Film Us (2019): Mendobrak Stereotipe dan Kasta Sosial

0
652
Mendobrak Streotipe dan Kasta Sosial lewat Us (2019)

Sutradara dan penulis film, Jordan Peele, lagi-lagi berulah dan bermain-main dalam karya terbarunya, film Us (2019). Mungkin sulit untuk tak membandingkan film ini dengan karya pertamanya, Get Out (2017). Namun, jauhkan film tersebut sementara sebab isu yang dibawakan Us cukup berbeda dari Get Out.

Saat berita tentang Jordan Peele akan memproduksi film dengan gaya auteur muncul, banyak orang mengira bahwa ia akan menghasilkan film komedi. Wajar saja, Peele sudah terkenal terlebih dahulu lewat komedi sitkomnya bersama Keegan-Michael Key di kanal televisi Comedy Central. Namun, Peele mencoba keluar dari zona nyamannya dengan memproduksi film Us (2019) yang bergenre horor.

Lupita Nyong'o Shahadi Wright Joseph dan Evan Alex dalam film Us

Dengan gaya satir dan muka penuh ekspresi dari para pemainnya, terutama disebabkan oleh Peele yang seorang komedian, banyak yang mengategorikan Get Out sebagai film komedi horor. Namun, saat kegelisahan tokoh utama semakin meningkat dan penonton semakin resah dalam menyaksikan filmnya, pada saat itulah kita sadar bahwa film ini tak main-main. Apa yang dibawakan Get Out merupakan isu rasial dalam masyarakat yang kolot. Keberadaan masyarakat ini, ternyata, masih sangat banyak di Amerika Serikat, bahkan di dunia. Lewat pandangan keji yang memandang rendah orang kulit hitam, Get Out jadi kambing hitam. Benar-benar hitam sebab datang dari tempat yang takterduga dan meraih pengakuan kritik dan masyarakat.

Get Out sukses besar. Dua tahun setelahnya, Peele produksi film keduanya, yaitu Us. Dalam jangka waktu yang tak terlalu jauh, banyak orang yang mengira bahwa film Us (2019) takkan berbeda jauh dari Get Out,apalagi saat diungkap bahwa film ini bertema horor dan memiliki jajaran aktor utama yang didominasi aktor kulit hitam. Bagaimanapun, ini bukan kali pertama Peele mencoba mendobrak pakem yang sudah melekat dalam dirinya, bukan?

Saat Get Out berkisah tentang individu kulit hitam yang mencoba keluar dari kegelisahannya melawan diskriminasi masyarakat kulit putih, Us tawarkan sesuatu yang berbeda. Memulai film dengan informasi bahwa ada ribuan gorong-gorong yang berada di bawah tanah Amerika Serikat, sasaran film mengenai ketimpangan kasta sosial sudah terlihat. Yang paling menarik, yaitu bagaimana film ini membedakan diri dari Get Out.

Us berkisah tentang satu keluarga kulit hitam yang sedang liburan musim panas di vilanya. Memiliki vila di tempat yang sering jadi sasaran liburan masyarakat menunjukkan bahwa keluarga ini merupakan keluarga kaya. Tokoh utama film, Adelaide Wilson (Lupita Nyong’o), merasa gelisah, terutama saat diajak ke pantai oleh anak-anak dan suaminya. Wajar saja, pada awal film, Adelaide ditunjukkan pernah alami kenangan buruk dan masih trauma akan kejadian tersebut. Apa yang dialami Adelaide disimpan jadi rahasia yang akan jadi twist pada akhir film.

Keluarga doppelganger dalam film Us

Asyik rasanya bermain-main dengan perasaan penonton yang menduga Us akan serupa dengan Get Out. Semakin asyik saat dimunculkannya keluarga kulit putih dan menduga bahwa mereka akan menjadi “musuh utama” keluarga kulit hitam yang jadi tokoh utama. Apakah kenangan buruk Adelaide berasal dari diskriminasi kulit putih?

Kedatangan sosok keluarga yang ternyata serupa dengan masing-masing individu keluarga kulit hitam mereka menjadi gong dimulainya teror tak berujung dalam film ini. Apakah teror hanya terjadi dalam keluarga ini saja? Apakah ini kecemburuan sosial dari sesama masyarakat kulit hitam; saat satu keluarga kulit hitam lebih beruntung dan masih banyak keluarga lainnya yang kurang beruntung?

Perihal rasialisme dalam film ini pun dipatahkan lewat teror yang juga terjadi pada keluarga kulit putih juga. Terlebih lagi saat menyaksikan televisi dan adanya teror berskala masif yang juga dialami oleh semua orang di belahan Amerika Serikat lainnya. Dari sinilah Us melepaskan diri dari Get Out.

Terungkap bahwa sosok-sosok yang tiba-tiba muncul ini merupakan makhluk yang hidup di bawah tanah. Makhluk-makhluk tersebut bergerak sesuai individu serupa yang berada di atas tanah. Mereka seperti boneka yang dikendalikan, tak bisa tentukan arah sendiri, tak bisa bebas. Berbanding terbalik dari makhluk yang ada di atas tanah, bisa seenaknya bergerak dan konsekuensinya justru diambil oleh makhluk yang berada di bawah tanah.

Perlu diingat bahwa, dalam film Us, manusia yang berada di atas tanah ditunjukkan sebagai manusia yang kaya. Hampir tak ditunjukkan adanya keluarga atau individu yang kekurangan. Hal ini menandakan bahwa individu yang ada di atas tanah merupakan masyarakat kelas atas, sementara itu yang berada di bawah tanah merupakan masyarakat kelas bawah. Masyarakat kelas atas dapat bergerak semena-mena dan masyarakat kelas bawah hanya tunduk dan mengikuti saja, tak memiliki kebebasan.

infografis film us

Lalu, sosok Adelaide yang aslinya Red, merupakan orang yang mendobrak kasta tersebut. Bertukar tempat dengan Adelaide yang nantinya menjadi Red, kesuksesan orang dari kasta bawah yang berhasil mendobrak kesulitannya menimbulkan kecemburuan pada orang yang tempatnya digantikan. Us merupakan film “hantu sosial” yang terus hidup di tengah-tengah masyarakat. Sebab-akibat dari kesenjangan sosial yang ditunjukkan dalam film ini akan terus hidup sampai poros tersebut hancur.

Penulis : Muhammad Reza Fadillah
Penyunting : Anggino Tambunan
Sumber gambar : IMDb.com