Past Lives (2023): Daya Pukau Masa Lampau

0
108
Past Lives (2023): Daya Pukau Masa Lampau

Film keluaran A24 garapan sutradara Korea Selatan, Celine Song, ini masih mendulang ide yang sama pada sekian karya fiksi. Ada keinginan terpendam untuk kembali pada masa lalu yang dianggap membahagiakan. Namun, Past Lives (2023) berusaha untuk meladeni “seretan” nostalgia sebagai suatu yang penuh pukau, tetapi mesti dimaknai wajar.

Dikisahkan, Nora (Greta Lee) dan Hae Sung (Teo Yoo), yang amat bersahabat, mesti terpisah pada usia kanak-kanak sebab orang tua Nora ingin mencari peruntungan di New York. Selepas 12 tahun, teknologi komunikasi menyatukan kembali keduanya secara virtual (Korea Selatan—Amerika Serikat). Perbedaan jarak pertemuan ini berhasil menyingkap karakter para tokoh dan pemaknaan mereka atas reuni: merekatkan kembali kepingan masa silam atau sekadar menengoknya sesekali.

Dengan pondasi kisah seperti itu, tentu Song punya ruang yang bisa dieksplorasi. Sang sutradara cukup jeli mencari pintasan yang “hemat” untuk membersamai penontonnya dalam memahami Nora dan Hae Sung alih-alih sibuk “mondar-mandir” ke adegan masa silam dan menyiapkan benda pemicu nostalgia yang disimpan para tokoh—seperti film-film lainnya. Di satu sisi, pertemuan kembali keduanya bukanlah “tampilan yang disimpan pada akhir” sebab pada muka adegan, Song sudah menyajikan abstraksi tokoh-tokohnya dengan berbagi tafsirnya.

Dalam memaknai pertemuan ulang tersebut, Song masih mengangkat akar ketimuran. Salah satu makna yang dimunculkan dalam film ini adalah gagasan “in-yun”, terma yang digunakan dalam ajaran Budha: di dunia ini, tidak ada perkara yang sia-sia; pun, pertemuan bukanlah hal yang kebetulan. Semua temu ada sebab-akibatnya. Bisa jadi, seseorang memiliki kedekatan dengan orang lain pada masa kini musabab masa lalu yang telah mereka lalu bersama—dalam ide reinkarnasi. Hal ini setidaknya menjadi hal yang melegakan keduanya: sebagai “obat penawar” sementara.

Di satu sisi, terpahami, makin banyak jaring-jaring makna di antara seseorang, tentu makin membuat seseorang tersebut lebih mudah dalam memahami orang lain. Artinya, jurang ketidakpahaman dapat berkurang di antara kedunya. Nora dan Hae Sung yang dilahirkan di Korea Selatan tentu memiliki berbagai kesamaan mulai dari bahasa, budaya, dan gagasan. Kesamaan ini tentu memudahkan keduanya menyatukan hubungan setelah sekian tahun takbertukar kata.

Hal ini tentu serupa, tetapi taksama dengan kondisi kala Nora menjalin hubungan dengan seniman lain, Arthur (John Magaro), seorang Yahudi-AS. Dikisahkan keduanya bertemu di pemondokan seniman dan menjadi amat dekat. Pada keduanya, sejatinya, ada perbedaan asal budaya yang berbeda kendati sama-sama dari Asia. Namun, keduanya yang lama tinggal di New York, sebagai sesama pendatang dan seniman, juga punya kesamaan jaring budaya sebagai imigran. Kesamaan kondisi, jika ingin dibilang nasib, membut keduanya saling mengerti.

Mengeja Masa Kini dan Lalu

Sementara itu, tegangan kisah terjadi kala Hae Sung dan Nora berjumpa kembali setelah 12 tahun semenjak percakapan mereka secara virtual. Dalam hal ini, menariknya, digambarkan bahwa Nora punya kendali penuh atas pilihan hidup: menyambut pria yang ia kagumi kala masih kanak-kanak atau mempertahkan hubungan dengan pria yang telah hidup dengannya di New York. Kedua pria tersebut digambarkan “harap-harap cemas” dan merelakan semua keputusan di tangan Nora alih-alih saling sikut untuk menentukan yang pantas dan takpantas.

Penokohan tersebut tidak terlepas dengan pengisahan Nora yang dibesarkan oleh ayah-ibu yang berprofesi sebagai seniman: ibunya aktris; ayahnya sutradara. Nora diberi kesempatan untuk menyampaikan segala isi kepalanya, tanpa ada interupsi mana yang pantas dan tidak pantas. Begitu pula pertemuannya dengan Arthur yang juga menghargai segala tindak tanduk Nora, termasuk mengizinkan Nora dan Hae Sung bertemu untuk melepas rindu.

Nora, setelah puluhan tahun merantau, telah pasti terlepas dari serba-serbi budaya ketimuran. Oleh sebab itu, pertemuannya dengan Hae Sung tidak hanya diartikan pertemuannya dengan tambatan hatinya di masa silam, tetapi juga dengan budaya Korea Selatan yang ia hayati ketika kanak. Kedatangan Hae Sung juga menarik perasaannya kembali menjadi orang Korea, misalnya ia kembali menggunakan aksara hangul.

Secara lebih luas, bukankah kisah ini semacam metafora dari sekian banyak orang Korea Selatan yang telah merantau ke Amerika Serikat—serta berbagai bangsa lainnya? Goncangan yang dirasakan Nora tentu serupa yang dirasakan para imigran. Di sini, Song, mampu memberi warna lain dari kisah roman yang serupa. Ia berhasil menarik persoalan ke bentang isu yang lebih luas dan konteks kekinian: kebudayaan.

Menyingkap Yang Taktampak

Adapun, pada jalan menuju reorientasi, kisah dijahit dengan adegan yang wajar alih-alih mendramatisasinya dengan gejolak emosi yang hebat dari para tokoh-tokohnya. Yang diwujudkan adalah segenap ombak perasaan ditekan ketiganya melalui “kepala dingin”. Ada upaya untuk merasionalisasikan keadaan. Alhasil, konflik ini tidak digerakkan dengan pergolakan hati. Oleh sebab itu, perasaan tetiap tokoh tidak diteropong lebih dalam oleh Celine Song.

Selain itu, menariknya, Song dapat mengonkretkan kecemasan Arthur akan perjumpaan Nora dan Hae Sung dengan upayanya memahami igauan Nora dengan bahasa Korea. Ada kegelisahan di balik suara yang asing baginya, ada makna yang tidak bisa ia singkap. Tentu, igauan dalam hal ini menjadi cerminan alam bawah sadar Song. Hal yang mungkin “ditekannya” dalam keseharian. Pemilihan ide ini amat brilian.

Di samping itu, untuk menyingkap masalah, ketiganya memberikan waktu untuk melahirkan apa yang mestinya tampak, serupa Arthur yang membiarkan Nora dan Hae Sung bertemu, begitu pun Nora yang membiarkan hatinya untuk reuni dengan Hae Sung. Setelah proses tersebut dilalui, kepukauan akan masa silam ditanggapi dengan sesuatu yang wajar oleh keduanya, serupa kelakar Arthur kepada Nora di atas ranjang: kisah N0ra-Hae Sung yang amat menjerat.

Walhasil, dalam menanggapi nostalgia, Song menggambarkan bahwa kepukauan diberikan waktu untuk memenuhi diri agar makna yang taktampak tersingkap. Dalam menyajikan ide ini, Song menyajikan kisah yang amat relevan dan menggugat film-film serupa. Film ini pun dilengkapi dengan berbagai teknis yang membuat kita betah: aspek visual dan audio yang ciamik.

Penulis: Anggino Tambunan
Penyunting: Muhammad Reza Fadillah