Review Film Knives Out (2019): Mahakarya Rian Johnson

0
561
Review Film Knives Out (2019): Mahakarya Rian Johnson

Rian Johnson, sutradara yang dikenal karena “menghancurkan” trilogi baru Star Wars dalam The Last Jedi, kini kembali untuk menghancurkan pikiran Anda. Dengan jajaran pemain yang dahsyat, Johnson bermain-main dengan ekspektasi penonton dalam Knives Out. Film terbaik tahun ini?

Sepak terjang Johnson di mata khalayak, terutama penggemar Star Wars, memang kurang baik. Sebabnya, apa yang ia lakukan dalam The Last Jedi kurang diterima para penggemar. Ia mengacak-acak karakter Luke Skywalker, yang tidak disukai oleh Mark Hamill, lalu memberikan pengaruh buruk pada film tersebut. Beban ini harus ia hadapi, terutama saat ia memproduksi film setelah itu, yaitu Knives Out.

Walaupun di mata khalayak kurang baik, rasanya Johnson tidak punya masalah mengumpulkan jajaran pemain terbaik untuk Knives Out. Lihat saja jajaran pemerannya, Ana de Armas, Daniel Craig, Chris Evans, Christopher Plummer, Jamie Lee Curtis, Michael Shannon, Katherine Langford, Jaeden Martell dan LaKeith Stanfeild. Dalam waktu tayang dua jam, akankah jajaran pemeran ini mendapatkan porsi yang pas?

Jelas, Johnson, yang juga menulis skenario film ini, pasti sangat bahagia melihat jajaran pemeran hebat seperti ini. Artinya, karakter-karakter yang ada dalam film ini harus kuat, harus memiliki hal spesial yang masing-masing \mereka bawa setiap kali mereka tampil. Anda percaya bahwa masing-masing aktor hebat di atas memiliki karakter unik dan mendapat porsi yang pas dalam waktu tayang, sekali lagi, hanya dua jam? Johnson mengakali hal ini dengan cerdas, atau bisa dibilang cerdik.

Christopher Plummer, Jamie Lee Curtis dan Michael Shannon dalam Knives Out (2019)

Knives Out berkisah tentang kematian janggal seorang ayah dan kakek bernama Harlan (Plummer) dari keluarga milyuner Thrombey yang membangun dinasti bisnisnya. Pasalnya, kejadian ini berlangsung seusai keluarga mereka berkumpul dan merayakan pesta ulang tahun Harlan. Belum lagi cara Harlan bunuh diri, ia menggunakan pisau dan memotong lehernya sendiri. Keluarga mereka pun diinterogasi polisi dan seorang detektif swasta terkemuka bernama Benoit Blanc (Daniel Craig).

Dari interogasi inilah karakter-karakter unik ini diperkenalkan dan para aktornya mendapat porsi yang pas untuk nantinya berperan saat narasi panjang dimulai. Menyaksikan interogasi ini membuat pikiran penonton lari ke mana-mana. Pasalnya, para karakter ini, yang merupakan keluarga Thrombey, bercerita melalui sudut pandang mereka. Lalu, ketika dikupas masalah sensitif, mereka menjawabnya dengan kebohongan. Pencarian kemungkinan adanya pembunuhan terhadap Harlan pun semakin sulit.

Film ini membuat pemain bermain-main dengan prasangka-prasangka mereka, mengira-ngira bahwa siapa yang membunuh Harlan. Saat penonton sedang mengira-ngira, jawaban konkret pembunuhan Harlan ternyata tidak sesuai dengan sebagian besar ekspektasi. Uniknya, Johnson mengupas kejadian kematian Harlan di tengah-tengah film. Lalu, apa yang akan ditayangkan film ini dalam setengah jam akhir?

Ketika film-film dengan genre serupa terlalu fokus dengan cara menumpas misteri cerita dan mencari akhiran yang absolut, Johnson masih terus bermain-main dengan penumpasan plot. Apalagi, fokus Knives Out bukan hanya menemukan kisah di balik kematian janggal Harlan. Dengan keunggulan karakter film ini yang begitu matang, ketika cerita sudah dirasa selesai, karakter-karakter ini bisa dimainkan. Saatnya mereka menunjukkan sifat asli mereka yang pada awalnya ditutup karena takut dituduh pembunuh.

Aksi Daniel Craig dalam Knives Out (2019)

Hal yang paling menyenangkan dalam film ini, yaitu tidak ada usaha untuk membohongi penonton dan menutup-nutupi cerita. Misteri dikupas secara perlahan, bahkan misteri besar ditaruh di tengah sehingga akhiran film ini tidak perlu menanggung beban yang terlalu berat. Jika dirasa penumpasan misteri yang terus-menerus dirasa membosankan, ada banyak selingan candaan dan tingkah laku karakter yang membuat nuansa film begitu asyik.

Untuk bagian akhir, memang masih ada beban yang mesti diselesaikan dalam waktu yang tidak singkat. Namun, akting brilian dari Craig sebagai Blanc akan membuat Anda begitu nyaman di bangku Anda. Perawakan Craig begitu baik, aktingnya sangat berbeda dari karakter-karakter film ia sebelumnya. Walaupun masih ada ketegasan yang biasa ia tampilkan, ada sisi kikuk yang membuat karakter Blanc begitu menarik, unik, dan orisinil.

Bukan hanya Craig, karakter-karakter unik dalam film ini diperankan dengan baik juga oleh aktor lainnya. Peranan Harlan memang rasanya diciptakan untuk Plummer, aktor yang biasa perankan orang tua aneh dan dapat begitu menguasai dirinya. Peranan De Armas sedikit berbeda dari pakemnya, ia jadi perempuan “biasa” dalam wujud Martha. Mengetahui De Armas yang biasa perankan wanita sensual, menjadi perempuan lugu yang baik hati tentu menampilkan fleksibilitas aktris ini. Bagi Chris Evans, kita akan mengenang kembali sosoknya yang biasa memerankan anak muda songong sebelum ia menjadi Captain America. Ini memang peranan standar Evans, tetapi ia sudah lama tidak berperan seperti ini.

Ada rasa bahwa Knives Out sangat efektif jika ditonton pertama kali karena penumpasan misterinya yang begitu menarik. Namun, ketika ditonton dua atau tiga kali, mungkin tidak sehebat yang pertama karena Anda sudah tahu apa yang akan terjadi. Bagaimanapun, tentu Anda tidak ingin melewatkan sensasi hebat seusai pertama kali menonton film yang layak disebut sebagai mahakarya Rian Johnson ini.

Infografis Review Film Knives Out (2019)

Baca juga: Review Film The Beatles: Eight Days a Week (2016)


Penulis: Muhammad Reza Fadillah
Penyunting: Anggino Tambunan