Dekade 2020: Akhir Kejayaan Film Pahlawan Super?

0
221
Dekade 2020: Akhir Kejayaan Film Pahlawan Super?

Salah satu ciri khas yang sangat melekat dari dunia perfilman pada dekade 2010 merupakan begitu banyaknya film-film pahlawan super. Film-film ini mendominasi bioskop dan masyarakat terus mengelu-elukan kisahnya. Akankah tren menonton film pahlawan super akan berakhir pada dekade 2020?

Memasuki dekade 2020 membuat kita menilik kembali peristiwa-peristiwa yang terjadi pada dekade 2010. Bagi dunia perfilman, sepertinya ada berbagai peristiwa yang signifikan. Mulai dari banyaknya film-film pahlawan super produksi studio raksasa, seperti Disney dan Warner Bros., lalu tren layanan streaming yang semakin digemari dan ditutup dengan Oscar yang memenangkan film asal Korea Selatan.

Lalu, akan seperti apa dekade 2020? Sepertinya, film-film pahlawan super masih akan unggul dan menjadi jawara di bioskop. Namun, sepertinya, kejayaan mereka akan berakhir jika tidak banyak menawarkan hal baru. Kemudian, akan ada desakan hebat dari film-film alternatif yang lebih progresif dan variatif.

Balapan Tunggal Disney-Marvel

Pada dekade 2010, Marvel Studios, bawahan dari Disney, memproduksi hingga 21 film dan meraup keuntungan hingga lebih dari 21 miliar dolar AS. Tren mereka pada tahun 2018 dan 2019 pun naik, dari 6 film terbarunya dalam Marvel Cinematic Universe (MCU), 5 di antaranya raup keuntungan lebih dari 1 miliar dolar AS. Bahkan, dua seri film unggulan mereka, yaitu Avengers, meraih lebih dari 2 miliar dengan Avengers: Endgame (2019) jadi film terlaris sepanjang masa.

Melihat tren seperti ini, rasanya Disney-Marvel masih akan berjaya dalam separuh dekade 2020. Mereka pun memiliki perencanaan yang cukup matang dan ditambah lagi diakuisisinya 20th Century Fox sehingga mendapatkan hak produksi film Marvel lainnya, yaitu para pahlawan X-Men. Selain itu, kerja sama cermat dengan Sony atas hak produksi bersama film-film Spider-Man dapat meredam persaingan.

Hal-hal di atas membuat film-film Marvel Studios seakan taktersentuh. Mereka unggul jauh atas pesaing mereka, DC. Pasalnya, perencanaan DC Universe (DCU) tidak sekonkret MCU dan produk filmnya tidak mendapat sambutan sebaik MCU. Ada berbagai macam permasalahan yang terjadi dalam pihak Warner Bros. dalam memproduksi DCU.

Masalah pertama adalah beban terlalu berat yang ada di pundak Zack Snyder. Sineas ini menyutradarai beberapa film-film DCU dan sepertinya menjadi kepala proyek semesta sinema pahlawan super ini. Keberatan beban sepertinya membuat Snyder menghabiskan terlalu sedikit waktu dengan keluarganya yang berujung pada kejadian tragis yang terjadi pada anaknya. Snyder pun mundur.

Mundurnya Snyder berimbas pada proyek yang sudah dirancang. Beberapa aktor utama mereka mengundurkan diri dari proyek ini. Jika dilihat lagi, proyek DCU memang taksebaik MCU. Film kolaborasi yang melibatkan dua pahlawan super lebih dinilai terlalu cepat, apalagi kemunculan Batman yang terasa tiba-tiba dan janggal.

Selain itu, film-film DCU kurang dapat diterima oleh masyarakat. Dari 7 film DCU pada dekade 2010, mereka meraup keuntungan 5 miliar dolar AS dan hanya Aquaman (2018) yang tembus satu miliar dolar AS. Tandanya, rata-rata film DCU raup keuntungan sekitar 750 juta dolar AS. Rata-rata ini kalah dari MCU yang rata-rata dapatkan lebih dari 1 miliar dolar AS per film. Begitu juga dengan kritikus, dari penilai rata-rata kritik film Metacritic, DCU hanya mendapatkan rata-rata 55 per 100 dari tujuh filmnya pada dekade 2010. Sementara itu, MCU dari 21 filmnya dapatkan rata-rata 68.

Jika DCU belum mampu menaikkan levelnya dan menggarap perencanaan lebih matang, MCU semakin taktersentuh dan akan seperti balapan tunggal. Namun, DC masih punya kartu As. Film Joker (2019) di bawah naungan DC mendapatkan sambutan hebat dari masyarakat dan kritikus. Proyek film pahlawan super yang lebih progresif terlihat akan lebih digemari saat masyarakat jenuh dengan pakem film pahlawan super yang begitu-gitu saja.

Selain itu, ada juga persaingan unik dari dalam kubu Marvel yang tidak dinaungi Disney. Film Spider-Man: Into the Spider-Verse (2018) dapat sambutan yang hebat. Di Indonesia sendiri, terdapat Bumilangit Cinematic Universe (BCU) yang telah memiliki rancangan film-filmnya untuk beberapa tahun ke depan. Hal ini dapat menghadirkan persaingan baru yang lebih variatif.

Titik Jenuh Masyarakat

MCU punya banyak proyek film, DC dan DCU siapkan banyak proyek juga. Dengan semakin banyaknya proyek film pahlawan super, akan ada titik ketika masyarakat mulai jenuh dengan kehadiran mereka. Kebosanan untuk menonton film-film pahlawan super yang gitu-gitu aja sudah mulai terasa.

Apalagi, semakin maraknya akun-akun pembahas film di media sosial menciptakan panggung tersendiri bagi film-film lain untuk dilirik khalayak. Semakin banyak masyarakat yang memperhatikan perkembangan film sehingga banyak film-film alternatif yang lebih variatif dilirik.

Panggung untuk film-film alternatif ini pun semakin banyak. Untuk akses film-film alternatif yang kurang dapat perhatian di ritel bioskop besar sekarang semakin mudah. Bioskop alternatif semakin berkembang dan jumlahnya semakin banyak. Semakin mudahnya akses tidak hanya untuk pergi ke bioskop saja, tetapi Anda sekarang bisa dengan mudah menikmati film di rumah.

Selain penayangan di televisi yang sudah ada sejak dahulu, sekarang kita bisa menikmati film melalui layanan streaming. Akses internet yang semakin masif mendukung perkembangan layanan streaming. Salah satu yang paling digemari masyarakat pada masa kini, yaitu Netflix.

Pada awalnya, Netflix membeli hak siar film dan serial-serial tertentu. Namun, pembelian hak siar yang besar tidak sebanding dengan pemasukan mereka. Layanan streaming kondang ini pun menciptakan revolusi baru: memproduksi film dan serial khusus untuk pelanggan mereka. Hal ini ternyata lebih menguntungkan: eksklusivitas mendatangkan pelanggan.

Melihat berbagai film dan serial yang diproduksi atau didistribusi Netflix memang bisa mengancam bioskop. Mereka bisa menghadirkan serial blockbuster dalam Stranger Things dan film-film kelas atas seperti Roma (2018), The Irishman (2019), dan Marriage Story (2019). Alfonso Cuáron, sutradara Roma menyatakan alasannya mendistribusikan filmnya lewat Netflix karena mereka mengerti filmnya. Sementara itu, bagi Martin Scorsese, The Irishman didistribusikan oleh Netflix karena banyak rumah produksi yang menolak atau enggan memberinya kebebasan.

Dengan alternatif yang menjamin kebebasan sineas seperti ini, jelas Netflix bisa jadi ancaman serius. Layanan streaming yang produksi film dan serial mereka secara eksklusif pun makin banyak, mulai dari Amazon Prime, HBO Go, Disney+ dan lainnya. Ditambah lagi dengan adanya pandemi korona pada awal tahun 2020 ini, pembatasan ruang gerak dan ditutupnya bioskop jadi kejayaan bagi para layanan streaming.

Lalu, akan ke mana arahnya dekade 2020? Film-film pahlawan super rasanya masih akan berjaya hingga pertengahan dekade. Namun, film-film alternatif akan makin berkembang dan menunjukkan giginya. Ada kemungkinan pada setengah akhir dekade 2020, film-film alternatif semakin berkembang dan mengakhiri kejayaan film-film pahlawan super.

Bagaimanapun, pandemi korona ini bisa jadi bahan pertimbangan juga. Krisis ekonomi yang disebabkan oleh pandemi ini tidak terbendung. Ada kemungkinan, studio-studio besar memiliki tendensi untuk produksi film drama atau komedi yang lebih murah alih-alih film-film aksi, fantasi, atau fiksi-sains yang butuh dana mahal. Kalau kejadiannya seperti ini, kejayaan film-film alternatif mungkin bakal lebih cepat datang. Namun, kerinduan masyarakat akan pengalaman sinematik yang diberikan film-film blockbuster seperti film pahlawan super bisa saja membuat subgenre ini bangkit kembali pada akhir dekade 2020.

Baca juga: Melihat Wanita Secara Utuh dari Kacamata Alfonso Cuaron

Penulis: Muhammad Reza Fadillah
Penyunting: Anggino Tambunan