Usai tiga film berdrama ria, Umay Shahab mencoba cerita yang lebih menantang dalam Memburu Pemangsa (2026). Kali ini, bersama Reka Wijaya dan Rezy Junio, ia menulis kisah tentang pengungkapan pembunuhan kasus anak-anak. Selain misteri dan kriminal, ia juga memasukkan unsur horor dan laga yang membuat filmnya terlalu meriah.
Film ini dibuka dengan kisah empat orang wartawan media politik yang tiba-tiba berubah haluan ke dunia kriminal. Empat perempuan wartawan tersebut ialah Agnes (Laura Basuki), sepertinya seorang redaktur pelaksana lebih senior yang membawahi wartawan lainnya, yakni Cia (Prilly Latuconsina), Anya (Yasamin Jasem), dan Brina (Taskya Namya). Agnes punya kemampuan supranatural, sementara Brina jago baku hantam.
Kakak lelaki Brina, Petra (Andri Mashadi), seorang polisi yang sedang menyelidiki kasus pembunuhan anak. Petra yang mengetahui Agnes memiliki kemampuan supranatural meminta Brina untuk membawanya ke Tempat Kejadian Perkara. Sebenarnya cukup aneh melihat keempat wartawan ini turun langsung, apalagi Agnes yang awalnya seperti takpunya kerjaan.
Selanjutnya, Agnes pun mulai melihat hal-hal supranatural. Di sini dimulailah pencampuran genre horor dimulai. Adegan Agnes dikepung hantu terasa takberguna. Belum lagi kejutan ngeri receh yang gunanya hanya untuk membuat penonton terjaga. Namun, sejujurnya, hal seperti ini justru merusak fokus kita untuk menyimak cerita lebih dalam.
Mungkin memang kehadiran adegan-adegan yang menakutkan seperti ini untuk mengisi ruang agar kita takfokus kepada pengungkapan misterinya yang sangat lemah. Padahal, film-film misteri yang menarik hadir karena adanya riset dan temuan-temuan yang mengejutkan. Belum lagi, main kucing-kucingan dengan sang pelaku yang menambah greget kita untuk terus terjaga fokusnya ke film.
Perihal ini, riset terasa sangat kecil. Motor penggerak riset pun terasa sangat normatif bagi seorang jurnalis. Mereka berulang kali mengatakan “kita harus segera menemukan pelaku agar tiada korban lagi.” Para wartawan ini tidak seperti wartawan yang selalu penasaran dengan berbagai macam sudut, baik motivasi pelaku, ritual yang dilakukan, dan segala macamnya. Belum lagi, di antara keempat wartawan tersebut, kita tidak tahu seperti apa pembagian tugas, perbedaan karakter, hingga kegunaan kehadirannya dalam cerita. Akhirnya, film ini pun malah bercerita berlebihan, sesuatu yang justru bertentangan dengan genre misteri.
Walhasil, dalam kasus ini, para penulis skenario takmampu menghadirkan pengungkapan misteri yang menarik. Jadinya, mereka memasukkan segala unsur greget dari genre-genre film populer di Indonesia, mulai dari horor hingga laga. Perihal horor, sebenarnya masih cukup menyambung dengan segala ritual takmenarik yang hadir dalam film ini. Namun, perihal laga dalam film ini hampir tiada sumbangsihnya dalam plot besar.
Memang, ini kali pertama Umay membuat film misteri atau horor. Eksplorasi temanya menarik dan kampanye filmnya pun besar-besaran mengenai bahayanya pedofilia dan predator seksual. Film ini mungkin membuka mata kita dengan isu yang keras. Namun, dalam menghadirkan isu pun harus diberi muatan film yang kuat dan pesannya tersampaikan. Dari sisi ini, film ini rasanya kurang berhasil. Bahkan, dengan salah satu poster film yang merantai pelaku, saya justru merasa adanya glorifikasi kekerasan.
Masalah seperti inilah yang akan muncul di setiap film-film dengan tema keras, apakah mengangkat isu ini berguna untuk masyarakat, atau malah menjadi glorifikasi terhadap hal itu. Setidaknya, film ini tidak terasa seperti glorifikasi predator dan untungnya sudut pandang Memburu Pemangsa (2026) memihak kepada korban. Namun, ini masih menjadi standar yang terlalu rendah. Sinema kita seharusnya lebih haus lagi akan untuk menyadarkan isu-isu berat dan lebih lapar lagi untuk menghadirkan sinema berkualitas.

Baca juga: Review Film Monster Pabrik Rambut (2026) – Ide Kuat, Eksekusi Hampa


















