Serial The Boys menyelasaikan perjalannya di musim ke-5, angka yang pas untuk sebagian besar serial lainnya. Penggemar mengharapkan pertarungan besar nan epik bak film-film pahlawan super lain. Namun, sang kreator, Eric Kripke, rasanya punya perkataan lain.
Di tengah gempuran film-film pahlawan super yang makin formulaik, The Boys muncul sebagai antitesis. Memosisikan para pahlawan super sebagai kepribadian yang problematik dan mengantagoniskan mereka membuat serial ini menjadi menarik. Kehadirannya pun menjadi serum penyegar bagi penonton yang mulai terkena kelelahan adiwira (superhero fatigue). Namun, usai dua musim berjalan, rasanya serial ini bisa terjebak dalam formula serupa yang bisa menjadikannya film pahlawan super lainnya.
Bagaimanapun, Kripke mengambil jalan lain yang cukup berbeda dari sumber utamanya, yaitu serial komik/novel grafik The Boys karangan Garth Ennis dan Darick Robertson yang berjalan dari 2006 hingga 2012. Dalam serial televisinya, The Boys banyak memasukkan unsur sosial modern yang relevan. Kripke pun takpernah malu-malu mengkritik kedua kubu partai politik Amerika Serikat, yakni demokrat dan republik, walau lebih condong mengkritik nama terakhir.
Pada musim ketiga, serial ini mengambil langkah berani untuk lebih terang-terangan mengkritik politik pemerintahan. Sosok Homelander (Antony Starr) makin dicitrakan sebagai Donald Trump dengan segala sifat narsistik dan anehnya. Dari sini, Homelander pun jadi sosok utama dalam serial ini. Serial yang tadinya ingin menggulingkan kapitalisme dalam bentuk Vought, perusahaan penghasil pahlawan super, berubah menjadi ingin menggulingkan pemerintahan.
Cerita pun dibuat lebih drama politik dan musim keempat sangat kuat unsur ini. Transformasi yang berani, tetapi menghilangkan tensi yang dibangun pada awal serial. Walaupun masih menghibur dan menarik, musim keempat terasa seperti tersesat dan ingin ke arah mana ingin kisahnya ingin dibawa.
Memasuki musim kelima, serial ini meluncurkan poster-poster dengan latar belakang masif: menara Vought runtuh dan Homelander terbang di atas atmosfer bumi yang seperti ada ledakan bom nuklir. Dua episode pertama pun cukup menjanjikan dan protagonis dan antagonis kita punya rencana. Terdapat beberapa aksi hebat dan karakter besar pun ada yang mati: hal yang kita harapkan akan terus terjadi pada musim-musim selanjutnya.
Nyatanya, di episode-episode berikutnya, Kripke banyak mengambil jalan dramatis. Homelander mencari afeksi dari ayahnya, Soldier Boy (Jensen Ackles), dan anaknya, Ryan (Cameron Covetti). Sementara, itu berbagai karakter juga kembali diusik jati dirinya. Perjalanan karakter seperti ini memang diperlukan untuk membuat akhirannya lebih emosional. Sayangnya, untuk serial yang telah berjalan selama empat musim, seharusnya semua konflik-konflik dasar seharusnya sudah disuguhkan sebelumnya.
Sebagai penggemar, kita pasti ingin melihat musim pamungkas yang penuh klimaks dan pertarungan. Memang, banyak karakter-karakter besar yang mati, tetapi hampir tiada kematian yang membekas, mungkin karena perkembangan karakternya juga sebelumnya kurang menarik. Dilihat dari skala keseluruhan, musim kelima ini mungkin seperti kekecewaan alih-alih akhiran yang buruk.
Setiap episode baru keluar, para pemeran dan Kripke sendiri pun responsif di media. Sang kreator terus menanggapi kritik dari fans dan ia bahkan sebelumnya ketakutan akan respon para penggemar yang bakal kecewa dengan akhiran serial ini. Memang benar, dalam beberapa tahun terakhir, kita kerap dikecewakan dengan akhiran serial besar yang mengecewakan, seperti Game of Thrones, atau yang terbaru, Stranger Things, yang cukup membelah pendapat penonton.
Jika dilihat dari transformasinya yang lebih politis, The Boys sebenarnya takmemerlukan akhiran dengan aksi semasif Game of Thrones atau Stranger Things. Poin awal yang mengecewakan sebenarnya posternya yang menggambarkan menara Vought runtuh, dunia meledak, dan bahkan poster episode terakhirnya menunjukkan Butcher (Karl Urban) berjalan menghadapi Homelander yang terbang di depan ribuan pahlawan super lainnya. Semua citra di poster ini takbenar-benar ada dalam ceritanya.
Sebenarnya, Kripke bisa menyisipkan seberapa kacaunya dunia atau mungkin Amerika saja yang dipimpin Homelander dari kekacauan skala besar yang dia lakukan. Ia pun takasing dengan pendekatan seperti ini. Di serial ia sebelumnya, yaitu Supernatural (2005–2020), musim kelimanya banyak dibangun dengan kekacauan yang diciptakan oleh Empat Penunggang Kuda jelang kiamat. Walaupun hanya terjadi di Amerika, skalanya terasa masif karena banyak pembangunan situasi yang mendukung.
Hal seperti ini sebenarnya bisa diterapkan di The Boys, tetapi alih-alih pembangunan situasi yang kacau, Kripke lebih fokus ke penyelesaian kisah karakternya. Hal ini mungkin sesuai dengan transformasi yang lebih dramatis. Hanya saja, serial ini juga masih lumayan terbelah dan kebingungan karena menyelesaikan kisah Homelander yang sangat kuat perlu ada aksi masif.
Semuanya pun ditumpuk di episode pamungkas yang masih seperti kebingungan. Pertarungan dengan Homelander terasa hebat dan sempat ada momen menyentuh antara Kimiko (Karen Fukuhara) dan Frenchie (Tomer Capone). Kematian Homelander pun masih sangat memuaskan. Namun, kita bisa merasakan ada keterburu-buruan dalam penyelesaiannya. Momen dramatis terakhir antara Hughie (Jack Quaid) dan Butcher pun terasa hampa dan eksekusinya cukup buruk.
Sekali lagi, secara keseluruhan musim kelima The Boys ini taksepenuhnya buruk. Hanya saja, sangat mengecewakan bagi serial yang beberapa kali menjanjikan hal masif. Mengambil risiko untuk akhiran lebih dramatis dapat diapresiasi dan beberapa penutup karakternya pun cukup berhasil. Akhirannya saat Vought berlanjut pun realistis, bahwa perjuangan melawan kapitalisme akan terus berlanjut.

Baca juga: Review The Boys Season 4 – Musim Orak-Arik dengan Pengait Kuat


















