Kamila Andini punya daftar film-film hebat dan Empat Musim Pertiwi (2026) rasanya bakal menjadi magnum opus yang memperkaya rekam jejaknya. Bersama Putri Marino sebagai pemeran utamanya, ia mengajak kita ke dalam kelamnya perlakuan masyarakat, norma, dan hukum terhadap penyintas kekerasan seksual. Film ini dipresentasikan dengan lembut, perlahan, dalam suasana dingin yang mencekam.
Usai kesuksesan Sekala Niskala (2017), Yuni (2021), dan Nana (2023), Kamila Andini mungkin punya rentetan film yang membawanya menjadi salah satu sineas terbaik di negeri ini. Semua kesuksesan itu seakan mengarah ke Empat Musim Pertiwi (2026) ini, karyanya yang masyhur membuat kita ternganga sejak awal film diputar.
Film ini menceritakan tentang Pertiwi (Marino) yang pulang ke kampung halamannya. Suasana dingin Bromo menyelimuti, begitu juga sambutan warga yang sesekali menyala karena ada bara rokok atau api unggun yang menyala. Lebih perihnya lagi, Pertiwi mendapatkan sambutan yang kikuk dan aneh dari kedua orangtuanya yang kebingungan alasan putrinya satu-satunya itu pulang.
Perlahan, tetapi pasti kita diberi tahu ternyata Pertiwi ex-narapidana karena kasus pembunuhan di bawah umur. Kepulangannya mengusik ketentraman penduduk desa hingga puncaknya sang kepala desa, Fajar (Totos Rasiti) mengusir Pertiwi secara halus. Namun, tidak kepada Bisma (Arya Saloka), mantan kekasih Pertiwi semasa SMA, dan Mak Ira (Christine Hakim), penjaga warung makan yang tadinya memiliki rumah bordil yang ditutup oleh kepala desa, mereka menyambut kedatangan Pertiwi.
Lima belas menit awal film ini menampilkan kepiawaian Andini sebagai seorang sutradara. Hampir semua unsur terasa sempurna, mulai dari penulisan dan pengurutan adegan, musik yang mengiringi, hingga komposisi visual dari mata Batara Goempar. Gambar demi gambar berada dalam posisi yang tepat serta tekstur dan nuansanya begitu indah diambil oleh sang sinematografer. Belum lagi hamparan bumi Bromo yang begitu menawan yang selalu menemani latar belakang film.
Mulai ke memasuki adegan pengulitan misteri, Andini taksemata-mata menampilkannya secara eksplisit. Ia menggunakan kilas balik secara implisit dari masa lalu karakter Pertiwi. Selain itu, ia menggunakan unsur mistis dalam adanya sosok hitam besar bermata merah yang selalu menghantui Pertiwi kala ia mengingat masa lalu kelamnya. Kita pun dapat mengaitkannya kepada trauma yang dialami Pertiwi yang ternyata bisa dilihat juga oleh Raras (Hanna Aretha).
Lewat Raras, kita pun jadi mengetahui bahwa Pertiwi penyintas kekerasan seksual. Dari sini mulai ditunjukkan bobroknya sistem hukum dan norma daerah yang lebih mengagungkan ketentraman alih-alih kebenaran yang keras. Dari sini jugalah kita paham mengapa pemimpin-pemimpin kita yang bengis bertahan karena rakyat lebih memilih diam. Rasa-rasanya film ini memperlihatkan miniatur negara kita yang rusak dalam menanggapi kasus kekerasan seksual.
Film ini pun perlahan menjadi besar saat unsur politik makin kentara. Saat ayahnya, Garin Nugroho, terasa sedikit gagal mencampurkan unsur politis dalam Kucumbu Tubuh Indahku (2018), Andini justru sangat mulus membahasnya. Dengan adanya motor penggerak dalam ketidakadilan terstruktur dan sang protagonis mencoba mengobrak-abriknya, akhirannya pun menjadi kekisruhan yang menawan.
Memang, di bagian tengah film ada beberapa adegan yang terasa lemah demi perkembangan karakter. Satu hal yang paling terasa di sini mungkin interaksi Pertiwi dan Bisma yang terasa terlepas dari cerita utama filmnya. Selain itu, akhirannya yang menggambarkan Pertiwi moksa dengan cita rasa fiksi-sains modern mungkin terasa seperti jalan pintas. Namun, ini mungkin penggambaran paling sahih dari kita yang mungkin takberdaya menghadapi kejamnya kejahatan terstruktur seperti yang dialami Pertiwi. Film ini seakan menjadi surat cinta untuk kaum-kaum marginal. Berbagai untaian benang yang ditebar Andini dalam film ini pun hampir semuanya berhasil ia pilin dan rajut menjadi cerita yang berbobot sepanjang dua jam lebih.
Hal yang dialami Pertiwi memang luar biasa kejam. Namun, dengan segala visualisasi indah yang ditampilkan Andini di film ini, sulit sekali rasanya untuk tidak menggeleng-gelengkan kepala sepanjang film ini diputar. Ia pun berani memasukkan unsur western yang sebenarnya lazim kita lihat di Bromo. Lebih berani lagi dengan hadirnya unsur fiksi-sains yang takmain-main dan menjadi penggerak penting dalam plot besarnya. Terpukau, tercengang, dan decak kagum tiada hentinya kita nikmati dalam film indah ini.
Cita rasa Garin dari karakterisasi pria dan unsur mistisnya terasa, dalam pencampuran unsur elektroniknya mengingatkan saya terhadap I Saw the TV Glow (2024) karya Jane Schoenburn. Semuanya pun dicampurkan dan dari sosok utamanya yang kuat dan rentan di saat yang bersamaan, kita pun merasakan bahwa ini film Kamila Andini. Caranya menyampaikan isu berat dengan lembut dan perlahan dapat mengajarkan sineas-sineas Indonesia yang masih meraba isu-isu serupa. Sungguh, Empat Musim Pertiwi (2026) ini sebuah sinema Indonesia yang vital.

Baca juga: Review Film Before, Now & Then (2022)


















