Review Film Mungkin Kita Perlu Waktu (2024): Trauma dan Rupa-Rupa Eskapisme

0
268
Mungkin Kita Perlu Waktu (2025): Trauma dan Rupa-Rupa Eskapisme

Luasnya cakupan spektrum emosi manusia menyertai proses pemaknaan hidup. Di dalam film Mungkin Kita Perlu Waktu (2024), banyak ragam emosi menyembul saat karakternya berkonfrontasi dengan trauma. Sutradara Teddy Soeriaatmadja tampak menyorot pergolakan manusia dalam merespon kehilangan melalui sejumlah eskapisme.

Ide pergulatan karakter terhadap trauma dan duka sebelumnya pernah diangkat Soeriaatmadja dalam karyanya bertajuk Berbalas Kejam (2023). Di film tersebut, protagonis berupaya menebus dukanya lewat aksi pembalasan dendam bernada ekstrem. Sementara itu, Mungkin Kita Perlu Waktu menyajikan kisah penyembuhan trauma dari sudut pandang ibu, ayah, dan anak.

Cerita Mungkin Kita Perlu Waktu berpusat pada keluarga beranggotakan Restu Kurniawan (Lukman Sardi), Kasih Kurniawan (Sha Ine Febriyanti), dan Ombak Kurniawan (Bima Azriel). Ketiganya mengalami duka mendalam selepas Sara (Naura Hakim), kakak Ombak, meninggal akibat kecelakaan. Konflik film ini bermula saat kepergian Sara meninggalkan trauma serta mengikis hubungan emosional keluarga ini.

Di awal film, penonton langsung disambut nuansa sentimentil alunan musik Nocturne op. 9 No. 2 buatan Frederic Chopin. Lalu ada sekuens pemicu konflik utama yang ditampilkan secara sinematik dan taktis. Prolog dramatis ini rasanya sukses merebut atensi.

Teddy kemudian membawa kita masuk dalam dunia karakter Restu, Kasih, dan Ombak. Ketiganya memang memiliki ikatan traumatis, namun eskapisme pilihan mereka berbeda-beda. Ada yang menyibukkan diri dengan bekerja, mendekatkan diri pada nilai-nilai agama, hingga konsumsi obat berlebihan.

Perbedaan mekanisme penanggulangan tersebut mewarnai dinamika hubungan antartokoh di keluarga Kurniawan. Padahal, sebelumnya, mereka sudah tertekan konstruksi sosial dan gender seperti adanya isu masalah mental yang dianggap tabu sebagian masyarakat dan stereotip maskulinitas pada peran ayah. Jadi, dapat dikatakan, penambahan aspek eskapisme turut mengeskalasi konflik film ini jadi lebih rumit sekaligus menggigit.

Hadirnya eskapisme juga mendekatkan kita dengan alam pikiran tokoh-tokoh di keluarga Kurniawan. Motivasi dari tindakan mereka pun jadi lebih mudah dicerna penonton. Penokohan makin terasa solid saat benturan pandangan antarkarakter terjadi. Misalnya, ketika pendekatan religius tokoh Kasih beradu dengan pendekatan klinis tokoh Restu atas masalah Ombak.

Bicara soal akting, Azriel dan Febriyanti tampak paling menonjol di film ini. Performa Azriel saat memerankan penyintas bunuh diri dengan emosi takstabil cukup meyakinkan. Febriyanti juga sukses meniupkan kompleksitas pada karakter Kasih yang kerap membahasakan amarah dan sedihnya dalam keheningan. 

Sejumlah aspek film ini mungkin mengingatkan kita pada Nanti Kita Cerita Tentang Hari Ini (2020): isu kesehatan mental, hubungan keluarga yang merenggang akibat trauma, serta pemilihan latar urban. Namun, Soeriaatmadja tetap menghadirkan unsur magnetik dan relevan dalam film ini seperti eskapisme sosial lewat religi serta andil penting psikolog dalam penanggulangan trauma.

Seperti film-film lainnya, Mungkin Kita Perlu Waktu juga taksepenuhnya sempurna. Iringan lembut musik Chopin rasanya terlalu sering diputar di banyak adegan film ini. Efek dramatisasi ini jadi terkesan agak berlebihan dan sedikit dipaksakan.

Selain itu, penulisan sejumlah tokoh juga tampak kurang rapi. Misalnya, karakter Aleiqa (Tissa Biani) yang dari awal terlihat sebagai katalisator perkembangan tokoh Ombak. Penggambarannya yang takpernah muram dan misterius cukup formulaik sehingga nasib akhirnya mudah dibaca.

Lalu, ada sedikit kesan stigmatisasi pada tokoh Kasih sebagai perempuan yang ditampilkan sulit mengekspresikan emosi dan keinginannya. Progresi karakter ini juga kurang terlihat dibandingkan tokoh-tokoh lainnya di keluarga Kurniawan.

Mungkin Kita Perlu Waktu secara menyeluruh mengupas perjalanan merespon trauma secara unik lewat beragam perspektif gender dan usia. Film ini juga menyorot rupa-rupa eskapisme manusia dalam upaya bertahan hidup. Tontonan reflektif yang dekat dan emosional.

Infografik Review Film Mungkin Kita Perlu Waktu (2025): Trauma dan Rupa-Rupa Eskapisme

Baca juga: Review Film Home Sweet Loan (2024) – Relevan dan Dekat

Penulis: Farhan Iskandarsyah
Penyunting: Muhammad Reza Fadillah