The Last of Us Season 2 (2025) mengambil jalan cerita yang berani, sama seperti serial permainan videonya. Fokus cerita kini kepada sosok Ellie (Bella Ramsey) yang membalaskan dendam kepada antagonis baru, Abby (Kaitlyn Dever). Beberapa episode terasa sangat kuat, tetapi di episode lain intensitas dan kualitasnya terasa berbeda jauh.
Bagi yang sudah memainkan atau setidaknya menonton YouTuber bermain The Last of Us Part II (2020), pasti sudah tahu bahwa ada karakter besar yang langsung meninggal pada bagian awal gim. Jalan cerita yang diambil Neil Druckmann pada saat itu mengundang kontroversi. Bukan hanya kematian karakter utama, tetapi perkembangan karakter Ellie hingga pemain yang diminta memainkan antagonis, yakni Abby.
Pengambilan jalan cerita kontroversial ini membuat pendapat para penggemar terbagi. Beberapa memuji keberanian Druckmann, tetapi banyak juga yang taksuka. Bagaimanapun, hal yang disetujui dari kedua kubu ini ialah hebatnya mekanisme permainan The Last of Us Part II dan visual yang superindah.
Dalam adaptasi serialnya, Craig Mazin pun harus mengikuti kisah kontroversial ini. Pada episode pertama, kita langsung dikenalkan dengan antagonis ceritanya, yakni Abby. Di sini dijelaskan latar belakang Abby membunuh salah satu protagonis utama, mungkin usaha dari Mazin untuk membuat penonton lebih berempati kepadanya.
Selain itu, kita juga diberi tahu tentang perkembangan terbaru dari fluktuasi hubungan Ellie dan Joel (Pedro Pascal). Dari perjalanan ceritanya, kita taklangsung diberi tahu alasan Ellie membatasi hubungannya dengan Joel. Namun, dari akhiran musim pertama mungkin kita sudah sadar penyebabnya.
Tujuan Mazin menyembunyikan plot ini mungkin ingin membuat kita berempati kepada Joel yang kerap memasang muka kasihan ke Ellie. Dengan empati besar kepada Joel, adegan besar yang menimpanya di episode kedua pun mungkin bisa mengundang emosi lebih besar. Sayangnya, dengan Mazin yang cukup setia dengan pengadeganan di gim, kematian Joel yang membuat bulu kuduk penonton bergidik malah terasa agak hampa.
Hal yang dibutuhkan penonton mungkin berempati dengan Ellie. Hal ini terasa suilt sebab pada awal cerita kita masih disuguhkan kepada sosok Ellie yang arogan dan kelakuannya yang dingin terhadap Joel. Padahal, hal ini penting sebab porsi besar musim ini banyak mempertontonkan sudut pandang Ellie.
Akhirnya, episode tiga, empat, dan lima pun terasa hanya seperti main-main. Kita melihat Ellie dan sahabat yang akan menjadi kekasihnya, Dina (Isabela Merced) seperti dua bocah yang terlihat bersenang-senang dengan latar pasca-kiamat. Dua remaja atau dewasa awal berkelana dengan latar dunia yang hancur atau mundur, kita jadi ingat dengan film-film fiksi-sains dewasa muda yang beken pada awal dekade 2010-an (The Hunger Games, Divergent).
Sayangnya, kebanyakan film ini terasa seperti opera sabun dengan latar produksi yang mewah saja tanpa adanya penceritaan kuat. Walaupun dengan sentuhannya, Mazin pun takbisa juga menyelamatkan kualitas beberapa episode ini dan terperangkap juga kualitasnya seperti film-film fiksi-dewasa pada sedekade silam. Dengan penceritaan yang lemah dan kualitas akting yang kurang maksimal, sulit untuk penonton bisa menginvestasikan emosinya lebih dalam.
Beruntung beberapa episode setelahnya menyelamatkan musim ini. Hal yang paling utama ialah kembali hadirnya Joel pada episode enam. Di sini ceritanya tentang kilas balik Ellie mengetahui kenyataan tentang penyelamatannya dari Fireflies beberapa tahun silam. Hadirnya Pascal benar-benar menaikkan level di episode ini, aktingnya saat berbicara dengan Ellie pada akhir episode juga meningkatkan akting Ramsey.
Dengan konsolasi Ellie dan Joel yang telah ditampilkan di episode sebelumnya, kita pun sudah mulai bisa memaafkan arogansinya sepanjang musim ini. Hal yang disayangkan lagi, kita mungkin baru bisa benar-benar menyelami cerita pada episode tujuh yang jadi penutup musim ini. Akhirannya pun dibuat sangat menggantung.
Sebelumnya Mazin telah memaparkan bahwa Part II dari gim ini akan dibagi menjadi dua musim. Di gim, kita diberi dua sudut pandang sejak awal, dari sudut pandang Ellie dan sudut pandang Abby. Di serial musim kedua ini, sebagian besar cerita fokus pada sudut pandang Ellie. Ini berarti kita akan disuguhkan pada sudut pandang Abby.
Jika pada musim kedua ini kualitasnya seinkonsisten ini, mungkin musim ketiga bisa lebih parah lagi. Penonton dibuat sulit untuk menginvestasikan emosinya kepada Ellie dan mengikuti ceritanya. Jika kepada Ellie saja sulit, bagaimana kita bisa mengikuti kisah Abby setelah mengetahui perbuatan kejinya pada musim berikutnya?
Bagaimanapun, takbisa dimungkiri bahwa dalam beberapa momen, The Last of Us Season 2 ini benar-benar menghadirkan kisah emosional. Mungkin bisa lebih baik jika urutan pengadeganannya sedikit diubah agar kita bisa lebih berpihak kepada Ellie. Mungkin, pendapat ini juga sangat subjektif, terutama buat kita yang sangat menyukai karakter Joel.

Baca juga: The Umbrella Academy Season 4 (2024) – Akhiran Tanpa Kesan?
Penulis: Muhammad Reza Fadillah
Penyunting: Farhan Iskandarsyah


















