Review Film Mission: Impossible – The Final Reckoning (2025)

0
323
Review Film Mission: Impossible - The Final Reckoning (2025)

Ethan Hunt adalah Tom Cruise dan vice versa, saat kita membicarakan tentang salah satu saga aksi terpanjang, Mission: Impossible. Melanjutkan kisah Dead Reckoning, Hunt di Mission: Impossible: The Final Reckoning (2025) perlahan membuka rahasia tenggelamnya kapal Sevastopol dalam misi melawan kecerdasan buatan bernama “Entity”. Christopher McQuarrie pun kembali menyutradarai, film keempatnya dalam saga ini.

Sejak proyek Dead Reckoning dijalankan dan dirancang jadi dua film, keduanya diproyeksikan untuk menjadi penutup dari saga Mission: Impossible. The Final Reckoning pun awalnya diberi nama Dead Reckoning Part 2, tetapi diganti setelah Cruise mengekspresikan keinginannya untuk melanjutkan saga ini. Kita pun awalnya berharap The Final Reckoning pun menjadi akhiran kisah Ethan Hunt.

Sejak Dead Reckoning kita bisa lihat beberapa kilas balik yang membuat penggemar mengingat kembali tokoh-tokoh di film terdahulu serta kisah kesulitan Hunt. Musuh masa lalu pun kembali dihadirkan, baik dalam bentuk karakter lama maupun pertarungan moral dari konsekuensi tindakan Hunt pada masa lalu. Dead Reckoning pun menyajikan aksi gila demi aksi gila yang memenuhi layar hampir tiga jam lamanya.

Dengan durasi serupa The Final Reckoning mencoba menutup kisah ini. Sejak awal kita sudah disuguhkan dengan berbagai macam kilas balik yang lebih banyak dari film sebelumnya. Sekuens ini cukup untuk menyentuh para penggemar yang telah setia mengikuti saga berjumlah delapan film ini. Ada usaha keras dari Quarrie untuk menyentuh emosi para penonton lebih kuat dibanding film-film sebelumnya.

Seperti layaknya film-film penutup, pertaruhan pun dibuat makin besar. Kematian karakter sampingan mungkin lumrah ditemukan dalam saga Mission: Impossible sejak film pertama. Namun, kali ini dengan kematian karakter yang selalu hadir dalam film pertama, usaha dramatisasi pun lebih deras. Ada banyak dialog-dialog yang dibuat untuk lebih menusuk perasaan penonton. Sayangnya, dalam usaha mendramatisasi, The Final Reckoning masih jauh dari kata solid.

Untungnya, dialog repetitif seperti “untuk orang yang kita cintai dan untuk orang yang takpernah kita temui” bekerja dengan baik untuk menyentuh penonton. Selain itu, walau dialognya lemah, adegan drama dalam film ini ditempatkan dengan baik. Hal yang disayangkan ialah keberadaannya merusak tempo film.

Mission: Impossible yang kita kenal dalam beberapa film terakhir selalu mendebarkan karena mengikat dalam logika film aksi saat waktu sedetik saja sangat berharga. Sekalinya ada dramatisasi, drama tersebut dibuat secepat dan seefektif mungkin untuk menusuk penonton. Dalam film ini, kematian Luther (Ving Rhames) mendobrak pakem tersebut. Luther yang sedang mempreteli bom agar ledakannya tidak terlalu besar dalam waktu terbatas rasanya berdialog terlalu lama dengan Hunt. Adegannya dimengerti untuk memberikan perpisahan kepada karakternya, tetapi sejak adegan ini diputar, film ini terasa menjadi keluar dari tempo.

Selanjutnya kita pun bertanya-tanya, kegilaan akrobatik paling gila apa yang akan dilakukan Cruise sebagai Hunt selanjutnya? Jawabannya pun membuat kita menggeleng-gelengkan kepala dengan decak kagum. Pertama-tama, ia menantang maut dengan menyelam selama lebih dari sepuluh menit untuk keluar dari Sevastopol. Kedua, setelah menunggangi pesawat di Rogue Nation, kita akan melihatnya lebih gila lagi dalam bergantungan di pesawat capung dan beraksi di udara.

Aksi-aksi gila yang autentik seperti ini membuat kita terus kembali di Mission: Impossible. Namun, pada usianya yang menjelang 63 tahun, 30 tahun sejak film pertamanya, rasanya Cruise sudah mencapai batasnya. Kerutan di wajahnya sedikit mengikis wajah supertampannya di film-film awal. Berkurangnya daya atraktif dari mukanya terus ia tambal dengan atraksi-atraksi yang lebih gila.

Segala pertaruhan duniawi yang lebih besar ini pun ditampilkan dengan konsekuensi yang lebih nyata. Kini kita ditampilkan visualisasi langsung konsekuensi dari aksi Hunt. Dengan segala visualisasi hiperbolik dan percobaan menyumpel semua karakter untuk masuk dalam satu bingkai, di beberapa sisi film ini menjadi terasa komikal.

Takbisa dimungkiri bahwa beberapa aksi di The Final Reckoning (2025) sangat liar dan mengundang decak kagum. Pertarungan dengan kecerdasan buatan pun, seperti ulasan film sebelumnya, terasa sangat relevan pada masa kini. Namun, dalam film yang sudah terbiasa dengan aksi tanpa henti ini, memperbanyak dramatisasi mungkin bukan cara yang baik, seperti yang kita lihat juga dalam John Wick: Chapter 4 (2023). Bagaimanapun, jika ini benar kesempatan terakhir melihat kegilaan Cruise sebagai Hunt, maka kesempatan itu takboleh terlewatkan.

Infografik Review Film Mission: Impossible - The Final Reckoning (2025)

Baca juga: Review Film Monkey Man (2024): Percampuran John Wick dan The Raid

Penulis: Muhammad Reza Fadillah
Penyunting: Farhan Iskandarsyah