Pengaruh Pengabdi Setan (2017) Terhadap Kafir (2018) dan Sebelum Iblis Menjemput (2018)

1
507
Pengaruh Pengabdi Setan (2017) Terhadap Kafir (2018) dan Sebelum Iblis Menjemput (2018)

Tak bisa dimungkiri pengaruh Pengabdi Setan (2017), film daur ulang karangan Joko Anwar dari film horor berjudul sama ini, pada beberapa film Indonesia. Film ini juga merupakan film yang paling melejit di Indonesia tahun lalu. Selain membangun sisi tegang sampai kejutan dengan manis, tema Pengabdi Setan terbaru ini memberikan dampak segar dan pengaruh pada dunia perfilman di Indonesia, terutama genre horor.

Pengabdi Setan (1980) dan Pengabdi Setan (2017)
Pengabdi Setan (1980) merupakan film horor yang mengambil latar kehidupan keluarga dan gejolak yang ditimbulkan setelah satu sosok penting dalam keluarga meninggal, yakni sosok ibu. Untuk memperjelas masalah yang dihadapi, cerita difokuskan pada karakter para tokohnya. Pertama, sosok ayah yang tak berikan banyak afeksi pada anaknya karena terlalu sibuk pada masalah pekerjaannya. Hal ini pun berimbas pada karakter kedua anaknya yang tak mendapatkan pendidikan langsung dari kedua orangtua sehingga menjadi abai dari norma yang ada. Sang kakak perempuan dikisahkan lekat dengan kehidupan dunia malam, sering pergi ke klab dan mabuk-mabukkan bersama teman-temannya. Sosok adik lelaki ditokohkan sebagai orang yang pendiam dan mendalami ilmu hitam. Singkat cerita, agama Islam-lah yang pada akhirnya jadi juru selamat mereka melawan berbagai macam hantu.

apj
Hantu Ibu dalam Pengabdi Setan (1980).

37 tahun kemudian, Joko Anwar mendaur ulang film karangan Sisworo Gautama Putra itu, masih dengan tema yang mirip, tetapi dipersulit dan dibuat lebih relevan dengan zaman sekarang. Salah satu keunggulan Pengabdi Setan buatan Gautama Putra adalah dobrakan penggunaan agama Islam sebagai penakluk gangguan supernatural. Kita pasti sering menonton film horor buatan Hollywood. Dalam film tersebut, hantu biasanya dilawan dengan pastur agama Katolik. Namun, dalam film ini, Sisworo menambah kearifan lokal dengan melawannya menggunakan ustaz, guru agama Islam. Film ini menggunakan arwah ibu untuk representasikan segala masalah yang ada dalam keluarga: kesedihan setelah kehilangan sosok ibu, buruknya bimbingan orangtua dan jauhnya anggota keluarga dari agama. Segala masalah yang ada dalam keluarga tersebut ditampilkan dalam sosok arwah ibu yang gentayangan dan dipercaya bisa diatasi lewat agama.

pengabdi

Dalam film Pengabdi Setan Joko Anwar, ia masih menuangkan nuansa Islam dalam film, tetapi tak memenangkan agama sebagai unsur absolut yang dapat menaklukkan setan. Dalam film daur ulang ini, Joko Anwar kembali menampilkan ustaz yang membantu keluarga yang diteror arwah gentayangan ibu yang telah meninggal. Namun, sang ustaz tak bisa berbuat banyak dan akhirnya takluk oleh teror puluhan setan. Di lain pihak, unsur kesatuan keluarga diperkuat dalam film ini. Diberi doktrin untuk percaya bahwa jika keluarga bersatu, seluruh masalah (termasuk masalah teror setan) akan bisa dihadapi. Nyatanya, dalam eksekusi, nilai yang dijunjung tinggi dalam film ini seakan hilang begitu saja pada adegan klimaks. Ketika seluruh anggota keluarga dijemput dengan mobil oleh rekan ibunya, yang tak terlalu mereka kenal, mereka hampir tak melawan saat si anak bungsu ditinggalkan begitu saja. Diberi alasan, bahwa si anak bungsu itu “anak setan, bukan anak kalian,” lalu tak ada keluarga yang menyanggah pernyataannya. Mobil pun tancap gas, melunturkan nilai utama yang coba dijunjung film ini.

Pengaruh Pengabdi Setan (2017) pada Sebelum Iblis Menjemput (2018) dan Kafir (2018)
Setahun setelah Pengabdi Setan karangan Joko Anwar rilis, ada dua film horor menarik, yang kualitasnya ditilik oleh Festival Film Indonesia, yaitu Sebelum Iblis Menjemput dan Kafir: Bersekutu dengan Setan. Dalam Pengabdi Setan, Joko Anwar terlihat sangat mengedepankan sisi artistik film, dari kostum, latar cerita, hingga sinematografi. Singkat kata, Pengabdi Setan karangan Joko Anwar membawa angin baru terhadap dunia perfilman Indonesia, terutama film horor. Saat banyak tema film horor berkutat pada kenekatan remaja (mungkin imbas dari Jelangkung, 2002) dan ada juga yang kedepankan unsur erotis, gangguan keluarga dari makhluk halus seperti dalam Pengabdi Setan kembali jadi tema utama film-film horor saat ini. Pengaruh Pengabdi Setan dapat dilihat dalam dua film horor unggulan Indonesia tahun 2018, yaitu Sebelum Iblis Menjemput dan Kafir.

Sebelum Iblis Menjemput adalah film horor yang diproduksi dan didistribusikan oleh Netflix. Film ini disutradarai oleh Timo Tjahjanto, sutradara yang terkenal dari film Rumah Dara (2010). Dikisahkan seorang lelaki bernama Lesmana (Ray Shetapy) ingin menjadi kaya dan melakukan perjanjian dengan iblis. Ia pun harus memberi tumbal untuk kekayaannya, yaitu istrinya (Kinaryosih). Ia pun menikah lagi dengan mantan artis bernama Laksmi (Karina Suwandi) yang memiliki tiga orang anak. Berselang beberapa tahun kemudian, Lesmana diketahui telah memiliki anak bersama istri pertamanya, yaitu Alfie (Chelsea Islan). Alfie diberi tahu saudara tirinya, Maya (Pevita Pearce), untuk temui ayahnya yang terserang penyakit. Pertemuan Alfie dengan saudara dan ibu tirinya ternyata memiliki tujuan, agar Alfie bersedia jual vila ayahnya yang diwariskan kepadanya. Alfie pun mengunjungi vila ayahnya dan di sana ternyata ia kembali bertemu dengan ibu dan saudara tirinya. Perlahan terungkap rahasia ayahnya dengan iblis dengan banyaknya kejadian supernatural yang menimpa mereka.

sim-8
Samo Rafael, Hadijah Shahab dan Chelsea Islan dalam Sebelum Iblis Menjemput (2018).

Mirip dengan Pengabdi Setan, tokoh penyebab konflik dalam film Sebelum Iblis Menjemput, mengadakan perjanjian dengan makhluk supernatural untuk meraih kesuksesan. Hal yang sama lainnya, yaitu tumbal anak yang ingin ditagih oleh makhluk astral. Apalagi, film ini mengembangkan sisi artistik yang bagus, pencahayaan yang ciamik dan efek visual yang pas. Bagaimanapun, pembangunan teror dalam film ini kurang menyentuh. Ketakutan pada sosok Maya yang sudah dirasuki hantu dirasa bisa lebih mencekam lagi jika Maya bertindak lebih natural ketika kembali dari hutan. Teror iblis berkepala kambing di film ini juga masih setengah-setengah, hanya tampil malu-malu dalam sosok bayang-bayang. Pada akhirnya, akhiran film ini, yang sebenarnya lumayan kuat, menjadi sia-sia karena pembangunan konfliknya terasa tanggung dan canggung.

Sementara itu, Kafir coba tawarkan konflik lain. Film garapan Azhar Kinoi Lubis ini berkisah tentang sebuah keluarga yang baru saja kehilangan ayahnya. Sosok yang terkena dampak paling besar dari kejadian ini, yakni si ibu bernama Sri (Putri Ayudya) yang merupakan cinta sejati sang ayah. Termenungnya si Ibu hingga ia jatuh sakit berdampak pada kedua anaknya, Andi (Rangga Azof) dan Dina (Nadya Arina). Sakit Sri terasa janggal dan ia rasa mirip dengan penyebab kematian suaminya. Dokter tak bisa tangani, Sri datangi dukun dekat rumah, Jarwo (Sujiwo Tejo) dan diberi tahu bahwa ia disantet. Berhasil membuang santet, Sri minta Jarwo menyantet balik dan gagal. Jarwo pun meninggal. Sementara itu, Andi dan Dina coba mengupas masa lalu ayahnya yang menampilkan sisi kelam yang tak diduga.

putri-ayudya-nadya-arina
Putri Ayudya dan Nadya Arina dalam Kafir: Bersekutu dengan Setan (2018).

Masih berkutat pada teror mistis yang dialami keluarga, Kafir bisa dibilang membawa angin yang lebih segar dibanding Pengabdi Setan dan Sebelum Iblis Menjemput. Ini disebabkan oleh penulisan skenario lebih matang dari Rafki Hidayat dan Upi Avianto. Serangan psikologis si ibu yang kehilangan cinta sejatinya jadi pemicu. Namun, teror utama film adalah karma orangtua, ketidakmampuan ibu dan ayah hadapi masalah dengan baik pada masa lalu berimbas pada anak-anaknya. Misteri-misteri dalam film ini dikupas dengan hati-hati, tak terburu-buru dan dalam tempo yang pas. Belum lagi akting ciamik Putri Ayudya dalam memerankan Sri. Hanya saja, akting Nova Eliza dan Indah Permatasari pada adegan akhir masih kurang pas. Gestur kedua aktris yang memainkan sosok ibu dan anak ini terasa agak berlebihan dan memaksa.


Film-film Indonesia memang masih harus banyak berbenah lagi dan dari ketiga film ini, rasanya arah pergerakannya sudah cukup baik. Apalagi untuk film horor, eksplorasi genre film ini bisa jauh lebih luas dari film-film luar negeri dan bisa jadi salah satu keunggulan kita. Alasannya, latar belakang kepercayaan masyarakat Indonesia kepada hal mistis yang tinggi serta keberagaman kepercayaan spiritual yang dianut dapat menambah corak dunia film horor Indonesia.

Baca juga: Hidden Figures (2016) dan Bersinarnya Film-Film Kulit Hitam

Penulis : Muhammad Reza Fadillah
Penyunting : Anggino Tambunan