Review Film The End of Oak Street (2026)

0
1
Review Film The End of Oak Street (2026) oleh ulasinema

David Robert Mitchell (It Follows) kembali meneror lingkungan suburban dalam The End of Oak Street (2026). Kini, ia menghadirkan dinosaurus ke lingkungan perumahan dan meneror keluarga Platt dengan Anne Hathaway sebagai Denise sang ibu dan Ewan McGregor sebagai Greg sang ayah. Film ini diproduseri oleh J.J. Abrams.

Film dibuka dengan lingkungan Flowervale Street, yang menjadi judul awal produksi film, dalam nuansa yang utopis. Pada tahun 80-an, lingkungan suburban ini merayakan festival akhir pekan pada musim panas. Semua orang keluar, mengadakan lomba, berjualan, dan berinteraksi satu sama lain. Kita pun difokuskan kepada keluarga Platt yang seperti keluarga rukun.

Nyatanya, di balik semua utopia tersebut, Greg dan Denise punya masalah. Tersiratkan dari perbincangan mereka bahwa Greg kerap kabur dalam pertikaian suami-istri, sementara Denise selalu menuntut membicarakan permasalahan mereka. Anak-anak mereka, Audrey (Maisy Stella) dan Brian (Christian Convery) mengendus permasalahan ini.

Sejalan dengan keretakan rumah tangga Platt yang makin hebat, kejanggalan di lingkungan mereka masuk. Pohon purba dan kotoran besar–yang jika kalian telah menyaksikan saga Jurassic Park, kalian paham bahwa ini kotoran dinosaurus–tiba-tiba hadir di lahan tetangga-tetangga mereka. Brian pun sempat melihat cahaya pada malam hari yang mengganggu anjingnya, Starbuck.

Sampai pada puncak pertengkaran Denise dan Greg, sebuah cahaya besar dengan suara berdenging tinggi meletus. Tiba-tiba, lingkungan mereka senyap dan seluruh aliran listrik, telepon, dan air mati. Starbuck pun menghilang yang membuat Brian khawatir dan di tengah kebisingan, tiba-tiba ada suara jeritan. Denise dan Greg menyelidiki, tetapi takmenemukan apa-apa. Mereka pun tidur bersama di ruang tengah dan terbangun dengan udara panas.

Film ini terasa sangat sabar untuk masuk ke konflik besarnya, yaitu lingkungan keluarga Platt yang tiba-tiba berpindah ke masa purba. Mereka memperkenalkan kita dulu dengan keluarga Platt. Dalam segi ini, rasanya cukup untuk membuat kita mendukung para protagonis cerita ini. Sayangnya, substansi masalahnya masih terasa rendah.

Lalu, hadirlah yang ditunggu-tunggu dari cerita ini: teror dinosaurus. Pada pagi hari, Denise dan Greg yang mengecek lingkungan sekitar dikejar oleh Coelophysis, karnivora berukuran sedang yang mungkin mengingatkan kita kepada raptor di Jurassic Park. Mereka pun memblokade seluruh pintu dan jendela di rumah mereka dan malam pun kembali tiba. 

Konflik kembali muncul saat Denise kembali meledak karena ketakutan mereka akan selamanya berada pada masa purba ini. Sementara itu, Greg mencoba untuk tetap positif dan menghindari mengkomunikasikan masalah mereka. Di sini sebenarnya lebih jelas permasalahan suami-istri ini, tetapi Mitchell rasanya masih terlalu malu-malu untuk mengungkapkan masalahnya.

Setelah itu, film pun fokus kepada kebertahanan hidup para karakternya, terutama saat Brian kabur dari rumah karena melihat Starbuck dan mencoba menyelamatkan anjingnya tersebut. Bagi penggemar film dinosaurus atau monster dan fiksi-sains seperti ini, rasanya bagian kehadiran makhluk purbakala ini bakal sangat mengobati kerinduan kita. Adrenalin pun akan terpacu dengan beberapa adegan kejar-kejaran yang membuat kita geregetan.

Buat yang telah menonton It Follows (2014) dari Mitchell paham bahwa sang sutradara selalu punya pesan tersembunyi di filmnya alih-alih hanya memberikan tur penuh ketegangan saja. Di The End of Oak Street, jelas bahwa lubang cacing yang membawa lingkungan mereka ke zaman purba lalu mengobrak-abriknya merupakan pesan implisit tentang keretakan rumah tangga Platt. Hanya saja, untuk ini menjadi pesan utama dalam cerita ini rasanya lemah sekali.

Belum lagi, jika kita membicarakan tentang akhirannya yang terasa terburu-buru dan klimaksnya kurang solid. Saya pun merasa ada beberapa unsur yang sepertinya diubah dari cerita orisinal dari Mitchell yang mungkin lebih kelam. Beberapa unsur film Mitchell seperti teror di suburbia dan minimnya penggunaan teknologi yang mendefinisikan zaman memang terasa. Namun, dalam skala besarnya, film ini terasa seperti karya Abrams yang lebih diorientasi lebih inklusif terhadap keluarga dengan alunan musik yang lebih riang. Nuansa seperti ini membuat kita teringat terhadap karya Abrams, Super 8 (2011).

The End of Oak Street memang banyak menyentuh nostalgia kita dengan film-film 80-an dan 90-an, terutama dalam teror dinosaurusnya yang berhasil memicu adrenalin. Hathaway pun tampil maksimal, sebuah performa yang cukup membuat kita kagum terhadap produktivitasnya pada tahun 2026 ini. Sayangnya, pesan yang disampaikan masih terlalu lemah dengan resolusi yang terlalu terburu-buru. Sebuah tur yang menyenangkan, tetapi substansinya rumpang.

Infografik Review Film The End of Oak Street (2026) oleh ulasinema

Baca juga: Review Film 65 (2023) – Malapetaka yang Bisa Dihindari