Review Joko Anwar’s Nightmares and Daydreams (2024)

0
38
Review Joko Anwar's Nightmares and Daydreams (2024)

Joko Anwar bekerja sama dengan Netflix untuk ciptakan serial fantasi horornya, Nightmares and Daydreams. Dibagi dalam tujuh kisah berbeda di tiap episodenya, Anwar menawarkan perjuangan mencekam masyarakat kecil melawan masyarakat kelas atas. Dalam serial ini, kita bisa benar-benar melihat kemampuan bercerita Anwar.

Sepanjang kariernya, Anwar selalu melihat ketertindasan rakyat kecil oleh penguasa semena-mena dalam sudut yang menarik. Sayangnya, ide menariknya ini kerap terbenam dengan klise horor repetitif atau dialog terburu-buru. Misalnya, hal ini sangat mengganggu sudut pandang menarik yang ditawarkan di Pengabdi Setan 2: Communion (2022) atau Gundala (2019). Namun, melihat film terbarunya, Siksa Kubur (2024), rasanya ia sudah membenahi kekurangan ini. Kemampuan bertuturnya pun semakin dipertajam dalam Nightmares and Daydreams.

Tentang “si Kecil” Melawan “si Besar”

Episode pertama berjudul “The Old House” menceritakan seorang supir taksi bernama Panji (Ario Bayu) yang ingin “membuang” ibunya, Ranti (Yati Surachman), ke panti jompo. Episode ini mungkin hal terdekat yang bisa kita dapatkan untuk sisi auteur-nya Anwar dari latar mengerikannya hingga pewarnaan keruh dengan dominan warna kuning dan hitam gelap serta bubuhan sinar merah. Seperti judulnya, yang berarti mimpi buruk dan pelamunan, berkah ajaib yang diterima Panji ketika mendapati panti jompo mewah ingin menerima ibunya secara cuma-cuma rasanya seperti pelamunan. Makin ia mendalami sisi buruk panti jomponya, makin pelamunannya berubah menjadi mimpi buruk. Pelamunan menjadi mimpi buruk pun jadi formula yang menggerakkan ketujuh episode berbeda.

Hal yang paling menarik dari serial ini mungkin cara Anwar menyerang moralitas penonton dengan menyajikan kisah yang relevan. Dari episode pertama, kita sudah disajikan dengan pertanyaan moral, yaitu durhakakah kita jika menaruh orang tua kita di panti asuhan? Episode kedua, “The Orphan”, pun menyerang moralitas kita tentang membunuh orang jahat, terutama jika yang dibunuh itu minoritas.

Di episode kedua ini, rasanya kisahnya makin relevan. Seorang suami istri pemulung ingin mengatasi permasalahan finansialnya secara instan dengan mengadopsi “anak setan”. Kesulitan Iyos (Yoga Pratama) dan Ipah (Nirina Zubir) mengingatkan kita kepada film-film drama Indonesia miris yang mengeksploitasi orang miskin. Mereka melamun dengan hal yang mereka inginkan ketika menjadi kaya, lalu memplot pembunuhan anak adopsinya, Syafin (Faqih Alaydru), yang dikatakan punya kutukan yang membunuh orang tua pengadopsinya pada hari ketujuh.

“Karena Nila Setitik, Rusak Susu Sebelanga”

Rakyat yang kesulitan finansial, lalu mencari jalan pintas juga kita temui dalam “Hypnotized”. Dalam episode keenam ini, Ali (Fachri Albar) yang kesulitan dapat kerja karena ia buta warna, menggunakan ilmu hipnotis yang diajarkan temannya untuk mencuri. Ali yang mematahkan nilai moral untuk mengatasi masalah finansialnya justru menghadapi konsekuensi dengan keluarganya, yaitu tiba-tiba kehilangan nilai moral sehingga membenarkan pencurian serta kekerasan. Episode ini mungkin paling menekankan judul Daydreams kala tokoh utamanya berkelana ke alam mimpinya layaknya terhipnotis. Ini mungkin representasi Anwar dalam peribahasa “karena nila setitik, rusak susu sebelanga”.

Sayangnya, pengelanaan surealis ini terasa aneh dan justru membuat kisah yang dekat justru membuat penonton berjarak. Mungkin, Anwar belum bisa mempertajam fantasi-fantasinya, terutama dalam mencampurkan realitas Indonesia dengan fantasi barat. Keanehan ini dapat kita temui juga dalam akhiran episode satu dan akhiran pamungkas di episode tujuh. Kejanggalan akhiran di episode tujuh, “PO Box” ini cukup fatal, sebab ini menjadi akhiran yang mengikat ketujuh episode serial ini. Pengungkapannya terlalu terburu-buru dan resolusinya terasa terlalu cepat sehingga tempo yang perlahan dibangun terasa runtuh.

Walaupun begitu, sebagian besar episode terasa sangat efektif sebab dibangun dengan pondasi yang rapi dan apik, lalu ditutup dengan solid. “The Orphan” punya akhiran yang sepadan, diperkuat dengan akting Zubir yang kuat. Lalu, episode ketiga “Poems and Pains” tawarkan sudut pandang berbeda dan paling segmentif, yaitu tentang perempuan penulis yang merasuki karakter yang ia tulis. Bagian karakter yang ditulis Rania (Marissa Anita) sangat serupa dengan film Room (2015). Walaupun resolusinya berbeda dan senada dengan serial ini, tetapi jiplakannya lumayan terasa.

Lanjut ke episode keempat yang mungkin jadi episode terkuat dalam serial ini, yakni “The Encounter”. Kisahnya tentang nelayan miskin yang bertemu malaikat dan mendapatkan mukjizat layaknya nabi. Unsur kenabian Islami memang relevan sekali, apalagi pada beberapa dekade ke belakang ketika munculnya nabi palsu yang diagungkan di masyarakat. Bagaimanapun, Anwar mengembangkan karakter Wahyu (Lukman Sardi) seperti Santo yang sepanjang hidupnya diberi derita. Penciptaan latarnya begitu menarik:; mengenai desa nelayan yang hendak digusur pengusaha yang ingin membangun apartemen mewah. Walaupun ada unsur surealis dalam pemunculan malaikat, adegan ini terasa seperti bumbu krusial yang menentukan rasa ceritanya. Akhirannya pun sangat manis, puitis, sekaligus ironis: di tengah-tengah perpecahan antara rakyat dan militer, Wahyu menengahkannya dan melayang ke langit.

Berbicara mengenai manis, puitis, sekaligus ironis, mungkin episode kelima, “The Other Side” yang secara keseluruhan pantas dideskripsikan seperti di atas. Kisah berpusat  tentang pasangan paruh baya yang coba mengatasi masalah finansial dan, akhirnya, mental untuk mempertahankan kasihnya. Bandi (Kiki Narendra), seorang pelukis poster film, kesulitan mendapatkan kerja usai bioskop tempat kerjanya ditutup. Suatu hari Bandi kembali ke bioskop tempat ia bekerja dahulu yang depannya terbengkalai. Ketika ia masuk, dalamnya mewah kembali dan ia bertemu dengan bosnya. Sayang, ketika kembali ke rumahnya, Bandi mendapati dirinya telah pergi selama dua tahun. Rasa cinta dan kesetiaan Dewi (Sita Nursanti) ketika ia harus menerima suaminya kembali dan mengetahui bahwa Bandi mengalami gangguan mental. Sayang, penyakit serialnya kembali melekat: akhiran yang aneh. Kisah romantis episode ini mesti ditutup dengan akhiran yang lagi-lagi aneh dengan hadirnya makhluk fantastis dan aksi bertarung yang terasa sangat mentah.

Akhiran-akhiran aneh ini memang dirangkai Joko Anwar untuk merangkai kisah yang lebih besar lagi. Dari awal kita sudah disuguhkan dengan kisah-kisah masyarakat kecil melawan penguasa semena-mena dan hadirnya makhluk-makhluk serta kemampuan super. Lumayan jelas jika Anwar ingin membangun kisah pahlawan super, hanya saja, pemaduannya dengan cerita terasa aneh. Padahal, kekuatan utama serial ini ada pada cerita-cerita yang dekat dengan rakyat sehingga terasa jernih. Sayang, ketersambungannya terasa memaksa. Jelas sekali serial Joko Anwar’s Nightmares and Daydreams (2024) jauh lebih efektif jika ceritanya antologi semata. Namun, takbisa dimungkiri bahwa sinema Indonesia memang membutuhkan kisah-kisah liar seperti ini untuk membuka cakrawala baru.

Infografik Review Joko Anwar's Nightmares and Daydreams (2024)

Baca juga: Review Film Pengabdi Setan 2: Communion (2024)

Penulis: Muhammad Reza Fadillah
Penyunting: Anggino Tambunan