Review Film Naza (2026): Menguliti Kebengisan Tentara IDF

0
2
Review Film Naza (2026) - Menguliti Kebengisan Tentara IDF

Satu lagi dokumenter penting tentang genosida di Palestina dari Yuval Abraham tercipta pada Naza (2026). Sebelumnya, wartawan sekaligus pembuat film ini membombardir perasaan kita dengan penggusuran lahan di Palestina pada No Other Land (2024). Kini, ia mewawancara dua lusin prajurit dan eks-prajurit IDF (Pasukan Pertahanan Israel) dengan pertanyaan yang tajam.

Saat kebenaran yang kejam terungkap, selalu ada pihak yang mencoba membungkam. Di tengah panasnya konflik Palestina dan Israel, seorang wartawan asal Israel, Yuval Abraham, merilis film dokumenter berjudul No Other Land (2024). Film ini mengungkap penggusuran lahan yang dilakukan Israel di Masafer Yatta terhadap rakyat Palestina pada tahun 2019 hingga 2023. Bersama Hamdan Ballal dan Rachel Szor, Abraham melihat kebengisan tentara negaranya sendiri dari kacamata penduduk dan aktivis lokal, Basel Adra.

Di tengah huru-hara propaganda Israel yang mencoba menutup-nutupi genosida dan memosisikan diri mereka sebagai korban dalam penyerangan Hamas pada 7 Oktober 2023 sebagai pembenaran aksi kriminal mereka, tentu keberadaan No Other Land sangat menyentil. Kebenaran bahwa Israel telah membombardir, membunuh, dan menggusur para penduduk sipil Palestina adalah kebenaran. Israel telah melakukan kejahatan ke Palestina selama bertahun-tahun, bukan hanya setelah serangan Hamas pada 7 Oktober saja.

Kini, dalam Naza (2026), Abraham mewawancarai dua puluh empat prajurit dan eks-prajurit IDF tentang genosida yang dilakukan di Gaza, kembali bekerja sama dengan Szor. Untuk menutupi identitas narasumber, wawancara dilakukan di atas gedung-gedung di Tel Aviv muka mereka digelapkan. Namun, kita bisa melihat jelas di latar belakang bahwa ada kota yang hidup, kota yang terlihat damai, dan kota yang sepertinya takberdosa dengan yang terjadi 60 kilometer dari kejahatan yang dilakukan mereka di Gaza.

Kontras seperti ini dimainkan di tengah pengungkapan-pengungkapan kekejaman yang dilakukan oleh tentara IDF. Sepanjang film pun kita melihat selingan-selingan kehidupan normal dari warga Tel Aviv yang takterasa seperti perang. Paling, hanya sekali-dua kali saja mereka mendapatkan serangan bom, tetapi rakyat tetap tenang.

Dari film ini, kita mengetahui bahwa ketenangan mereka juga bersumber dari pidato-pidato propaganda Perdana Menteri Israel, Benjamin Netanyahu, yang ditayangkan di televisi nasional. Pidatonya sebagian besar memosisikan diri mereka sebagai korban dari Hamas pada 7 Oktober 2023. Lalu, disebabkan kejadian tersebut, Netanyahu menjustifikasi pembantaian 73.000 rakyat Gaza sejak kejadian tersebut.

Kontras seperti ini mengingatkan kita kembali kepada film The Zone of Interest (2023) karya Jonathan Glazer yang ternyata juga ikut memproduski film ini. Miris memang, padahal film tersebut membahas kontras pembantaian orang Yahudi dan ketenangan kehidupan Nazi di sebelahnya. Abraham pun sempat mengangkat isu ini, bahwa mereka melakukan hal yang sama dengan Nazi. Namun, jawaban dingin diberikan oleh tentara IDF yang diwawancara: mereka mengetahui bahwa mereka melakukan genosida, tetapi mereka menyatakan bahwa mereka hanya menjalankan tugas.

Memang, ada sedikit dari tentara yang ingin membalaskan Hamas. Namun, sebagian besar dari mereka takpunya emosi apa-apa. Mereka hanya menjalankan perintah dan bahkan menyebut pembunuhan-pembunuhan yang mereka lakukan seperti gim saja. Bahkan, mereka menyebut orang-orang di Gaza sebagai “Naza” yang menjadi judul film ini. Sebuah dehumanisasi hebat untuk membenarkan tindakan mereka.

Hanya segelintir dari mereka yang merasa bersalah dan akhirnya berhenti walaupun mereka masih ogah disalahkan atas tindakan mereka. Sebagian besar dari mereka justru menikmati keberhasilan bom-bom dan tembakan drone pembunuhan. Lebih mirisnya lagi, target-target pembunuhan ternyata ditentukan melalui kecerdasan buatan (AI) tanpa mempertimbangkan moralitas lagi.

Naza (2026) pun menjadi suatu wawancara intens yang makin mempertanyakan rasa kemanusiaan kita. Normalisasi Israel terhadap kejahatan yang mereka lakukan di Gaza sudah melampaui batas. Usai menonton saya pun refleksi terhadap keadaan di negara kita dan bahkan di negara-negara lain. Apakah semua tentara dihilangkan rasa kemanusiaannya hanya untuk menjalankan misi? Jika memang benar demikian, artinya kita berada di tangan-tangan pemimpin kejam.

Infografik Review Film Naza (2026): Menguliti Kebengisan Tentara IDF

Baca juga: Empat Musim Pertiwi (2026) – Lembut, Indah, dan Keras