Kucumbu Tubuh Indahku (2018): Eja Ulang Makna Tubuh

0
462
Kucumbu Tubuh Indahku (2018): Eja Ulang Makna Tubuh

Melalui Kucumbu Tubuh Indahku (2018), Garin Nugroho mengeja ulang makna tubuh dari dualisme yang tarik-menarik: fisik dan psikis. Pemaknaan ulang tersebut berhasil mengganggu kita dalam menyikapi makna tubuh, mulai dari yang abstrak sampai yang dianggap remeh-temeh.

Gagasan Garin menyoal pemaknaan tubuh diwujudkan dalam tubuh Arjuno, seorang penari Lengger — sebuah kesenian tari lintas gender: laki-laki yang maskulin pada kehidupan sehari-hari dapat berubah menjadi penari perempuan yang cantik nan luwes. 

akurat_20190410060227_7018bJ

Sepanjang film, kita mendengar kesaksian Juno terkait tubuhnya. Kita diajak memahami Juno secara langsung, bukan dari gambaran Garin. Kisah ini dipandu dalam empat bagian monolog. Setiap monolog mengandung gagasan tubuh. Garis besarnya, yaitu pengalaman tubuh (indrawi) membentuk pengetahuan, kemudian menjadi penghayatan hidup seseorang.

Bagi Juno, tubuh takubahnya rumah: tempat ia hidup dan memahami hidup. Tanpa tubuh, tentu ia tidak mengada. Kelahiran, kehidupan, dan kematian ada di  tubuh seseorang. Selain itu, manusia sedari lahir hingga mati takjauh dari lubang, baik “lubang kecil” hingga “yang besar”. Gagasan lubang diambil dari kata leng yang artinya ‘lubang’ atau simbol perempuan. Adapun ger yang berasal dari jengger, yaitu ‘ayam jago’ atau simbol laki-laki. Jadi, dalam tarian Lengger, ada keseimbangan antara feminin dan maskulin.

Tubuh merupakan hasrat yang menggerakkan Juno. Hasrat yang bersemayam pada tubuh tiada batasnya dan tiada mampu dicegah. Kutipan film yang mengonkretkan terdapat di bagian,  “di tubuh manusia ada perang “Padang Kurusetra”: pertarungan nilai baik-buruk. Keinginan tubuh dan pikiran pun bertabrakan sehingga tubuh serupa alam yang dapat hancur. Kehancurannya ibarat gerak tari yang takkompak dengan bunyi dan goyah takberaturan.

MV5BZjJjYzk2MDAtMzZjZi00M2Y5LWEwYWEtYTEzMTkzZWYyNDJmXkEyXkFqcGdeQXVyNjkyMTg1NDM@._V1_

Melalui Kucumbu Tubuh Indahku (2018) , Garin menyajikan isu universal soal pemaknaan tubuh dari nilai tradisonal, alih-alih mengambil referensi dari luar Indonesia. Hal yang juga sudah ia lakukan pada film-film sebelumnya, seperti Opera Jawa (2006) dan Nyai (2016). Mengenai ide maskulin dan feminin, Garin mengambil kesenian Lengger dari Banyumas dan kesenian Reog dari Kebudayaan Jawa Timur. Soal latar budaya kekerasan, Garin mengambil latar ingatan sejarah ’65, saat maraknya isu PKI hingga penumpasannya.

Belakangan ini, selain dalam bayang-bayang sensor, “Kucumbu Tubuh Indahku” dapat penolakan dari beberapa pihak sebab dicap “melanggengkan isi LGBT”. Bahkan, ada petisi daring menolak penayangan film tersebut. Padahal, isu LGBT pada film ini bukanlah fokus utama. Garin hanya meminjam latar kehidupan penari Lengger untuk membuka banyak pemaknaan ulang terhadap tubuh— seperti yang telah diungkapkan di atas.

kucumbu2

Pemaknaan ulang tubuh ini dapat ditarik ke berbagai bidang kehidupan. Coba kita ambil benang merahnya dalam sinema. Tubuh merekam waktu dan menyimpan trauma; kita bisa saksikan soal ini dalam film 27 Steps of May (2018). Selain itu, Ave Maryam (2018), juga mencitrakan bahwa tubuh merupakan hasrat yang takbisa dibendung meskipun diuapayakan sedemikian rupa. Singkatnya, banyak soal yang bisa kita perbincangkan. Kucumbu Tubuh Indahku serupa pemantik tiada habisnya.

Selain itu, film ini mengingatkan kita bahwa trauma seseorang tidak hanya ada pada psikisnya, trauma juga terekam dalam tubuhnya. Hal tersebut kadang luput dari perspektif kita. Jika begitu, dapatkah trauma pada tubuh dapatpulih? Pertanyaan ini dapat menjadi awal mula usaha kita memahami manusia lainnya.

Akhirulkalam, Garin membuka jalan kita untuk memaknai tubuh; menunda kita dalam penilaian mana pantas dan tidak pantas, mana baik dan tidak baik terkait tubuh.

Baca juga: Pengaruh Pengabdi Setan Terhadap Film-Film Horor Indonesia

Penulis : Anggino Tambunan
Penyunting : Muhammad Reza Fadillah
Sumber Gambar : IMDb.com