X-Men: Dark Phoenix (2019) – Penutup Tanggung dari Saga yang Bingung

0
297
X-Men Dark Phoenix (2019)--Penutup Tanggung dari Saga yang Bingung

Setelah 21st Century Fox diakuisisi oleh studio film terbesar di dunia saat ini, Disney, perjalanan saga X-Men harus menemui ajalnya (secara paksa). Menutup kisah perjalanan saga pahlawan super terlama dalam dunia perfilman, X-Men: Dark Phoenix (2019) terasa tanggung. Mungkin bisa dibilang bingung, entah ingin ditutup atau tidak.

Dibelinya studio film 21st Century Fox oleh Disney memberi harapan baru pada para penggemar pahlawan super, terutama penggemar Marvel Cinematic Universe (MCU). Pasalnya, 21st Century Fox merupakan studio film yang memegang hak untuk menayangkan film-film dari pahlawan super X-Men. Oleh karena itu, mereka menginginkan adanya penggabungan antara pahlawan-pahlawan mereka yang sudah tergabung dalam MCU, yakni pasukan Avengers dan Guardians of the Galaxy dengan anggota X-Men. Hal ini pun berdampak pada perkembangan saga X-Men, tepatnya pada film Dark Phoenix (2019).

Sejak tahun 2000, tepatnya pada saat film X-Men pertama keluar, saga ini dimulai. Trilogi X-Men pertama dimulai dengan perlawanan pasukan Xavier/Profesor X melawan pasukan Erik Lehnsherr/Magneto. Saga ini memberikan warna baru terhadap film pahlawan super. Mengembangkan isu-isu lebih dalam—seperti isu diskriminasi ras yang dikemas dari hubungan antara mutan dan manusia—ketimbang film-film pahlawan super yang pernah tayang sebelum tahun milenium.

Professor X dan para X-Men

Sayangnya, film X-Men kurang bisa merangkum karakter-karakternya yang banyak menjadi sebuah individu yang menarik, bukan hanya menjadi penghias. Dari trilogi ini, sosok Wolverine jadi sorotan utama. Hal ini dapat dilihat dari penutup film saat ia harus membunuh kekasihnya, Jean Grey. Walaupun belum dibilang sukses, trilogi X-Men pertama ditutup dengan manis dan perih secara bersamaan.

Kepopuleran Wolverine pun membuat pihak studio film tertarik untuk membuatkan film manusia abadi ini sendirian, terlepas dari X-Men. Filmnya gagal, tak memberikan kisah awal evolusi Logan menjadi Wolverine. Pada akhirnya, mereka pun kembali kepada X-Men.

Dibuatlah X-Men: First Class (2011), yang membahas tentang masa awal pasukan Mutan ini terbentuk. Film ini cukup menjanjikan, memberikan visi baru terhadap hubungan Erik Lehnsherr dan Charles Xavier. Hal yang tak pernah dibahas secara mendalam pada film-film X-Men sebelumnya.

Lalu, saga berlanjut dengan X-Men: Days of Future Past (2014). Masih berkutat pada masa lalu dan memberikan corak menarik. Days of Future Past coba menggabungkan X-Men pada masa kini untuk mencegah konsekuensi dari aksi yang mereka lakukan pada masa lalu. Yang paling menarik tentu kembalinya Wolverine pada saga ini. Ditambah lagi dengan sosok Quicksilver, walaupun waktu tayangnya tak banyak, ia berhasil berikan kesan kuat.

MV5BMjM4NzE5NzM1Nl5BMl5BanBnXkFtZTgwNzA3MzM1NzM@._V1_SX1777_CR0,0,1777,744_AL_

Keberhasilan Days of Future Past takmampu diikuti dengan baik oleh X-Men: Apocalypse (2016). Mengambil skala kehancuran yang sangat masif ditambah dengan jajaran aktor baru yang menjanjikan, sepertiOscar Isaac, Sophie Turner, dan Tye Sheridan, Apocalypse tak memberikan kesan mendalam. Apalagi mereka harus berdiri di tengah pertarungan MCU dan DCEU yang mendominasi bioskop-bioskop di seluruh dunia. Alhasil, kelanjutan saga X-Men pun menjadi keruh, ditambah dengan keengganan Bryan Singer menyutradarai proyek kelompok Mutan ini.

Proyek yang nantinya menjadi film X-Men: Dark Phoenix (2019) ini terbata-bata. Ditambah lagi dengan dibelinya 21st Century Fox oleh Disney sehingga mimpi untuk menyatukan X-Men dengan MCU semakin nyata. Selain Singer yang enggan jadi pengarah film, perpindahan studio film jelas akan berpengaruh pada kelanjutan proyek yang belum selesai. Apalagi, dengan adanya keinginan gabung dengan MCU, arahan film semakin kabur.

Tanpa Bryan Singer, Simon Kinberg yang telah lama menangani proyek X-Men sebagai produser diminta untuk menangani Dark Phoenix. Kinberg pun mengungkapkan bahwa para aktor X-Men-lah yang mendorongnya jadi sutradara film penutup saga ini. Kinberg pun terlihat bingung ke mana Dark Phoenix harus dibawa. Pada akhirnya, sepertinya film ini diselesaikan dengan apa adanya.

Kekurangan film ini dimulai dari dialog yang lemah, penyuntingan film yang terlalu cepat, dan akting para pemainnya yang datar. Sebenarnya, tak ada masalah besar pada plot, yang kacau memang sebagian besar eksekusinya. Apalagi, skoring film yang sangat mengganggu. Tempo skoring yang terlalu cepat sangat mengganggu adegan-adegan yang semestinya dramatis.

infografis x-men dark phoenix

Banyaknya hal minim dalam Dark Phoenix takberarti film ini tak punya hal baik juga. Salah satu hal yang paling menolong sisi hiburan dalam film ini, yaitu adegan aksinya. Saat bagian aksi akhir dimulai, dari pertarungan di kota New York hingga pertarungan akhir di kereta, memang sangat seru. Namun, cara Jean Grey mengakhiri pertarungan memang terlihat sangat biasa. Intinya, masih bisa dikemas lebih baik lagi. Alhasil, sebagai penutup saga, Dark Phoenix tak terlihat wah. Bahkan, bisa dibilang salah satu film terburuk dalam saga X-Men.

Penulis : Muhammad Reza Fadillah
Penyunting : Anggino Tambunan
Sumber Gambar : IMDb.com