Review Film May December (2023)

0
133
Review Film May December (2023) oleh ulasinema

Melalui May December (2023), Todd Haynes mengangkat isu grooming dan kekerasan seksual. Kisah ini diangkat dari kisah nyata, yakni pasangan beda usia, Mary Kay Letourneau dan Vili Fualaau. Film ini coba mendekati fenomena pasangan murid dan gurunya ini dengan upaya memahami trauma masa lalu keduanya.

Kisah ini berpusat pada seorang aktris, Elizabeth (Natalie Portman), yang berambisi memerankan seseorang yang kontroversial, Gracie (Julianne Moore). Pada masa silam, Gracie yang telah bersuami tertangkap berselingkuh dengan anak di bawah umur, Joe (Charles Melton), yang akhirnya menjadi suaminya dan menemaninya menghabisi sisa hidupnya.

Demi pendalaman peran, Elizabeth mencoba “hidup” di tengah keluarga Gracie yang tampak stabil dan coba memahami sisi psikologis Gracie. Kehadirannya tersebut tidak lama “membangunkan” kembali problem masa lalu pasangan beda usia tersebut. Gracie mulai terusik dengan cukilan “kegemparan” yang dibuatnya pada masa lalu meski tidak ada rasa bersalah yang bersarang di dadanya. Joe pun pelan-pelan menengok masa silamnya dan menafsirkan ulang keputusan hidupnya. Selain itu, ia digambarkan sebagai orang yang menjalani hidup dengan penuh penyesalan.

Sammy Burch dan Alex Mechanik, penulis skenario, mengabstraksikan konflik batin Joe dengan ide metamorfosis. Joe, yang menaruh minat kelestarian, merawat beberapa ulat dan melepasliarkannya ketika sudah menjadi kupu-kupu. Hal ini tentu menjadi metafora bahwa ia adalah “kupu-kupu” yang telah melewati proses kehidupan pada masa silam. Di satu sisi, penggunaan abstraksi ini menunjukkan bahwa dari penceritaan ataupun dialog, dua penulis terasa kurang kuat dalam menampilkan isu kisah.

Di sisi lain, kehadiran tokoh Gracie dan Elizabeth yang diperankan aktris kawakan, Moore dan Portman, berhasil menjadi ruh yang menghidupi kisah ini. Moore menjelma perempuan paruh baya yang rapuh sekaligus kukuh. Portman menjelma aktris yang gugup dalam membaca situasi. Tanpa kehadiran keduanya, film ini mungkin tidak meninggalkan kesan yang mendalam. Amat wajar keduanya menjadi nomine Golden Globes 2024.

Sementara itu, latar kisah dibuat agak menyempit dengan tidaknya upaya kilas balik atau pelebaran konflik. Hal ini diniatkan mungkin sebagai upaya menjaga intensitas konflik. Padahal, banyak ruang yang bisa diterangi dengan sumbu konflik yang telah dinyalakan sejak awal. Selain itu, keringkasan kisah menyebabkan wacana grooming dan dampak sosial budaya tidak tergambarkan dengan penuh. Alhasil, potensi isu tidak mewujud dalam bentuk utuhnya, sehingga terjadi reduksi.

Sementara itu, pemilihan sudut pandang Elizabeth memiliki keterbatasan dalam menyingkap trauma yang dialami Gracie sebagai tokoh yang digambarkan bermasalah dengan mentalnya. Trauma dan naik turunnya emosi yang dialami Gracie kurang dimaksimalkan dalam pengadeganan. Selain itu, kehadiran Elizabeth pun tidak dimanfaatkan untuk mewujudkan puncak konflik yang optimal. Padahal, kita kerap melihat Portman memerankan tokoh-tokoh yang tertekan, seperti tokoh Nina pada film Black Swan (2010).

Apabila, dalam pengisahan, pusat cerita ditempatkan pada Gracie tentu akan ada peluang untuk mengeksplorasi sosoknya. Kita pernah melihat penampilan Moore yang memikat dengan karakter serupa, misalnya tokoh Amber, perempuan yang memiliki latar belakang problematik, dalam film Boogie Night (1997). Selain itu, ia pernah menghidupi tokoh Still Alice (2015), seorang ibu penyintas Alzheimer yang membuatnya merengkuh Oscar. Dengan kapabilitas Moore dan karakter Gracie yang menarik, film ini dapat memaksimalkan potensi dari aspek pengaktingan

Isu yang Serupa

Hal ini sepintas mengingatkan kita pada film The Perks of Being a Wallflower (2012) garapan Stephen Chbosky. Sang tokoh yang introvert mengalami kecemasan sebab mengalami kekerasan seksual dari bibinya. Kejadian tersebut terus menghantuinya hingga ia remaja dan memengaruhi cara pikir dan tingkah lakunya, baik secara sadar maupun tidak sadar.

Isu dalam film ini juga dapat dikaitkan dengan film-film Woody Allen yang dianggap menormalisasi pasangan beda usia, yaitu yang muda belum memiliki kebijaksanaan atau kematangan dalam membuat keputusan sehingga kerap dimanipulasi oleh pasangan yang lebih tua. Hal ini termuat dalam Manhattan (1979), yakni seorang duda berhubungan dengan siswa sekolah. Selain itu, ada pula film Whatever Works (2009), seorang paruh baya menjalin hubungan dengan gadis muda yang naif dan belum matang dalam bertindak.

Walhasil, May December (2023) menawarkan isu yang menarik. Kisah ini dapat melengkapi tafsiran terhadap isu grooming dan kekerasan seksual yang tetap relevan. Namun, sayangnya, potensi isu dan pemaksimalan pengisahan belum optimal.

Infografik Review Film May December (2023)

Baca juga: Budi Pekerti (2023) – Karya Masyhur Bhanuteja

Penulis: Anggino Tambunan
Penyunting: Muhammad Reza Fadillah