The Circus (1928): Dunia Ini Menggelikan

0
544
The Circus (1928) Dunia Ini Menggelikan

The Circus (1928) bukanlah kisah komedi semata. Film bisu Charlie Chaplin ini menyiratkan manusia yang terlempar pada kehidupan dunia yang menggelikan dan absurd. Antarinsan saling menertawai satu sama lain, terutama merespons tragedi yang tengah dialami orang lain.

chaplin dan merna kennedy dalam the circus

Alih-Alih memuat soal tragedi dan penderitaan atas kehidupan, Charlie Chaplin tunjukkan bahwa “akrobatik” spontan yang kita lakukan di dunia ini ialah sirkus yang sangat menggelikan. Sialnya, sebagian orang menertawakan “akrobatik” sebagian orang lainnya dan situasi tersebut dapat silih berganti. Jika Sartre berucap orang lain neraka bagiku, melalui The Circus (1928) Chaplin punya ramuan sendiri: orang lain badut bagiku.

Film ini mengisahkan Tramp (diperankan oleh Charlie Chaplin, Tramp berarti gelandangan) yang luntang-lantung dan takmemiliki pekerjaan. Suatu hari Tramp taksengaja membuat kekacauan di arena sirkus. Ia dikejar-kejar polisi dan aksi mereka di arena membuat semua penonton bersorak riang. Alhasil, ia ditawari audisi jadi pemain sirkus. Sayangnya, ia gagal, tetapi ia dipekerjakan sebagai penanggung jawab perlengkapan di tempat sirkus tersebut. Di grup sirkus tersebut, ia bertemu dengan perempuan penampil sirkus yang jelita, anak dari pemilik sirkus yang kejam.

Charlie Chaplin berhasil menjebak kita pada kesadaran yang membingungkan: kita tengah menertawakan tragedi kehidupan Tramp yang apes atau sandiwara akrobatik kacau si penampil sirkus tersebut? Mungkin sebagian orang akan memilih pilihan pertama. Pada adegan uji kebolehan, Tramp gagal menjadi orang yang jenaka. Namun, kekacauan yang ia buat bukan bagian dari sandiwara justru lucu sekali. Seperti adegan saat ia membuat bos sirkus terjatuh sebab kursinya ia tarik yang dapat membuat beberapa anggota sirkus tertawa. Kita dapatsimpulkan bahwa keadaan realita membuat kelucuan, rekayasa kelucuan yang dilakukan Tramp gagal menjemput tawa.

Sebagian kita mungkin juga ikut menertawai Tramp saat ia dihadapkan dengan dua kandang “maut” yang bukan bagian dari akrobatik sirkus. Ia terjebak dalam kandang yang berisi singa. Ada pintu kecil yang bisa ia lewati, tetapi jalan tersebut membuatnya terjebak dalam kandang yang berisi harimau. Bahkan, adegan yang mengerikan tersebut masih bisa membuat sebagian kita menertawainya. Tubuh Tramp yang gemetar membuat kita tersenyum dan tertawa.

kutipan charlie chaplin

The Circus (1928) juga memuat isu sosial. Si miskin, Tramp dan anggota sirkus yang lain, kerap dianggap sesuatu yang lucu. Di dalam film kita dapat melihat bahwa Tramp bukanlah badut, melainkan orang miskin yang ingin punya pekerjaan. Suatu waktu, ia tak sengaja masuk arena sirkus sebab dikejar polisi dan mengobrak-abrik pertunjukkan, seperti menjatuhkan piring dan merusak trik sulap. Ia tidak diumpat habis penonton yang kelebihan uang, justru tragedi hidup yang dihadapi Tramp menjadi tontonan yang menggelikan. Seluruh penonton terpingkal-pingkal.

Salah satu kutipan yang terkenal dari Chaplin ialah, “Kehidupan merupakan sebuah tragedi saat dilihat dari dekat, tetapi dari jauh, itu komedi.” Kutipan tersebut dapat kita kaitkan pada Circus. Kita sebagai penonton mengetahui bahwa gelandangan tersebut, Tramp, dieksploitasi oleh pemilik sirkus. Pemilik sirkus merahasiakan fakta bahwa bintang utama sirkus adalah si gelandangan. Bagi kita, kisah tersebut adalah tragedi, tetapi bagi penonton yang berjarak dengan kisah di belakang panggung, atraksi Tramp adalah komedi yang ditunggu-tunggu. Selain itu, cara pandang si kaya terhadap tragedi si miskin juga dianggap komedi. Namun, bagi sesama si miskin, tragedi adalah tragedi. Solidaritas tersebut kita dapati saat Merna, gadis jelita di grup sirkus tersebut yang juga anak pemilik sirkus, menyadarkan Tramp bahwa ia bintang utama.

Beralih ke bagian roman antara Tramp dan Merna, mengapa kegagalan cinta Tramp bukanlah komedi bagi penonton? Sulit rasanya untuk tersenyum sebab cinta merupakan bahasa universal manusia sebelum terkontruksi dengan macam-macam pemaknaan. Jarak kita dan Tramp amat dekat. Kita simpati kepadanya dan ingin ia mendapatkan cinta si gadis.

infografis the circus

Charlie Chaplin tepat bahwa dunia ini adalah tempat yang menggelikan. Usaha memahami dunia ini mengundang tawa. Namun, semakin dipelajari dunia, ini merupakan tragedi. Tragedi hanya dirasakan bila ada kedekatan, seperti kesamaan nasib Tramp dan si gadis yang kerap ditindas. Bagaimanapun, tragedi menjadi komedi bila ada jarak kedekatan, seperti penonton sirkus dan pemain sirkus. Secara tidak langsung, dari adegan tersebut, Chaplin jitu bahwa ada peluang kita untuk menertawai tragedi orang lain atau sebaliknya.

Penulis : Anggino Tambunan
Penyunting : Muhammad Reza Fadillah