Magic in the Moonlight (2014): Tabrakan Logis dan Mistis

0
121

Bukan rahasia bahwa Woody Allen memang mengidolakan Ingmar Bergman. Sangkaan itu, salah satunya, dapat dilihat dalam film Magic in the Moonlight (2014) yang mungkin terinspirasi dari film The Magician (1958). Dalam film ini, ada upaya membongkar “sihir” dunia sulap dengan rasio ketat.

Pada The Magician, dikisahkan beberapa ilmuwan skeptis terhadap rombongan pesulap yang dikenal memiliki kemampuan “luar biasa”. Mereka sama sekali tidak memercayai sajian memukau yang dihadirkan rombongan pesulap. Bagi mereka, hal itu bukan kemampuan “luar biasa”, melainkan tipuan yang dikarang. Sepanjang kisah, terjadi bentrokan keyakinan antara yang nyata dan yang magis.

Bentrokan kepercayaan tersebut juga dirasakan oleh penonton. Ada beberapa adegan realisme magis, misalnya si pesulap berkomunikasi dengan orang yang meninggal. Adegan tersebut membuat penonton pasang surut dalam memercayai ilmu sihir si pesulap. Kemudian, kisah mulai terbuka, keragu-raguan tidak hanya menyerang para ilmuan, tetapi juga menjebak penonton.

Spiritis kontra Rasionalis

Ingmar Bergman menampilkan The Magician dengan balutan drama-komedi. Woody Allen juga memuat ide serupa, namun nuansa Magic in the Moonlight (2014) lebih jenaka dibandingkan The Magician. Dalam film ini,  Woody Allen memasangkan Emma Stone (Sophie) dan Colin Firth (Stanley) sebagai tokoh utama.

Magic in the Moonlight merupakan sebuah film roman yang mempertemukan seorang pesulap rasionalis dan seorang spiritis. Suatu hari, Stanley, pesulap tersohor yang mampu menghilangkan seekor gajah dari panggung, diundang untuk ikut-merasakan ritual memanggil ruh pada sebuah keluarga di Prancis. Ia ragu dengan ritual tersebut.

Akhirnya, Ia menerima undangan tersebut. Bukan tanpa alasan ia datang jauh-jauh dari Jerman ke Prancis jika hanya merasakan sensasi memanggil ruh. Dalam kesempatan itu, ia berniat menganalisis dan membongkar cara kerja Shopie, seorang spiritis, dalam memanggil ruh mendiang suami si pemilik rumah. Stanley datang dengan semangat menggebu-gebu untuk berjumpa dengan Sophie.

Pertemuan Stanley dan Shopie mewakili tabrakan antara yang logis dan mistis. Ditampilkan beberapa kali Stanley merapal pemikiran filsuf Jerman bahwa segala hal dapat diterangkan dengan rasio. Baginya, segala kebenaran bersumber pada ketertiban berpikir, tidak ada hal yang luput dari penjelasan akal. Dengan kepercayaanya pada rasio, ritual memanggil ruh merupakan hal yang sangat tidak masuk akal baginya. Ia curiga sekali dengan tipu daya yang diperagakan oleh Sophie.

Dalam serangan pertanyaan Stanley yang skeptis, Sophie tidak mengendur. Ia bulat hati dengan hal-hal mistis. Ia tetap mempraktikkan kemampuannya dalam menerawang masa lalu, masa depan dan serba-serbi yang tengah dipikirkan orang lain. Hal ini juga ia praktikkan pada Stanley. Dalam konflik ringan tersebut, keduanya tetap kekeh dengan kepercayaan masing-masing.  

Lambat laun, Stanley mengalami guncangan dengan keyakinanannya pada rasio. Ia merasa terhantam apabila menghadapi realita yang menghadirkan luka dan penderitaan. Mistis, sesuatu yang baginya takdapat diterima akal, ternyata mampu menghidupkan kembali harapan-harapannya yang takmungkin tercapai, termasuk kedatangan Sophie yang membawa kesegaran dan keajaiban pada hidupnya.

Ide ini sebenarnya juga termuat dalam film Woody Allen yang lain, yakni You Will Meet a Tall Dark Stranger (2010). Woody menyelipkan soal: dalam menghadapi hidup, terkadang ilusi lebih mujarab daripada pengobatan; solusi yang mistis lebih mujarab daripada kenyataan. Kemampuan di luar manusia dapat menghidupkan semangat manusia dalam menjalani hidup yang absurd dan takjarang menjadi alternatif yang tokcer.

Dalam Magic in the Moonlight, Stanley dan Sophie ternyata saling memengaruhi. Stanley merasa Sophie sebagai hal yang takterjelaskan dan melengkapi dirinya. Di sisi lain, Sophie juga mendapat pengaruh Stanley terkait pemikiran rasional. Sophie terpengaruh untuk bersikap logis pada segala hal, termasuk masa depan dan kisah percintaannya. Uniknya, tetiba Stanley haus keajaiban, sedangkan Sophie mulai berpikir logis.

Baik percaya pada rasio, maupun pada magis, keduanya memotret cara manusia dalam memahami dunia yang serbamisteri dan serbatakterpahami. Kebenaran nyatanya tidak bisa tersingkap secara penuh, baik secara nyata, maupun secara magis. Keduanya dapat digunakan untuk memahami ketaklengkapan manusia dalam menangkap “kebenaran pasti”, itu pun kalau masih ada keinginan untuk menggapainya.

Baca juga: A Rainy Day in New York (2019): Mencipta Romantis

Penulis: Anggino Tambunan
Penyunting: Farhan Iskandarsyah