu pencitraan mengenai rakyat Indonesia yang dikekang pemerintah. Selain itu, beberapa dialognya pun terasa kaku, suatu hal yang sebenarnya sering kita jumpai di film-film Anwar, walau sudah membaik di beberapa film ia sebelumnya.
Saat beberapa hal di atas bisa diampuni, sangat disayangkan film ini punya adegan klimaks yang kurang sehebat adegan-adegan sebelumnya. Hal ini disebabkan para protagonis utamanya tidak terkoneksi langsung terhadap kematian utama di film ini. Bahkan, kematian-kematian lainnya terasa lebih epik dibandingkan klimaks di film ini. Belum lagi adegan akhirnya yang sempat memberikan kejutan, tetapi diselesaikan dengan mudah sehingga terasa sia-sia.
Walau banyak kekurangan, sebenarnya banyak sekali poin plus di film ini. Anwar terasa sangat berani dalam menyampaikan kritik-kritiknya walaupun sebenarnya implisit, tetapi repetisinya membuatnya mudah dimengerti. Filmnya pun sangat seru dan komedinya yang tanpa henti dirasa berhasil, mungkin bisa dibilang sebagai film Indonesia paling jenaka yang pernah saya tonton.
Dialog dengan bahasa kakunya membuat saya teringat sekilas terhadap cerdasnya komedi The Death of Stalin (2017), walaupun dalam konstruksi dialognya, levelnya masih tertinggal. Ghost in the Cell (2026) pun bisa menjadi gerbang film-film populer Indonesia untuk tampil lebih berani: baik dalam penyampaian komedi dewasa yang lebih cerdas, hingga kritik terhadap pemerintah yang tersirat. Hal yang pastinya, film ini merupakan hiburan hebat.

Baca juga: Pengepungan di Bukit Duri (2025) – Terbaik dari Anwar

















