3 Hari untuk Selamanya (2007): Kebebasan di Ujung Tanduk

0
201
3 Hari untuk Selamanya (2007): Kebebasan di Ujung Tanduk

Sinar Ayu Massie mungkin menulis skenario 3 Hari untuk Selamanya dengan mengedepankan konsep “di ujung kebebasan”. Kedua pemeran utama, Yusuf dan Ambar, berada di ujung masa remajanya dan hendak memasuki fase kedewasaan. Saat diberi tanggung jawab, keduanya mungkin punya jalur yang berbeda walau memiliki tujuan yang sama.

Manusia kerap memandang kedewasaan sebagai sesuatu yang stagnan. Walaupun berjalan, itu pun hanya berputar seperti poros yang hanya menuju ke titik yang sama. Oleh karena itu, masa muda dianggap sebagai kebebasan sebab setiap jalan yang ditempuh membuahkan jalan baru yang terus bercabang. Segala kemungkinan tersebut menimbulkan semangat yang terus terbarui karena terus ada hal baru yang kita temui.

Ketika kebebasan dari masa muda sudah berada di ujung tanduk, akan ada ketakutan-ketakutan tersendiri bahwa kita takkan membuka jalan baru lagi. Untuk menghabiskan sedikit masa-masa kebebasan ini, beberapa anak remaja akhir kerap melakukan hal-hal gila yang belum pernah dilakukan sebelumnya. Film-film yang membahas hal ini banyak dan pada akhirannya, mereka menemukan diri mereka yang baru.

Hal ini juga kita temukan dalam 3 Hari untuk Selamanya yang ditulis oleh Sinar Ayu Massie dan disutradarai oleh Riri Riza. Dua karakter utama dalam film ini, Yusuf (Nicholas Saputra) dan Ambar (Ardinia Wirasti) sedang memakai sisa-sisa privilese dari masa mudanya. Sisa-sisa itu ia gunakan untuk berprokrastinasi, melama-lamakan tanggung jawabnya mengantar barang hingga mepet dengan batas waktu.

Awalnya, hanya Yusuf yang diminta tantenya, ibu dari Ambar, untuk mengantarkan peralatan makan yang terbuat dari keramik untuk dibawa ke Yogyakarta dari Jakarta. Hal ini disebabkan tantenya tidak percaya mengirim barang istimewa tersebut atau membawanya dengan pesawat. Ia memercayai jalur darat yang lebih ajek dan Yusuf mungkin mengantarkannya tepat waktu jika takada Ambar.

Kita bisa melihat peralatan makan yang diberikan ibu Ambar kepada Yusuf sebagai tongkat estafet penerus tradisi. Bisa juga disimpelkan sebagai kepercayaan, tanggung jawab karena  Yusuf dirasa sudah dewasa. Jika perjalanan menuju kedewasaan diibaratkan sebagai balapan, Yusuf mungkin sudah di depan Ambar dan akan mencapai garis finis. Namun, dalam balapan tersebut, Ambar memanggilnya, dalam konteks film ini memintanya berjalan bersama untuk mencapai finis.

Yusuf sendiri tidak seratus persen mulia, sebelum memulai perjalanan ia membeli sepak ganja untuk dinikmati dalam perjalanan. Ini berarti keduanya memang punya niat bersantai, tetapi keinginan Ambar untuk bersinggah di Bandung terlebih dahulu yang membuat perjalanan makin lama. Yusuf bisa dibilang tipe orang yang santai, tidak perlu terburu-buru asal tidak menyakiti perasaan orang lain. Sementara itu, Ambar orang yang tidak ingin dipaksa dan semuanya harus sesuai dengan yang ia inginkan walau ia juga ingin mencapai garis finis.

Selagi mereka menempuh perjalanan, ganja kerap menemaninya. Ganja ini mungkin sebagai alat penenang, walau mereka tahu ada tugas yang harus dilaksanakan, mereka merasa masih punya waktu untuk tidak menyelesaikannya terburu-buru. Selama 24 jam pertama dari Jakarta ke Bandung dan singgah di sana, mereka masih belum merasakan urgensi.

Dalam perjalanan, mereka membicarakan alasan kakak Ambar menikah karena dipergoki berhubungan seks. Padahal, kakaknya punya karier dan jika memiliki anak akan menyulitkannya. Pembicaraan pun mengarah kepada pemikiran-pemikiran tradisional atau kolot yang sudah takrelevan pada zaman sekarang. Pembicaraan sebebas dan seliar ini kerap dilakukan anak kuliah, belum banyak tanggung jawab, tetapi telah cukup berilmu.

Pembicaraan mengenai pernikahan pun berlanjut pada adegan-adegan kecil yang menunjukkan ketidakidealan dalam berumah tangga. Dimulai dari ayah Ambar yang selingkuh, sepasang suami-istri penjaga warung makan yang tidak akur, hingga pemilik homestay yang maniak seks sehingga berpoligami. Pembahasan ini pun mengarah kepada hal yang terkandung dalam pernikahan: hubungan seks.

Dari caranya berlaku, Ambar melihat seks sebagai simbol kebebasan. Ia bisa berhubungan dengan siapa saja tanpa komitmen. Ia pun melihat bahwa anggapan lelaki harus lebih ahli perihal seks ketimbang wanita karena keinginan lelaki yang ingin lebih unggul dari wanita. Sementara itu, Yusuf selalu tergoda dengan fisik Ambar. Selain itu, dalam perspektif perempuan tersebut, ia seakan mengekang dirinya dengan norma.

Pembicaraan bebas mereka mulai menyerang satu sama lain sehingga kebebasan makin terbatas. Keduanya melakukan rekonsiliasi dengan nafsu untuk bersama. Setelah itu, Ambar melihat ada yang kecelakaan, ia melihat kematian. Seperti pepatah, “kematian dapat membuatmu lebih bijaksana,” sebab dengan melihat kematian, kita tahu bahwa waktu kita di dunia ini terbatas. Dari kebijaksanaan datanglah kedewasaan, bukan sebaliknya.

Tiada yang sadar bahwa masa muda mereka segera habis sesampainya di Yogya saat memulai perjalanan. Keduanya sadar ketika mereka sudah dekat dan sampai di sana. Yusuf pun mulai berani mengambil tindakan, ia berhubungan badan dengan Ambar, satu langkah terakhir dari mereka untuk menghabiskan masa mudanya. Sayangnya, mereka lupa bahwa privilese masa muda mereka telah berakhir. Selain itu, sekarang, setiap tindakan yang dilakukan dapat menghasilkan konsekuensi besar: setahun kemudian terungkap hubungan mereka merenggang.

Infografik 3 Hari untuk Selamanya (2007): Kebebasan di Ujung Tanduk oleh ulasinema.

Baca juga: Bebas: Berkelana Bersama Kenangan Vina

Penulis: Muhammad Reza Fadillah
Penyunting: Anggino Tambunan